
POV Xavier
Musim dingin di Duluth, kota yang terletak di negara bagian Minnesota di Amerika Serikat, bisa dibilang cukup dingin dan bersalju.
Duluth yang terletak di ujung barat Danau Superior, yang dapat memperburuk kondisi cuaca musim dingin akibat salju efek danau. Suhu di Duluth selama bulan-bulan musim dingin, biasanya dari Desember hingga Februari, dapat turun jauh di bawah titik beku, dengan suhu tertinggi rata-rata hanya mencapai -4 C° sampai suhu terendah -11°C.
Angin dingin dapat membuatnya terasa lebih dingin, dengan suhu terkadang turun hingga -30°F atau lebih rendah. Hujan salju juga sering terjadi di Duluth selama bulan-bulan musim dingin, dengan curah salju rata-rata sekitar 80 inci per tahun. Salju efek danau dapat mengakibatkan badai salju dan badai salju yang hebat, yang dapat mempersulit perjalanan dan terkadang mengakibatkan penutupan jalan.
Terlepas dari cuaca musim dingin yang keras, Duluth dikenal dengan rekreasi musim dinginnya seperti ski, seluncur salju, sepatu salju, dan seluncur es. Kota ini juga merayakan musim dingin dengan acara-acara seperti Bentleyville Tour of Lights, pertunjukan lampu liburan yang populer, dan perayaan Festival Musim Dingin tahunan, yang meliputi kegiatan seperti memahat es dan terjun ke Danau Superior.
"Dingin sekali." Saat aku menjemputnya siang itu suhu -5°C. Semalam baru turun salju tebal kami semua melihat jalan putih hari ini.
"Disini mungkin bisa sampai -14°C jika malam. DC dan NY jarang sedingin ini, makanya kebanyakan kadang Mom dan Dad ke NY atau LA saat winter. Kami bergantian untuk menjadi tuan rumah jika Natal antara aku dan Kakakku." Aku memberinya gambaran. "Tapi tahun ini semuanya kembali ke Duluth, kami sudah merindukan salju tebal.
*US pake Farenheit tapi karena susah ngebayangin Farenheit pake Celsius ajalah ya.
"Apa itu snow emergency route?" Aku menunjuk tanda yang kutemukan di jalan.
"Ohhh itu jika ada badai besar kendaraan pengeruk salju akan beroperasi, di jalan ini tidak boleh ada mobil terparkir atau kau akan di derek jika kau melanggar garisnya."
"Ohh jalur darurat untuk salju."
"Iya."
"Apa rumahmu jauh?"
"Oh hanya kurang lebih 30 menit perjalanan, rumahku di samping sungai St. Louis. Hanya 10 menit dari danau Superior. Kau akan menyukainya."
Rumah 4 kamar tidur gini sekitar 11milyar di sana gengs.
"Harusnya kita ke sini musim panas, musim dingin saja seindah ini." Allison nampaknya menyukai lingkungan rumahku.
"Iya musim panas di sini banyak wisata memancing... dan kau benar semua akan menghijau di sini musim panas. Lebih menyenangkan bagi mata."
"Apa kalian punya makanan di musim dingin seperti ini."
"Makanan? Hmm... di sini banyak keturunan Norway yang berimigrasi jadi makanan lokal di sini adalah makanan Scandinavians, lutefisk, julekake, krumkake."
"Oh begitu. Banyak orang Norway? Kenapa mereka datang ke sini?" Allison kelihatan heran. Memang aneh tapi begitulah sejarah kota ini yang penuh keturunan Norway.
"Di awal abad 19, untuk pekerjaan pemotongan kayu dan tambang. Begitu yang kupelajari di sekolah."
Tak lama untuk kami sampai ke rumah. Mom membukakan pintu untuk kami. Dia menyambut kami dengan senyum lebar di wajahnya. Mendapatkan aku mempunyai calon istri lagi adalah sebuah kelegaan baginya.
__ADS_1
"Ini yang namanya Allison, Bibi sudah banyak mendengar cerita tentangmu. Senang kau bisa ke sini tahun baru ini."
"Bibi, senang bertemu denganmu, maaf aku akan membuatmu terganggu beberapa hari ini."
"Astaga mana mungkin kau menganggu, kami semua sudah menunggumu."
Aku memperkenalkannya kepada keluarga besarku, Ayah, keluarga Kakak dan Adikku yang ada di sana untuk makan siang sekaligus perkenalan dengannya.
