
POV Author
"Aku tidak berhasil Xavi, aku sudah menjelaskan panjang lebar. Tapi nampaknya itu tidak berhasil, dia tetap memasang wajah dingin padaku. Apa kau siah meneleponnya?" Di mobil saat keluar dari kantor Allison, David langsung menelepon Xavier, sekarang dia merasa bersalah kunjungannya ke sana tak membawa hasil sama sekali. Bisa juga di katakan dia mungkin menambah masalah. Tanggapan Allison sangat dingin.
"Dia tidak menerima teleponku sama sekali. Masalahnya di sudut pandangnya aku tak jujur padanya, aku mungkin terlihat tak perduli padanya. Aku tahu aku mengacau kali ini. Mungkin setelah ini karierku akan terancam jika dia benar dendam padaku." Xavier menghela napas panjang. Dia tidak menyangka sesuatu akan berbalik begitu cepat dalam hitungan detik.
Padahal dia baru merasa menyukai seseorang. Belajar mencintai lagi setelah sekian lama. Mungkin benar dia belum bisa melupakan sepenuhnya Veronica, tapi dengan Allison yang berusaha agar hubungan mereka berkembang dia merasa di jalan yang benar.
Tapi sekarang sudah tercerai berai.
"Lalu apa yang akan kau lakukan."
"Aku cepat atau lambat akan bicara padanya, dia pasti akan menelepon dan ingin bicara padaku. Jika dia marah-marah itu lebih baik tapi jika dia sudah tenang begini, dia sangat kecewa hingga menyerah mengatakan apapun padaku. kemungkinan besar hubungan kami tamat. Aku harus mencari cara memperbaiki kesalahanku. Entah apa dia masih mau mendengarku. Nanti sore aku akan coba ke kantornya..."
Dia tiba saat kantor hampir jam bubar. Walau begitu nampaknya di kantornya masih banyak orang.
__ADS_1
"Saya ingin bertemu Nona Allison Austin." Dia meminta bertemu Allison pada reception. Tapi sebelum dia bisa mencapai Allison seseorang memanggilnya.
"Xavier." Seorang mendatanginya, itu William sepupu Allison.
"William." Dia berdiri untuk menghampirinya. Tapi belum sempat dia menyalaminya. Tak disangka sebuah bogem mentah menyasarnya. Tak kuat tapi cukup membuatnya kaget.
"Itu untuk Allison, kau berani-beraninya kau membuat dia sebagai permainan bersama temanmu." Kali ini William yang sudah menganggap Allison sebagai adiknya itu marah kepada Xavier. Dia merada Xavier memang sudah keterlaluan. Walaupun dia belum mendengar cerita dari disi Xavier, tapi yang jelas Xavier telah membuat Allison menangis.
Xavier tidak membalas kemarahan William. Dia menerimanya sebagai hukuman yang harus di terimanya. Tak salah William melakukannyq, setengah dari ini memang kesalahannya, walaupun setengah lagi adalah murni kesalahpahaman.
"Kenapa kau ke sini?! Kau masih punya muka untuk ke sini?! Kau tak tahu terima kasih. Allison itu terlalu baik untukmu." Sebuah perkataan yang membuat Xavier merasa tertampar.
"Aku ingin bicara meluruskan semuanya. Aku memang salah sebagian, tapi aku bersumpah aku tidak bermaksud seperti itu." Dia mencoba menjelaskan kepada William. Dia tidak bisa diam saja, dia tak pernah bermaksud seperti ini untuk menyakiti Allison.
"Tidak bermaksud seperti itu? Kata-kata itu keluar dari mulutmu sendiri. Kau masih mau mengelak?!" William menunjuknya di muka, cukup marah untuk membuatnya memukul orang ini di wajahnya.
__ADS_1
"Will,aku akan menjelaskannya kepada Allison. Tolong beri aku kesempatan bicara dengannya. Aku harus bicara dengannya."
"Menjelaskan apa?! Lebih baik kau pergi dari sini. Kau tak mau melihat wajahmu lagi di sini." Dia mengangkat kerah baju Xavier, siap melemparnya pergi jika diperlukan, menbuat Allison menangis sampai matanya sebengkak itu jelas tidak dapat dimaafkan.
"Will! Sudah! Aku yang akan bicara padanya." Allison tiba dengan cepat ketika dia menerima laporan dari reception bahwa seorang bernama Xavier dipukuli oleh William.
"Al, kau masih mau bicara dengannya, katakan saja aku akan melemparnya keluar sekarang juga." William masih bicara sambil menunjuk ke Xavier, yang ditunjuk diam tidak berani bicara banyak.
"Sudah aku saja yang bicara dengannya. Akan kuurus ini terima kasih Will, sebenarnya juga aku berharap dja datang ke sini."
"Ayo ikut aku Xavier." Sekarang waktunya penghakiman Xavier merasa diq seperti terdakwa yang di seret ke depan hakim pengadilan dan siap mendengarkan hasil putusan juri sekarang.
Xavier mengikuti Allison yang wajahnya setenang cermin. Ini tak akan bagus, tak ada yang bagus jika dia sudah setenang ini. Dia harus bicara untuk meyakinkannya atau ini adalah kali terakhir mereka bersama
bersambung besok _______
__ADS_1