Mr. Lawyer Fatal Attraction

Mr. Lawyer Fatal Attraction
Part 34. Pops Up the Question


__ADS_3

Aku sampai ke Westbury, dengan baju pink santai. Pink entah kenapa aku menyenangi warna ini sekarang. Padahal dulu aku membencinya.


Jika dipikir kembali dalam tahap pencarian jati diriku, aku ingin terlihat seperti Ayah, seperti pria, warna favoriteku adalah hitam, aku akan menjadikan Addams Family dan Wesnesday Addams sebagai acuan favoritku, aku jelas membenci pink yang girly, jelas aku bukan pengemar Princess Disney yang berwarna warni.


Tapi sekarang, aku senang dengan pink, terutama pink dusty yang lembut ini, rasanya itu membuat perasaanku seperti berbaur dengan wangi mashmellow yang manis. Mungkin karena sekarang aku sudah nyaman dengan siapa diriku dan aku suka menjadi cantik.



Alma membukakanku pintu saat aku sampai ke sana.


"Nona, akhirnya kau datang lagi." Dia tersenyum lebar seperti matahari musim panas yang sudah berlalu.


"Aku ke sini untuk musim panen. Aku akan mengangkut semua hasil kebun kalian." Dia tertawa lebar.


"Kau boleh mengangkut semuanya, termasuk Sir Xavier. Ayo masuk Nona, Sir Xavier di kebun, kupanggilkan sebentar?"


"Tidak, jangan panggil dia." Aku masuk ke rumah.


"Kenapa?" Alma mengikutiku dengan heran. Sementara aku mencium lavender dan rose yang ditempatkan Alma di ruangan depan.


"Ini bagus sekali Alma. Kau punya lavender di kebunmu." Aku mengalihkan pembicaraan, sementara Alma mengekor di belakangku dengan tak puas.

__ADS_1



"Kenapa aku tak boleh memanggil Tuan." Dia masih mengejarku.


Aku ke sini bukan untuk mencari Xavier, tapi strawberry dan makanan." Aku mengedipkan mata ke Alma. Dia meringis dan bersungut mendengar kata-kataku.


"Baiklah-baiklah, kau kesini untuk strawberry dan makanan. Aku percaya itu." Alma tertawa. "Jadi kau akhirnya memutuskan menggoda Tuan Nona? Apa Tuan Xavier mengatakan sesuatu padamu? Ayo bicara padaku. Tak sia-sia rupanya aku jadi 'dating agency' kalian."


"Tidak, sayangnya dia tidak mengatakan apapun, tapi dia bersedia mengantarku, bersedia makan malam denganku. Tapi belum sampai pada tahap dia mengatakan sesuatu padaku. Yah tapi aku mengerti alasannya, Ayahku adalah kliennya, hubungan kami mungkin rumit untuknya."


"Yang penting kalian berdua punya harapan bukan. Bagian persetujuan orang tua bisa diusahakan nanti."


Alma tersenyum lebar padaku.


"Harus laki-laki yang mengambil inisiatifnya, aku mengerti apa yang kau minta. Ya baiklah, ini akhir pekan aku masak enak, aku senang hari ini ada yang membantu menghabiskan makanan. Kita ke dapur saja, lagipula tak lama lagi juga Sir Xavier akan ke sini untuk makan siang."


"Aku ke sini memang untuk makan." Aku tertawa dan menghabiskan waktuku dengan Alma. Ya walaupun tetap saja aku menunggu dia kembali. Sejam kemudian seseorang terdengar masuk ke rumah.


"Kau di sini." Dia masuk dengan baju basah keringat. Nampaknya dia benar sibuk di kebun.


"Hallo, Alma masak banyak. Aku bantu memastikan rasanya enak. Benar bukan Alma."

__ADS_1


"Ya..ya, benar." Alma membenarkan sambil menyimpan senyum.


Sir Xavier hanya tersenyum mendengarnya. Gayanya yang sok cool ini membuatku mati kutu. Kau merencanakan plot melawannya, dia akan berlagak membenarkan semua tindakanmu seakan itu tidak ada yang salah dan tak ada pengaruh untuknya. Dia berlagak aku datang ke sini dan tidak mencarinya dia akan baik-baik saja. Tapi dia bertanya apa aku akan ke sini semalam, dasar jual mahal. Setidaknya katakan sesuatu padaku.


"Baiklah, aku mandi dulu kita makan siang nanti." Dia menghilang dari pandangan kami ke kamarnya.


"Bossmu itu terlalu percaya diri."


"Dia jelas menyukaimu Nona, kalau tidak dia tidak akan setenang itu jika kau datang. Jangan berharap dia merayumu Nona, dia seperti tidak memperhatikanmu, tapi dia mengajakmu makan siang, artinya dia menganggap tak apa kau disini, kurasa orang seperti Tuan tidak bisa merayu. Dia tipe yang terlalu serius."


"Hmm, jadi menurutmu apa yang harus kulakukan."


"Bicaralah dulu dengannya." Aku langsung menggeleng


"Tidak, dia yang harus bicara dulu. Itu prinsip, jangan pengaruhi dia supaya bicara apapun Alma, dia harus mengatakannya sendiri. Aku tak akan maju selangkahpun dari ini sekarang. Jika dia tidak memintaku kesini lagi aku tak akan kesini nanti."


"Jangan berkata begitu Nona." Alma protes dengan caraku.


"Aku akan begitu. Sudah kubilang setelah ini dia yang harus melakukan sesuatu, dan kau tak boleh mengatakan sesuatu tentang itu, harus dari dia sendiri. Berjanjilah padaku Alma." Sekarang giliranku bersungut-sungut.


"Kenapa aku tak boleh membantu mendorongnya Nona?"

__ADS_1


__ADS_2