Mr. Lawyer Fatal Attraction

Mr. Lawyer Fatal Attraction
Part 47. A First Date?


__ADS_3

Ternyata makan malam semalam memang hanyalah makan malam. Dia tidak berusaha merayuku. Mungkin dia tahu itu tidak akan berhasil. Aku suka kenyataan bahwa dia tidak berusaha dan kami melewati saat-saat damai dan berarti ke depannya pembangunan hotel akan berjalan dengan lancar.


Sekarang aku merindukan teman tersayangku. Apa yang sedang dia lakukan.


"Xavier, aku boleh ke Westbury hari minggu."


"Datang saja, tak ada yang melarangmu."


"Hmm... tak bisakah kita jalan-jalan?" Sekarang aku akan memperlakukannya sebagai teman mesra. Karena sesi teman baik sudah selesai, kita harus meningkatkan tekanan.


"Jalan-jalan kemana?"


"Nonton film?"


Dia berpikir sebentar. Nonton film saja membuatnya berpikir panjang.


"Nonton film apa?"


"Kita lihat saja yang ada nanti." Tentu saja film horor. Otakku memikirkan yang bisa kulakukan dengan film horor. Ini akan jadi hal yang lucu dan bisa kutertawakan. Aku ingin tahu bagaimana reaksinya.


"Oke. Sampai ketemu besok minggu. Sabtu aku harus bekerja." Aku langsung menutup teleponnya, tak memberi dia kesempatan untuk menolak.

__ADS_1


Dia tak menolaknya kemudian. Aku tiba Minggu siang di Westbury, dia bisa saja tidak memberiku kesempatan , tapi aku akan memaksanya dengan rayuan.


Alma melihatku datang dengan senyumnya seperti biasa.


"Nona kau sudah beberapa minggu tak ke sini."


"Iya Alma, aku sibuk di akhir tahun ini. Bahkan beberapa proyek baru akan mulai. Oh ya di mana Tuanmu?"


"Kurasa hari ini sedang panen Halloween pumpkins, tidak banyak tapi kami tetap menjualnya. Tadi aku melihat mobil bak terbuka datang." Oh ya sudah akhir September.


Aku menunggu sebentar ketika Alma memberitahunya aku datang. Sudah hanpir dua minggu aku tak bertemu dengannya, walaupun bisa menelepon dan berkirim pesan, tetap tak sama rasanya jika bertemu langsung.


"Hi, ..." Aku menyapanya duluan.


"Lumayan, kata Alma kau panen labu Halloween?"


"Iya, cuma sedikit, tapi toko dan restoran yang mengambil hasil panen tetap menginginkannya."


"Kita jadi nonton bukan?"


"Iya baiklah. Aku ganti baju dulu oke. Kau ingin makan siang dimana?" Tak kusangka dia melunak. Kupikir dia akan menyiapkan suatu alasan yang membuat kami tak jadi pergi.

__ADS_1


"Di sini boleh, tapi kau harus mengajakku makan malam di luar nanti." Dia meringis. Apa dia tidak setuju?


"Iya baiklah." Aku hampir menyangka jawabannya tak serius.


"Iya?"


"Iya. Tunggu aku mandi dan berganti pakaian dulu." Xavier berbalik pergi.


Aku menatapnya dengan pandangan tak percaya.


Kurasa aku salah dengar tapi dia memang mengiyakan permintaanku dengan mudah. Apa dia tidak salah? Kenapa dia tiba-tiba menyetujui ajakan teman mesra ini dengan mudah. Ini adalah seharian bersamaku. Padahal sebulan yang lalu dia masih menolakku dan memberi batasan.


Aku gembira tentu saja walaupun aku masih heran. Apa sekarang kami boleh berpegangan tangan. Atau aku harus mencuri pegangan tanganku di bioskop agar tak canggung jika aku memulai duluan. Lebih baik aku memulainya di bioskop. Mungkin jika dia tidak mau horror, film action juga tak apa. Aku akan bisa menemukan caranya di sela film action.



Aku merapikan dandananku, sekarang aku merasa di tengah kencan pertama yang mendebarkan. Apa benar ini terjadi, pengacara tersayangku ini bersedia diajak kencan, apa dia menganggap ini kencan. Atau hanya aku yang berpikir ini kencan.


Satu hal aku masih tak berani terlalu frontal. Harus dari dia itu tetap aturannya.


Aku sudah berdandan cantik hari ini, pikiranku bermain sendiri. Sesaat kemudian dia keluar, dia memakai t-shirt ketat pas badan dan membawa jas casual. Dia mengimbangi penampilanku. Jadi ini mungkin kencan pertama? Kenapa dia berubah pikiran membiarkanku mendekatinya.

__ADS_1


Benarkah dia berubah pikiran? Kami akan seharian bersama, apa aku boleh mengandeng tangannya.


__ADS_2