Mr. Lawyer Fatal Attraction

Mr. Lawyer Fatal Attraction
Part 40. My Dear Lawyer Friend


__ADS_3

Aku bertemu Cindy di lobby. Dia melihatku dengan pandangan kesal. Dan aku tersenyum lebar padanya. Tentu saja aku akan mendatanginya sekarang.


"Kau nampaknya punya nasib sial saat bertemu denganku." Aku tertawa melihat wajahnya yang melihatku penuh kekesalan.


"Tak usah sombong. Firma kecil seperti kalian yang bahkan tak bisa membangun jembatan 100 meter tak layak sombong." Dia masih punya amunisi untuk membalikkan omonganku.


"Kau bilang itu kecil tak apa, aku pemiliknya. Aku mampu mengalahkan kalian. Ahh sudahlah... Seperti katamu, kita beda level. Bye Cindy, jangan terlalu kesal, nanti mungkin kau bisa mengurus lighting di bawah jembatan." Aku tertawa dan meninggalkannya dengan pisau tertancap di jantungnya.


"Paman, kau tahu aku mendapatkan proyeknya! Proyek Hotel Cullerton Paman!" Aku terlalu senang saat keluar dari meeting. Sampai tak sadar berteriak padanya.


"Benarkah? Kau sudah pasti?! Bagaimana kau bisa dapat proyek sebesar itu? Kau bilang kau bahkan melawan firma Gensler dan Holmes Design?" Michael Austin, Pamanku sama tak percayanya denganku, aku bahkan merasa aku bermimpi hari ini.


"Kita perlu investasi dengan peralatan baru dan penambahan orang di workshop segera. Tapi kurasa kita tidak bisa menghandle ini sendirian, aku akan menghubungi temanku untuk mengurus sisanya.


"Kau benar paman, workshop kita belum sanggup mengurus ini sendirian. Aku juga berpikir sama."


Hari itu penuh dengan pembicaraan awal kemudian, sepupuku lebih tak percaya lagi denganku.

__ADS_1


"Kau yakin Allison? Kau sudah dapat kontraknya?"


"As*shole, kau pikir aku mengarang cerita fiksi? Besok kita akan bicarakan kontraknya, jam 10 ikutlah besok." William sepupuku sudah seperti kakakku. Karena aku anak tunggal dia yang jadi kakak untukku.


"Aku tak tahu kau sehebat ini. Kau bahkan bisa menendang Gensler dan Holmes. Tak sia-sia aku jadi mentor pribadimu dan memberimu contekan selama kuliah. Kau memang tambang emasku." Bangsat ini mengatakan aku tambang emasnya, dia memang sepupu kurang ajar.


"Kau tahu ini sepenuhnya proyek keberuntungan, tiba-tiba surat undangan datang kepada kita. Padahal portofolio kita kebanyakan hanya fokus di hunian pribadi. Kenapa mereka mengundang kita. Dan sekarang kita menang."


"Kau harus mengatur kepala proyek sekarang. Kau punya banyak pekerjaan setelah ini."


Aku begitu senang hari ini sehingga aku merasa harus pergi merayakannya, tapi pekerjaan segunung masih menungguku tak ada waktu merayakan. Pertemuan lanjutan harus di lanjutkan besok.


Aku tak punya waktu merayakan apapun.


Aku sampai lupa mengirim pesan ke 'teman tersayangku' beberapa hari ini. Tapi, hari ini aku menyempatkan waktu mengajaknya makan malam.


Aku meneleponnya, dia mengangkatnya tanpa perlu menunggu lama.

__ADS_1


"Tuan pengacara tersayang, bagaimana kalau makan malam." Dia menanggapi panggilanku dengan tertawa.


"Nampaknya ada yang senang hari ini."


"Aku baru lulus tender proyek besar. Terbesar yang pernah ku kerjakan. Aku bahkan lolos melawan Gensler, dan Holmes. Bisa kau bayangkan. Taruhanku pada si tua itu ternyata berhasil... Aku ceritakan padamu detailnya nanti. Makan malam denganku oke."


"Baiklah. Dimana?" Dia menerimanya dengan mudah.


"Sushi bar yang biasa?"


"Oke. 7.30."


"7.30"


Tuan pengacara tersayangku ini aneh, dia menolakku tapi mempersihlakan aku untuk datang ke rumahnya kapan saja, menerima ajakan makan malam dengan mudah.


Sebenarnya apa yang dia mau.

__ADS_1


__ADS_2