
POV Allison
Akhir minggu di musim gugur, akhir Oktober udara pagi ini aku mengintip di ponsel udara diluar menyentuh 8°C, tapi di sampingku aku tak sendiri ada seseorang yang bisa membuatku merasa hangat.
"Sudah bangun,..." Sebuah suara yang menyapa membuat aku berbalik.
"Pagi." Aku tersenyum padanya dan masuk ke dalam pelukannya. Akhirnya pengacara kaku yang ketakutan di bunuh oleh Ayahku ini sudah menyerahkan nyawanya padaku.
Aku bangga padanya, plus dia hebat di atas ranjang walaupun wajahnya hanya biasa-biasa saja.
"Apa kau bisa tidur di sini."
"Bisa tentu saja. Ini ruangan yang cantik. Secantik orangnya."
"Kedengarannya itu bukan kau. Kenapa kau bisa memujiku baru bangun tidur dengan acak-acakan dengan kata cantik."
"Supaya kau menganggapku aset yang berharga. Aku masih perlu jaminan untuk menyelamatkan hidupku." Sekarang dia membuatku tertawa.
"Apa kau mimpi buruk sayang. Tenang saja kau bisa memilih cara mati yang enak nanti." Dia tertawa dan balas memelukku. Akhirnya setelah dia percaya dan menyerahkan nyawanya padaku tidak ada lagi hal yang membuatnya tertahan untuk mengatakan apa perasaannya padaku.
"Bagaimana dengan membuatmu mati keenakan duluan, yang ini masih keras."
"Kau pagi-pagi sudah m*esum padaku. Kau mau dibunuh berapa kali." Dia tertawa.
__ADS_1
"Sudah kepalang tanggung aku pasti mati." Dia membuatku merinding ketika tangannya menekanku merasakan kebutuhannya yang masih mengeras dan menyentuhku lagi di bawah sana.
"Kau singkirkan tanganmu. Dasar mes*um."
"Kau mengatakan padaku untuk menyingkirkan tanganku, tapi kau mendekatkan tubuhmu. Jadi maksudmu jangan gunakan tangan? Langsung saja? Wanita memang sulit dipahami. Aku menyerah dengan bahasa kalian. Kau harus membuang bahasa terkut*uk itu." Aku yang sekarang langsung tertawa. Suasana jadi panas ketika dalam sekejap dia menyisipkan dirinya dibawah gaun tidur pendek itu dari belakang tangannya mengunci posisiku.
"Kau harus belajar. Iya itu artinya langsung saja dengan yang mengeras itu, aku tak suka disentuh berlebihan, aku suka rasanya kau menyusup pelan-pelan seperti semalam, sedikit menyakitkan tak apa itu menyenangkan, sudah basah bahkan sekarang, mengerti apa yang kukatakan..."
"Sangat jelas. Ukurannya cocok untukmu." Kami nampaknya sedang bicara ukuran pakaian.
"Sangat cocok, pas sekali. Menyentuh di tempat yang seharusnya dengan mudah. Aku suka lenganmu, kau latihan?" Aku menggigit lengannya dengan lembut saat sesuatu menembusku dengan sempurna di bawah sana dan tangannya menangkup tu*buhku.
"Gadis nakal. Kau suka di bawah sementara aku yang bekerja." Aku memejamkan mata menikmati rasa dia bergerak perlahan ke inti tubuhku.
"Ehm kalahlah aku seperti semalam kumohon, itu enak sekali." Sekarang aku bicara terang-terangan tanpa memakai bahasa yang dia bilang terkutuk itu.
"Dimegerti, jika kau bicara jelas begitu. Akan lebih gampang di eksekusi."
Pagi yang indah dan panas, dengan seseorang teman minum kopi dan sarapan yang menyenangkan. Rasanya lengkap dan membahagiakan. Aku tak tahu bagaimana hari hari berikutnya dengan pengacara kawakan ini.
Semoga dia tidak membosankan dengan ketidak romantisannya, tapi untuk sekarang nampaknya dia cukup baik. Mungkin setelah lebih dekat dia tidak malu lagi untuk melakukan hal-hal sederhana tanda dia memperhatikanku.
"Apa yang kau inginkan dariku, sesuatu selain memujimu cantik."
__ADS_1
"Bawakan aku bunga sesekali, jangan saat kau meminta maaf saja. Itu memperbaiki mood. Puji aku cantik, lakukan sesuatu untukku, membawakan kue dari Alma pun akan menyenangkan."
"Baik, aku akan ingat melakukannya."
"Kita kekasih, aku kekasihmu."
"Secara nyata begitu, apa kita perlu perjanjian legal sekarang? Apa aku perlu memberimu uang jajan bulanan?" Aku langsung tertawa dengan pertanyaan terant-terangan itu. Dia langsung ingin mengirimkan aku uang jajan bulanan, seperti suami yang bertanggung jawab kepada istrinya, sungguh manis, rupanya pacaran dengan genarasi yang lebih mapan itu begini rasanya.
"Tidak, aku belum jadi istrimu, tapi aku menerima hadiah. Akan menyenangkan mendapatkan hadiah darimu."
"Begitu, baiklah. Jika ada yang kau inginkan kau boleh meminta padaku, selama aku mampu dan permintaanmu rasional akan kukabulkan. Tapi aku mungkin tak sekaya pangeran-pangeranmu, aku akaan jujur padamu, aku masih menganggap berlian 5 karat adalah suatu pemborosan. Maaf aku mungkin pelit, tapi kenyataannya aku memang bukan kolongmerat." Aku tahu sulitnya mendapatkan proyek, jam-jam kerja yang dihabiskan untuk itu, aku juga tak akan membuatnya menyia-nyiakan uangnya yang didapat dengan kerja keras. Sama seperti aku juga yang tidak akan menyia-nyiakan uangku. Walaupun seperti yang kubilang menerima hadiah akan menyenangkan.
"Aku setuju, aku tak begitu tertarik dengan dunia perhiasan. Menurutku harga batu mengkilat itu terlalu tak masuk akal dan diciptakan oleh sistem liberal." Dia meringis.
"Lalu apa yang kau suka?" Dia membuatnya seperti wawancara kerja.
"Sepatu, entah kenapa aku tak bisa bertahan dengan sepatu cantik di depan mataku. Padahal sebenarnya aku tak bisa memakai mereka terlalu sering. Jika kau membawaku ke butik sepatu tak mungkin aku tak membungkus sesuatu. Makanya sekarang aku juga jauh-jauh dari sana." Aku tertawa mengatakan guilty pleasureku.
"Aku akan ingat itu."
Dan pagi ini berisi obrolan terbuka antara kami, dimana kami bisa mengatakan apapun tentang diri kami. Aku harus ingat dia payah dalam membaca situasi.
Wanita ingin dimengerti, tapi dia tidak pengertian. Lebih baik bertengkar dengannya daripada kau kesal sendiri.
__ADS_1