
POV Allison
Tak kusangka Xavier sudah menyiapkan hal ini. Dia memang cepat berpikir. Kemarin dia bilang sedang menyiapkan sesuatu untuk melawan Oscar Haugen ternyata ini yang dia siapkan.
Mendengar kata-kataku Mom merenung. Aku tahu harapannya hancur tapi ini kenyataan yang harus dia terima. Pria kaya, tampan, hampir berarti dikejar banyak wanita. Jika kau mau jadi pacarnya atau istrinya sekalipun berarti kau harus bertahan mungkin dia baru bertemu yang lain.
"Sudahlah Mom, kita selesaikan saja di sini oke. Tak usah melihat ke Oscar Haugen lagi. Bilang saja, kau tak berdaya mengubah pendirianku. Jika kau ingin melempar foto ini padanya sihlakan, tapi kita sebaiknya tak usah mencari masalah yang tak perlu." Aku duduk bersama Mom disampingnya.
"Kenapa semua pria tampan itu brengsek." Sekarang Mom memakai kalimat yang sama denganku.
"Sudah hukum alamnya kukira Mom." Aku tersenyum padanya. "Ya mungkin tidak semua, tapi sayangnya yang kutemukan adalah begitu. Kita tak usah memperdebatkan itu lagi. Aku akan menolak proyek dari Oscar. Dia sangat menyebalkan menurutku. Sombong, tinggi hati, gampang tersinggung. Aku menolaknya dengan halus Mom..." Kuceritakan apa yang terjadi saat aku bertemu dengannya untuk kedua kalinya bahkan aku minta maaf padanya. Baru kali ini aku bisa bercerita kepada Mom soal ini.
"Jadi begitu, Mom menyangka dia benar-benar menyukaimu. Maafkan Mom sudah menjadi begitu bebal belakangan tidak mendengarkanmu sama sekali." Sekarang kami berdamai. Xavier tersenyum melihat kami. Dia sudah memikirkan ini untuk menyelesaikan masalah kami untunglah.
"Xavier, aku minta maaf sudah menyudutkanmu." Ibu juga minta maaf ke Xavier akhirnya semua hal berakhir damai sekarang.
"Tak apa Nyonya, saya mengerti pertimbangan Nyonya sebagai orang tua. Tugas saya adalah memberi bahan pertimbangan lainnya."
"Kalian berdua, ya Mom hanya bisa berharap kali ini kau bertemu orangnya. Terserah padamu Allison, maaf memarahimu kemarin..."
"Tak apa Mom, yang penting kita tak akan membicarakan Oscar Haugen lagi bukan."
"Ya anggap saja dia tak ada, tenang saja Mom tak akan mengungkit ini lagi." Aku dan Xavier tersenyum, akhirnya masalah Oscar selesai juga bagi kami. Dia tak akan bisa menggangu kami lagi melalui Mom.
"Dad tahu Mom ke sini?" Mom diam sebentar. Tebakanku pasti tidak.
"Ayahmu sedang di luar kota. Mom mengambil kesempatan untuk menemuimu."
"Ya sudah kalau begitu karena Mom sudah di sini bagaimana jika kita makan malam bersama?"
"Tentu saja baiklah. Kali ini Mom yang traktir permintaan maaf ke Xavier." Xavier tertawa.
"Nyonya , saya yang harus membayar makan malam ini sebagai hukuman saya membuat Nyonya khawatir. Izinkan saya untuk melakukannya."
Mom tersenyum, nampaknya sekarang dia bisa memberi kesempatan pada Xavier.
Aku senang semua berjalan lancar sekarang. Kami melewatkan makan malam dengan menyenangkan.
🌸🌸🌸🌸🌸🌸🌸
Ada pesta akhir tahun di NYC untuk pendonor partai sebelum semua orang masuk ke liburan Natal dan tahun baru. Aku dan William sepupuku seperti biasa mendapatkan undangannya. Kali ini dia tak pergi aku mengajak Xavier.
Kata Mom beberapa kali Oscar meneleponnya dan Mom kebanyakan menghindarinya dengan mengatakan aku tak bisa dihubungi dan kami sedang marahan.
Dia pastinya puas aku dan Mom di posisi bertengkar satu sama lain dan sekaligus kami bisa menghindari masalah yang akan ditimbulkan olehnya. Biarkan saja masalahnya tergantung, nanti dia akan lelah sendiri dan meninggalkan masalahku.
