Mr. Lawyer Fatal Attraction

Mr. Lawyer Fatal Attraction
Part 63. Would You Die For Me 2


__ADS_3

"Apa aku cantik malam ini." Akhirnya aku tahu kenapa dia menjawabku dia masih hidup saat kutanya apa kabarnya, dia sudah berdandan begini cantik aku bertanya apa kabarnya. Benar kata David kebodohanku dalam menghadapi wanita tidak tertolong.


Dia hanya ingin sebuah pujian bahwa dia cantik.


"Kau sangat cantik dengan baju merahmu, jika bisa aku ingin meyeretmu keluar dari pandangan pria-pria yang bicara bersamamu itu."


"Benarkah? Kata-katamu kelihatannya tidak meyakinkan." Kenapa tidak meyakinkan, aku memujinya dengan tulus. Apa ada yang salah dengan wajahku


Aku ingat lagi kata David:


Kau hanya harus tahu seni memaksa sedikit. Kau yang selama ini tidak tahu bagaimana merayu wanita. Kau sama sekali belum pernah menciumnya, kau payah benar-benar payah pantas saja dia menganggapmu tak menganggapnya serius. Bagaimana bisa kau sudah ingin bertemu Ayahnya tapi tak pernah menciumnya. Kau memanggilmya teman dekat, kau benar-benar keterlaluan.


Apa dia menganggapku tak serius karena aku tak pernah menciumnya. Lyold Austin harusnya tak membunuhku karena aku mencium anaknya. Dia juga tak mungkin membunuh setiap kekasih anaknya.


Aku harus mengambil tindakan sekarang atau selamanya dia menganggapku tak serius.


"Kau cantik. Kenapa kau tak percaya."


"Oh ya? Kau tak perduli...." Sebelum kalimatnya selesai aku mengunci tengkuknya dan memiringkan kepalaku untuk menggapai bibirnya. Dia jelas kaget dengan hal yang terjadi tiba-tiba itu tapi dia akhirnya tertawa dalam ciuman itu. Dan membuatku mengakhiri ciumamku


"Kenapa kau tertawa." Dia masih tersenyum lebar.


"Apa bangsat David itu juga yang mengatakan padamu untuk menciumku."


"Iya dia mengatakan hal seperti itu. Dia menganggap bodoh prinsipku yang kelewatan lurus itu."


"Ehmm begitu rupanya." Dia tertawa sekarang. Sebuah senyum yang dikulum ada di wajahnya, entah apa yang ada di pikirannya aku tak tahu.

__ADS_1


"Aku mau pulang. Antar aku pulang." Sekarang dia menghempaskan diri ke kursinya dengan senyum masih ada di wajahnya. Perkataan ban*gsat David itu semuanya benar. Rupanya dia memang mahaguru yang perkataannya harus dituruti dan diamalkan.


"Kau tidak marah lagi padaku bukan. Kita baikan lagi?" Dia melihatku dengan pandangan menimbang untung dan rugi di otaknya. Sekarang apa lagi yang dia pikirkan.


"Tak semudah itu Tuan Pengacara." Dia bilang tidak menyukai rollercoaster tapi dia membuat beberapa waktu belakangan lebih memusingkan dari rollercoaster. Wanita lain di mulut lain dihati. Yang bisa menerjemahkan hanya playboy seperti David.


"Antar aku pulang dulu." Entah apa lagi yang dia inginkan. Aku mengantarnya pulang, sepanjang jalan dia tak begitu banyak bicara. Aku berusaha mencari bahan pembicaraan.


Perjalanan yang tak seberapa jauh itu entah kenapa terasa sedikit menegangkan. Aku yakin dia merencanakan sesuatu, entah apa sebagai syarat minta maaf yang dia ingin aku penuhi, tapi dia tak akan melepaskanku dengan mudah.


Ketika kami sampai aku merasa boom akan dijatuhkan.


"Masuk saja ke basement pakai kartu parkirku. Naiklah ke atas bersamaku." Kenapa aku harus masuk ke basement? Tujuannya jelas. Sekarang dia bersiap-siap menjatuhkan boomnya.


"Apa kau akan memintaku naik ke atas?"


"Hmm... iya, naik ke atas. Kita perlu banyak bicara Tuan pengacara. Apa kau keberatan." Aku merasa nyawaku akan ada dalam bahaya jika aku tak menuruti permintaannya.


