
Hampir terloncat dari meja kerja karena mendengar pintu terbuka. Aku masih berada di apartmentnya tapi bisa menyelesaikan pekerjaan di sini.
Dengan cepat aku keluar dari ruang kerja nyaman itu dan menemuinya. Dia tersenyum melihatku keluar dari ruang kerja. Tapi lebih dari itu dia menegang buket bunga di tangannya.
"Itu bunga untuk siapa." Aku langsung tersenyum lebar.
"Untuk kekasihku yang lain." Jawabannya membuatku tertawa. "Memangnya ada orang lain di rumah ini "
"Ada acara apa kau membelikanku bunga? Ini cantik."
"Aku harus bersaing dengan Tuan Superyatch, setidaknya aku harus melakukan sesuatu." Buket rose cantik warna warni itu sampai ke tanganku. Dan bersamaan dengan itu dia memeluk pinggangku.
"Rupanya ada yang cemburu punya saingan. Terima kasih." Aku mencium kecil pipinya, yang membuat dia tersenyum senang. Tapi dia sudah pulang, apa hasil pembicaraannya dengan Ayah aku ingin mendengarnya. "Tuan Pengacara Tersayang, apa yang Ayahku katakan?"
"Hmm...dia menyetujui kita. Aku tak menyangka semudah itu."
"Sudah kubilang dia terlalu banyak berpikir." Dia diam melihatku. Entah apa yang ada dalam pikirannya.
__ADS_1
"Iya aku berpikir terlalu banyak. Terima kasih, sudah memilihku, menarikku untuk sampai ke titik ini. Belakangan ini aku rasanya terlalu nyaman sendiri sampai kau datang dan muncul di depanku. Aku sering bertanya apa yang kau cari padaku. Aku hanya punya kebun buah di Westbury. Apakah sepetak kebun bisa menang dari superyatch. Ini tak masuk logika..."
"Cinta tak perlu logika. Yang perlu adalah kau cinta padaku dan aku cinta padamu." Xavier menghela napas dan memelukku.
"Baiklah, anggap saja kau benar. Cinta tak perlu banyak logika."
"Apa lagi yang Ayah katakan."
"Tidak banyak, yang terpenting adalah aku harus menjagamu. Dan tahun ini aku harus segera memulai kampanye menjadi senator dan memperluas kontak langsung pada masyarakat. Ada banyak uang akan dicurahkan pada program baru."
"Iya. Tapi masih ada tugas untuk meyakinkan Ibumu nanti. Tapi Ayahmu yang paling kuharapkan persetujuannya sudah memberikan lampu hijau, itu sangat melegakan."
"Semua kemajuan ini berkat Iblis David Montgomery, kau harus berterima kasih padanya." Dia langsung tertawa dengan kata-kataku.
"Kau benar. Bangsat itu juga belum menemukan seorangpun karena dia terlalu senang bermain-main dengan wanita. Dia tinggal duduk di bar sendiri jika membutuhkan kencan dan seseorang akan datang menyapanya."
"Dia benar-benar tak punya pacar tetap?"
__ADS_1
"Dia... sebenarnya punya trusts issues dengan wanita. Ibunya dulu pergi saat dia dan Ayahnya bercerai. Dan jarang melihatnya lagi. Dia semacam tak percaya pada wanita dan mungkin menurutku karena caranya mencari wanita itu, dia terperangkap dengan banyak wanita yang tak benar, dan perilakunya buruk. Itu membuatnya semangkin tak percaya pada mahluk bernama wanita."
"Benarkah? Jadi begitu..." Ternyata dibalik sikapnya yang benar-benar berandalan itu ada luka yang mempengaruhinya.
"Lalu dia tinggal dengan siapa saat Ibu dan Ayahnya pergi. Dia pernah tinggal dengan nenek Ayahnya, Bibinya dan yang terakhir ini adalah Pamannya yang juga bercerai dan tak punya anak. Dia adalah pewaris sah Pamannya. Ayahnya punya keluarga lain. Dia tidak suka membicarakan keluarganya, yang dia hormati sekarang adalah Pamannya dan dia bekerja keras untuk membantu Pamannya yang sudah membawanya keliling dunia sejak umur 12 tahun."
"Mungkin dia perlu bertemu wanita malaikat untuk memperbaiki hatinya."
"Entahlah, aku tak tahu apa ada wanita yang bisa menaklukan hatinya. Tapi yang membuatnya sebal dan dia membencinya jelas ada. Wanita di kantornya dia menyebutnya sebagai penyihir. Dia sering bertengkar dengannya."
"Ohhh aku pernah bertemu dengan wanita itu, namanya Carla. Dia memanggil David ****hole dan memakai kata f*uck you di depan muka David. David tak bisa membalasnya karena wanita itu punya posisi setara dengannya."
"Iya, namanya memang Carla kau benar."
Aku baru tahu latar belakang tragis Iblis itu. Sakit hati kepada Ibu dan keluarga sendiri, berujung hidup yang nampaknya membenci wanita dan menjadikan wanita sebagai pelampiasan masa lalu.
Itu menyedihkan, kepahitan hati yang masih terbawa sampai sekarang.
__ADS_1