Tapi ternyata harapanku tak semudah yang terjadi. Petang itu pesta akhir tahun meriah, Xavier tentu saja senang dia bisa ikut dia bisa memperkenalkan dirinya ke lebih banyak orang.
"Kau tak pernah ke pesta seperti ini?"
"Pernah tentu saja, kadang di Washington DC atau di NY, kadang Ayahmu membiarkan aku ikut jika dia punya partner lowong."
"Ohh oke. Aku tidak mendapat undangan dari Ayah tapi dari perusahaan kami yang memang donatur. Kebanyakan aku yang harus pergi karena William jarang bisa karena kesibukannya di internal perusahaan."
Kami masuk ruang pesta. Berbaur dengan banyak orang, aku memperkenalkan orang yang kutahu ke Xavier dan dia memperkenalkan yang dia tahu. Menyenangkan berjalan bersamanya.
"Allison Austin, ternyata kita bertemu lagi." Aku menoleh, dari suaranya aku tahu siapa yang menyapaku, kenapa bangs(at ini harus ada di sini.
"Oscar."
"Kau bahkan menolak mengerjakan apartmentku, kau sungguh sombong." Setelah merasa Ibuku tak bisa memaksaku nampaknya dia kehabisan cara karena aku sama sekali tidak bisa dipaksa untuk merasa untuk terganggu.
"Sudahlah Oscar. Kita tak usah bersinggungan lagi satu sama lain."
"Ini kekasihmu. Aku tak mengenalnya. Kau bilang dia orang hukum, siapa dia, hakim, jaksa penuntut atau pengacara? Boleh aku tahu namamu Sir."
__ADS_1
"Xavier Hancoc*k, aku pengacara."
"Tuan Xavier, kau mendapatkan hati Nona Allison. Kau hebat sekali, kau punya pesawat pribadi untuk membeli hatinya."
"Yang jelas aku tak punya sifat sombong, tukang pamer dan bebal yang dia tak suka." Xavier memang tahu bagaimana meladeni perang mulut.
"Pegawai rendahan, kau makan uang klienmu dengan membohongi mereka atau kau masih pengacara kecil sehingga Nyonya Austin menentang kalian. Sungguh Allison tak punya masa depan denganmu. Dasar pecundan*g pengemis klien. Kau tak punya hak masuk ke pesta seperti ini. Kau harusnya sadar tempatmu dimana." Dia membalas Xavier dengan perkataan tanpa jeda.
"Ayahmu tak pernah menyarankan untuk bersikap sopan kepada orang lain. Kerjamu hanya meremehkan orang saja dengan memamerkan warisan Ayahmu." Seorang menjawab perkataan Oscar, membuat aku dan Xavier menoleh ke arah suara.
"Tuan Jefferson. Anda di sini juga."
"Sayang, ini Adams Jefferson salah satu klienku. Tuan Adams ini Allison Austin, putri Lyold Austin, dia adalah salah satu pendonor juga." Xavier mengenalkanku ke Tuan Adams, tapi aku sepertinya sudah pernah bertemu dengan orang yang menduduki peringkat ke 5 orang terkaya di US ini. Rupanya dia klien Xavier.
"Aku tahu Allison aku sering melihatnya, aku tak menyangka kalian kekasih."
"Tuan Jefferson, senang melihat Anda lagi." Kami menyalaminya.
"Dan aku baru melihat kau baru-baru ini. Kau anak Sir Haugen bukan. Ayahmu saja tak pernah meremehkan orang secara langsung. Kau meremehkan profesi orang lain di depan mukanya, di acara umum secara terang-terangan . Anak yang mewarisi piring emas merasa dirinya lebih tinggi dari yang lain. Sungguh lucu..." Sekarang anak yang punya piring emas ini mendapatkan lawannya. Dia tahu siapa Adams Jefferson mukanya meme*rah saat orang tua itu menudingnya terang-terangan.
Tuan Jefferson menatap Oscar dengan meremehkan. Dia tidak bisa berkutik membalas apapun sekarang. Jelas saja bagaimanapun sekarang dia kalah.
"Saya pergi saja." Sudah kepalang malu, akhirnya dia pergi.
"Sir, terima kasih sudah memberi pelajaran padanya. Sebenarnya dia dendam padaku karena aku menolaknya dan memilih Xavier."
