
POV Xavier
Sebenarnya apa yang gadis cantik itu pikirkan. Kupikir dia akan menangis lalu pergi dari sini dan masalahku selesai. Sekarang setelah aku menolak menjadi kekasihnya dia berlagak seolah tak ada apapun yang terjadi barusan. Malah dia pergi mencari Salma...
Aku salah semalam, terlalu terpesona dengan tatapannya. Hubungan kami tak akan berhasil, aku hanya mencari masalah jika berani berhubungan dengan anak Lyold Austin, list pacar tuan putri itu mengagumkan. Dia hanya mencari pelarian denganku, dan segera akan bosan. Dan aku tak mau terlibat rollercoaster perasaan dengannya, kupikir rencanaku berjalan baik tadi.
Tapi ini diluar dugaan...
Kuabaikan dia, aku mengerjakan sesuatu di ruanganku sampai sore. Mungkin dia nanti minta pulang, aku tak tega harus mengusirnya. Mungkin setelah diabaikan beberapa lama dia akan memutuskan mundur sendiri, atau ada pria lain yang menarik perhatiannya.
Suara tawa Alma dan Allison terdengar dari kamarku. Gadis itu aneh, dia bisa berteman dengan siapa saja bahkan Alma dan Salma. Kupikir seorang putri Lyold Austin akan memilih dengan siapa dia terlibat, tapi rupanya dia bukan orang yang 'sempit'.
Suara ketukan di pintuku.
"Masuk Alma." Kurasa Allison tidak akan datang ke sini bukan?
"Sir, Nona Allison bilang dia akan pulang. Dia bilang terima kasih buat panennya. Tapi Nona membayar kami dia tidak mau menerima gratis. Anda mau menemuinya? Jika Anda sibuk dia bilang tak perlu mengantarnya.
"Aku akan menemuinya." Bagaimanapun aku ingin dia tidak melanjutkan ini, aku tak bisa begitu tega untuk bersikap kasar padanya. Aku menawarkan teman kihara dia bisa mengerti.
__ADS_1
Aku beranjak ke ruang tengah. Melihatnya sedang memasukkan beberapa kantong yang kurasa isinya apel, cherry dan strawberry. Warna bajunya itu hampir sama dengan bunga cherry. Dia cantik dengan baju apapun kurasa ...
"Xavier, aku pergi dulu, aku harus menyelesaikan pekerjaan untuk besok malam ini. Alma terima kasih."
"Iya Nona, nanti kau harus ke sini lagi."
"Iya kuusahakan jika aku tak banyak pekerjaan oke." Dia beranjak aku membawakan kantong buahnya, setidaknya kuantar dia ke mobil.
"Terima kasih."
"Ada pertemuan klien besok?"
"Soal tadi siang..." Sebelum aku menyelesaikan kalimatku dia sudah memotong.
"Teman ya teman aku tak masalah dengan itu. Sampai jumpa." Dia mengambil bungkusan buah dari tanganku dan masuk ke mobil, dia pergi begitu saja kemudìan.
Aku menghela napas melihat mobilnya menghilang dari pandanganku.
Aku benar-benar tak tahu apa yang ada di pikirannya. Kenapa dia tidak menjadi kesal dan pergi saja, lebih mudah untukku dan lebih mudah untuknya.
__ADS_1
Aku duduk akan makan malam tapi aku merasa kacau. Masalah ini sudah membuat pikiranku terbang kemana-mana.
"Nampaknya kau punya persoalan berat Sir." Alma menyapaku saat aku duduk di ruang keluarga yang indah ini. Hasil kerja Allison, sesaat aku berpikir jika Angela masih ada dia juga akan senang dengan gaya interior seperti ini.
"Alma, apa Allison mengatakan sesuatu padamu."
"Apa dia mengatakan sesuatu pada saya atau tidak saya rasa itu tidak berpengaruh Sir. Itu tergantung Anda berdua."
"Bagaimana pendapatmu tentang dia."
"Nona Allison adalah Nona teramah yang pernah saya temui, dia menghargai saya dan Salma, teman bagi kami, walaupun kami bukan orang penting. Mungkin dia memang suka bergaul tanpa melihat kelas orang lain, tapi nampaknya di saat yang sama dia juga lugas ke orang yang tidak di sukainya. Saya berpikir Nona Allison adalah orang yang menghargai pertemanan dengan siapapun, tapi dia sangat tidak bisa mentolelir pengkhianatan."
"Ya itu jelas."
"Anda terlalu banyak berpikir Sir. Jika Anda menyukainya jalani saja."
Aku hanya bisa tersenyum mendengar kata Alma.
"Banyak yang harus dipikirkan Alma."
"Seperti kataku Anda terlalu banyak berpikir." Dia tersenyum padaku. "Cinta adalah cinta Sir, jalani saya tanpa terlalu banyak berpikir." Dia meninggalkanku kemudian.
__ADS_1
Putri tunggal Lyold Austin, jelas banyak yang harus dipikirkan.