Karena Allison pada dasarnya adalah orang yang cepat bergaul, maka dia langsung bisa mengobrol banyak dengan yang lain. Semua orang menyukainya dan dia nampaknya menikmati perhatian yang diberikan semua orang padanya.
"Kalian akan segera menikah, Paman dan Bibi senang sekali, akhirnya Xavier menemukan seseorang yang bisa melelehkan musim dinginnya, enam tahun kau tahu rasanya waktu di tahun ke empat lima dan enam saat dia masih belum punya siapapun rasanya kami khawatir. Tapi sekarang lihatlah, entah apa yang terjadi dia bahkan punya pacar anak , itu terlalu mengejutkan saat kemarin Natal dia cerita. Semoga rumah kami tak terlalu kecil untukmu, ini hanya rumah sederhana." Ibuku yang paling bersemangat menyambut calon menantunya ini sekarang.
"Bibi aku hanya anaknya. Tidak punya kekuasaan apa-apa. Xavier banyak membantuku dan teman terbaikku, itulah kenapa aku nyaman padanya. Aku yang selama ini terus menyusahkannya. Rumah ini sangat indah Bibi, aku ingin datang ke sini jika musim panas. Pasti sangat indah."
"Kau bebas datang kapan saja, tapi telepon dulu agar Bibi punya sedikit persiapan. Ajak Ayah dan Ibumu juga boleh, tapi Ayahmu mungkin punya banyak pengawal, rumah Bibi hanya 4 kamar..." Kami berdua tertawa Ibuku memikirkan begitu jauh, padahal mana mungkin Ayah dan Ibunya Allison bisa menyusahkannya begitu jauh.
"Tidak...tidak, Bibi jangan repot.Tidak mungkin Ayah dan Ibu menginap di sini dengan segala pengawalannya. Tapi jika dia sudah tak bertugas itu mungkin dia sangat suka memancing." Allison langsung mengibaskan tangan.
"Oh Ayahmu suka memancing? Kalian harus mengajaknya ke sini. Tempat ini sangat bagus untuk memancing. Paman juga punya teman-teman yang suka memancing."
"Temanmu akan mengangga melihat siapa yang kau bawa." Ibuku menimpali Ayah.
"Aku sudah sering mengatakan pada mereka Xavier adalah pengacara Tuan Austin...."
Mereka memang sangat kaget waktu mengetahui latar belakang Allison.
Perkenalan keluarga berjalan lancar, sayangnya kemudian salju begitu tebal sehingga kami sulit kemana-mana. Padahal aku ingin mengajaknya ke sebuah restoran bagus di pusat kota. Sayangnya nampaknya aku tak punya kesempatan.
Karena kami tidak tinggal di jalan besar lebih sulit bagi kami untuk keluar dari tumpukan salju tebal ini. Perlu usaha keras dan berbahaya.
"Saljunya seperti kita ada di kutup utara. Aku tak ingat kapan aku terakhir melihat salju setebal ini. Dia malah tersenyum lebar."
"Kita tak bisa kemana-mana."
"Tak apa aku senang melihat salju tebal begini." Dia malah pergi ke halaman luas itu dengan jaket tebal dan sepatu tinggi, dan berusaha berjalan-jalan dan menjatuhkan dirinya ke salju.
Melihat dia begitu gembira aku akhirnya punya cara untuk melamarnya tanpa pergi mengajaknya makan malam.
Aku bergerak masuk ke rumah.
"Kau mau kemana, temani aku." Dia masih bermain salju dengan gembira.
"Aku mengambil jaket dan sepatu." Aku menghilang ke dalam rumah. Iya aku memang mengambil jaket dan sepatu, tapi juga cincin lamaran.
Menyelipkannya dengan cepat ke saku baju yang aman.
Aku mengikutinya bermain salju, sampai kami kelelahan dan duduk di sebuah kursi yang tidak tertimbun salju.
"Ini indah sekali bukan..." Allison memainkan salju di kakinya. Udara dingin membekukan ujung hidung mereka dan mengepulkan napas di udara.
"Iya sangat indah..." Sementara aku dengan sarung tangan berusaha membulatkan salju sekepalan tangan menyembunyikan kotak cincin yang sudah kubeli.
__ADS_1
"Kau jangan menimpukku lagi . Sudah cukup bermain lempar melempar." Dia tertawa melihatku membulatkan satu bulatan salju lagi.