"Ohh benarkah, jelas pilihan yang bagus daripada anak manja dan playboy kaya itu." Semua orang tertawa.
Tapi ternyata persoalan belum selesai sampai disini saja. Saat kami keluar gedung rupanya masih ada episode lanjutan dari masalah ini.
"Kalian buru-buru sekali. Mau kencan?" Xavier menghela napas melihat siapa yang menunggu di bagian luar gedung saat kami mengambil menuju parkiran mobil di basement. Rupanya dia menyuruh orang mengikuti kami ke parkiran.
"Kau membawa tukang p*ukul?" Aku meringis melihat ada tiga orang yang menunggu kami. Sungguh keterlaluan anak manja ini.
"Kau tak takut kulaporkan ke polisi."
"Ahh ini hanya sedikit berke*lahi karena pera*ng mulut, bayar jaminan sedikit dan selesai. Bukan sekali aku berkel"ahi. Pengacara bisa mengurusnya dengan mudah. Benar bukan Tuan pengacara."
"Benar." Xavier malah membenarkan. Tapi bersamaan dengan itu aku melihat kesempatan untuk menghajar orang. begitu, jadi ini hanya sedikit berkelahi, bayar jaminan dan selesai. Itu kasus paling parah. Benar sayang."
"Benar." Dia menjawabku ringan.
"Kau yakin?" Aku bertanya sekali lagi.
"Yakin, itu ada CCTV, siapa di sini yang bawa tukang pukul. Mereka yang mulai duluan. Mau di bawa kemanapun itu akan masuk ke ranah pembelaan diri. Kita yang menang. Lagipula memang yah ini kasus tak mungkin masuk penjara." Dia menjelaskan dengan lancar.
"Kalau begitu kau tahan tiga tukang pukul itu sedikit aku akan menghajar anak manja itu." Aku berbisik padanya.
"Aku tahu kau akan berkata begitu. Ya baiklah. Aku punya es batu siap sedia. Kunci dia supaya menyerah, kau bisa? Pegang kepa*la ularnya."
"Aku bisa." Berkelahi memang bukan keahlian kami tapi kalau cuma menghajar anak manja itu aku bisa melakukannya. Tapi untuk bertahan dengan tiga tukang pukul itu agak berat bagi Xavier yang latihannya tidak rutin sama sepertiku.
"Kalian sudah selesai bicara, mau lari? Sayangnya tidak bisa, Allison tersayang kau lihat saja orangku menghajar kekasihmu ini. Tapi sudah kubilang jika kau bersedia ikut aku ke Karibia maka dia akan kulepaskan."
"Kau boleh pulang, tidur dulu, lalu mimpikan itu." Aku sudah langsung menggosok bog*em untuk mengurus anak manja ini.
"Ohh, baiklah jika itu yang kau minta. Haj*ar pria itu!" Satu detik Xavier mundur ke arah lain untuk memberi jarak tiga pria itu mengejarnya. Aku langsung merangsek ke anak manja itu.
"Sini kau." Bog*em sekuat tenaga itu menemui sasarannya.
Buku jariku langsung beden*yut sakit ketika tanganku menghantam raha*ngnya. Dia terlempar ke belakang. Dia yang tak menyangka dalam waktu dekat aku akan menyerbu nampaknya tidak bisa mengelak.
Dia masih tersungkur di aspal. Aku langsung menyerbunya, kudud*uki dia kupit*ing lehe*r dengan kakiku dan tangannya kubawa ke belakang sampai dia berter*iak kesak*itan, dengan mukanya masih menghantam aspal. Aku tahu kami berdua pasti kalah dengan tukang pukul itu. Tapi jelas kami bisa mengincar anak manja ini dengan mudah. Yang ini sekali pukul langsung KO, dasar lemah!
"Kalian memukul kekasihku terus tangannya kupatahkan." Orang-orang yang mengero*yok Xavier langsung berhenti dan melihat ke arah kami.
__ADS_1
"Sh*it." Aku mengunci tubuhnya dibawahku dengan mendudukinya. Gaunku berderak ro*bek karena itu dan heelsku yang untungnya tak terlalu tinggi itu patah.
"Kau menyob*ek gaunku. Kau merusak sepatuku. Ban*gsat!" Kutamp*ar kepalanya karena kesal tapi jelas tiga orang itu berhenti mengha*jar Xavier.