Dia sama sekali tak bicara selama perjalanan, hanya melihatku dan sedikit tersenyum, di otaknya pasti sudah banyak rencana yang dipikirkannya. Aku punya banyak tebakan, tak ada yang berakhir bagus. Kurasa sepertinya aku akan kehilangan nyawaku setelah ini selesai.


Pintu unit apartmentnya terbuka. Dan aku menanti apa yang terjadi selanjutnya.


"Masuklah." Dia tersenyum kecil dan menarik tanganku masuk dan mendorong pintunya tertutup. Cahaya sudah dinyalakakan tapi hanya lampu dim yang berwarna lembut. Apartment seorang design interior tentu saja punya pencahayaan yang bagus.


Aku menatapnya berjalan mendekatiku dan berada di depanku tak lama kemudian. Kurasa aku sudah lama tidak ditahap gugup seperti ini. Dia akan memaksaku melakukannya.


"Sekarang katakan aku cantik seperti tadi. Persis seperti tadi." Dia berbisik lirih hampir tak terdengar.

__ADS_1


Sebuah permintaan yang akan menjerumuskanku ke tindakan lainnya. Tapi jika tidak, tidak akan ada maaf untukku, lakukan sekarang atau kau tak punya kesempatan lagi. Aku tak punya pilihan di sini.


Aku meraih pinggangnya dan bibirku mengapainya, kali ini tak ada tawa darinya, napasnya berubah setelah dia menggapai dan memelukku. Tanganku membelai kulit punggungnya yang terbuka. Cara dia membalas ciumanku membuat aku merasa dia mengambil semua nafasku.


"Ciumanmu tak buruk." Suara bisikan itu, membuatku memandang ke dalam matanya, sementara aku memeluknya, jemarinya mengapai rahangku. Wangi parfum yang kukenal selama beberapa waktu ini menerpaku.


"Kau bilang kau merindukanku, ...apa buktinya."


"Aku merindukanmu, biasanya ada sesuatu yang kunantikan di ponselku, pesan remeh yang membuatku tersenyum, tapi beberapa hari ini kau mendiamkanku. Aku merindukan melihat kau yang di sana, aku tak punya bukti, aku tak mengerti bagaimana harus mengatakannya ." Dia yang ganti tersenyum. "Maaf, aku memang bodoh seperti yang kau bilang."


"Iya, aku tahu nilaimu minus." Dia menarik dasiku hingga terlepas.


"Apa yang kau lakukan?" Kancing pertama dari kemejaku terlepas.


"Kau tak tahu apa yang aku lakukan...? Berapa umurmu? Kau perlu si brengsek David Montgomery untuk memberi tahu apa yang sedang terjadi disini." Kancing ke dua sukses meninggalkan lubangnya.


"Ayahku akan membunuhku jika aku menyentuhmu." Dia tersenyum melihatku. Tapi gerakannya terhenti.


"Lalu, apakah kau bersedia mati untukku?" Aku menatapnya dengan tak percaya. Sebelum suara David dan wajah mencemoohnya tiba-tiba muncul di otakku.


Lihat semua poin kesalahanmu yang dia sebutkan di pembicaraan itu, dia menyuruhmu pegi di kalimat terakhir karena kau malah bertanya padanya apa yang harus kau lakukan, jelas saja yang harus kau lakukan adalah mengejarnya dan jangan melepaskannya, sampai Ayahnya memgancam membunuhmu juga tetap kejar dia. Dia yang akan melawan Ayahnya untukmu. Dasar bodoh!


Sekarang aku mendapat pencerahan dari David Montgomery dewa cinta itu.


"Aku lebih suka dibunuh Ayahmu, daripada kau yang membunuhku." Jawabanku membuatnya tersenyum kecil.


"Sekarang rupanya si brengsek David itu memberimu pelajaran dengan baik. Kurasa aku tak bisa membencinya, setidaknya dia berguna." Dia tertawa sekarang, tapi aku menghentikan tawanya dengan memeluk punggungnya yang terbuka dan mencium lehernya.

__ADS_1


"Kau yang meminta ini jadi nyawaku di tanganmu sekarang."


"Aku suka orang dengan sukarela menyerahkan nyawanya padaku. Kau dimaafkan." Dia tertawa kecil dan melanjutkan aktivitas kecil yang jemarinya lakukan.


__ADS_2