"Tidak, aku hanya membulatkannya, nanti ada es di dalamnya. Di sini saljunya bisa begitu."
"Mana mungkin bisa begitu kau berbohong." Dia menertawakanku."
"Kau tak percaya? Coba saja kau buka apa ada es padatnya atau tidak di tengahnya." Aku memberikan bola salju yang sudah kubulatkan cukup padat itu padanya.
Dia melihatku dengan sangsi.
"Aku tak percaya, kau membodohiku." Dia tertawa.
"Kau boleh menimpukku dengan salju jika kau tidak menemukan esnya di dalam sini." Aku memberikan bola itu padanya.
Dia menerimanya. "Baiklah kau ingat aku akan menimpukmu jika tak ada esnya di sini." Akhirnya dia menerimanya juga dan mulai menghancurkan bola salju itu. Aku menunggunya dengan berdebar-debar. Serpihan demi serpihan salju itu jatuh ke bawah dan menampakkan kotak kecil beludru hitam di dalamnya.
"Apa ini..." Dia menatapku tak mengerti. Lalu kemudian wajahnya mulai tahu kotak apa itu. "Ini..." Aku mengambilnya dari tangannya dan membuka isinya sebuah cincin solitaire nampak di dalamnya.
"Menikahlah denganku Allison." Aku menatapnya di matanya sementara dia nampak terpesona dengan cincin di tanganku.
"Kau melamarku di tengah salju. Bagaimana aku bisa memakainya." Aku tertawa.
"Kau boleh menyimpannya dulu." Dia tertawa kecil menatap cincin itu diantara sarung tangan wolnya.
"Aku mau memakainya di sini. Ya aku akan menikahimu. Melamarku di tengah salju di depan halaman rumah neneknya. Anak kita akan punya cerita tentang ini. Aku akan menikahimu." Dia membuka sarung tangan wolnya dan memintaku memakaikannya, sambil berkomentar soal caraku melamarnya.
"Bukankah itu unik bisa dijadikan gambar dan cerita yang bagus."
Dia tertawa sekarang, dia melihat cincin yang sudah terpasang di jarinya itu.
"Aku pernah memimpikan lamaranku akan seperti, jalan-jalan ke Turki lalu dilamar di atas balon udara, tapi ternyata di halaman rumah sambil membuka bola salju." Dia tertawa lagi lalu menatapku. "Aku tidak penting lamarannya di mana, itu hanya angan-angan gadis remaja, yang penting kita bisa menjalaninya bersama-sama. Terima kasih... ini cantik."
"Tadinya aku mau mengajakmu makan malam di luar tapi dengan salju setebal ini, dan prakiraan cuaca aku kehilangan harapanku."
"Makan malam terlalu biasa aku suka yang seperti ini, ini sudah sempurna. Maaf aku tadi mengeluh sedikit."
"Kau suka cincinnya."
"Aku menyukainya berliannya cukup besar untuk orang yang bilang berlian lima karat berlebihan." Sekarang dia menyindirku. "Sayang jangan tersinggung, aku sudah bilang aku juga setuju. Lagipula ini akan jadi cincin kenang-kenangan. Kita memakai cincin pernikahan tapi untuk cincin pernikahan biarkan aku yang memilih."
"Iya baiklah. Untuk urusan pernikahan kau yang memilih semuanya. Kau puas." Aku mencubit hidungnya yang sudah memerah. Kami tak boleh terlalu lama di luar.
"Tentu saja."
"Semoga kita bisa melewati semuanya bersama, sehingga akhirnya menua bersama seperti orang tua kita." Dia memegang tanganku, bersama kami menikmati moment ini. Salju putih mengelilingi kami rasanya silau walaupun langit sedikit gelap.
"Semoga. Kita akan mengusahakannya, sesuatu harus diusahakan bukan, aku tak sempurna kau juga, yang ada hanyalah kita berusaha berdua."
"Iya kita akan berusaha." Dia menyetujui permintaanku. Aku juga perlu berusaha lebih baik lagi dari pernikahan pertamaku. Tak mau menyesal seperti yang kemarin.
Udara dingin dan langit kelabu. Tapi hati kami hangat dengan kebahagian.
Tak perlu menunggu langit biru dan udara hangat untuk bahagia. Karena sumber kebahagiaan itu ada di hatimu sendiri.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=
ENDING