"Bangs*at kau Allison."
"Kau yang bangsat!" Sekarang aku yang menganiayanya.
"Kau baik sayang?" Aku bertanya kepada Xavier.
"Baik. Tak ada yang masuk." Berarti dia bisa melindungi kepalanya walaupun lengannya pasti memar-memar nanti.
"Kau tak tahu gadis mana yang kau ajak berke*lahi bodoh? Aku dilatih Marine dan Green Baret, Ayahku sendiri pasukan operasi Khusus, kau pikir kau mudah mengalahkan putrinya. Anak manja!" Kuja**mbak rambutnya dan kubenturkan k*epalanya ke aspal sedikit. Bukannya rasanya enak. Dia menyum*pah tapi tak bisa bergerak.
"Hei, nona!" Tiga orang itu merangsek maju. Tuannya dianiaya jelas saja mereka maju.
"Kupatahkan jarinya! Coba berani maju?!" Langkah mereka langsung terhenti.
"Kalian kau tahu siapa itu, anak Secretary Defence, kalian mau hidup kalian diburu agen rahasia." Xavier menarik lepas dasinya, lega karena situasi sudah terkendali. Semua dari mereka berpandangan sekarang. "Kau, panggil keamanan!" Dia memerintahkan memanggil keamanan gedung dengan itu kami bisa pergi dengan aman.
"Panggil keamanan, atau kuhajar lagi dia." Kutam*par lagi kepalanya Oscar.
"Panggil keamanan!" Akhirnya Oscar yang memerintahkannya sendiri.
"Kau pintar juga." Aku mengelus kepalanya. Xavier menahan tawa melihat apa yang ku lakukan.
Satu tukang pukul itu pergi dengan cepat memanggil keamanan gedung. Aku dengan tenang menunggu sambil tetap menduduki Oscar. Sementara dua orang tukang pukul lainnya melihat dengan prihatin kondisi bosnya itu.
"Kalian maju selangkah ke sini aku tinggal patahkan tangannya oke. Dia jadi tak bisa meme*luk gadis-gadis pas liburan ke Karibia. Kalian mau disalahkan olehnya karena dia tak bisa meniduri gadis-gadis? Kau mau Oscar sayang?"
"Kalian jangan maju!"
"Anak baik. Jangan khawatir, kudoakan kau terkena syp*hilis karena terlalu sering ganti tempat." Dia menyumpah panjang pendek dengan bahasa yang tak usah kusebutkan tapi jelas siapa yang berkuasa di sini.
Tak sampai dua menit ku kira dua orang keamanan datang.
"Apa yang terjadi di sini." Keamanan yang datang melihat posisi kami yang luar biasa.
"Sir, orang itu membawa tiga tukang pukul ini untuk mengha*jarku. Kekasihku menghajar orang itu dan mereka tidak berani bergerak, kami minta Anda membantu kami pergi dari sini."
"Apa benar?" Keamanan itu entah bertanya padaku atau ke Oscar, tapi kutempeleng kepalanya untuk membuatnya mengaku.
"Dia bertanya padamu! Apa kau tuli!? Suruh anak buahmu itu mengaku juga."
"Iya benar!"
"Itu yang terjadi." Tiga orang yang lain langsung mengaku. Dua orang keamanan itu berpandangan satu sama lain.
"Kalau begitu kami akan membantu Anda Nona." Sekarang aku mendapatkan jaminan keamananku. Aku melepaskannya.
"Sekali lagi kau mencoba, kau akan di gips di suatu tempat, kau mengerti."
"Iya aku mengerti."
"Anak baik." Aku senang dia membayar akibat perbuatannya malam ini.
"Ayo sayang." Xavier menarikku berdiri.
"Gaun dan sepatuku rusak." Aku mengeluh melihat jahitan gaunku retas dan tak bisa dipakai lagi. Dan salah sepatu andalanku heelsnya patah.
"Nanti kubelikan baru." Aku langsung tersenyum. "Putri Lyold Austin memang tak diragukan bisa menghajar orang." Sekarang Xavier memujiku, tentu saja tanpa keahlianku dia sudah di posisi babak belur saat ini.
"Tentu saja, kau pikir nama Austin itu kupikul tanpa beban apapun."
Kami pergi dengan aman kemudian dengan bantuan petugas keamanan.
__ADS_1