Mr. Lawyer Fatal Attraction

Mr. Lawyer Fatal Attraction
Part 68. Mom Choice


__ADS_3

Aku dan Mom bicara hal lain ketika kemudian dua orang itu bergabung dengan kami. Seorang pria kurasa pada pertengahan tiga puluhan bergabung dengan seorang wanita yang bernama Catherine Haugen.


"Bibi sering melihatmu menemani Ibumu. Sekarang bisa bicara sendiri denganmu." Wanita bernama Catherine Haugen itu bersikap manis. "Oh ya ini anak Bibi, Oscar Haugen."


"Senang bertemu denganmu Oscar."


"Aku yang merasa senang Nona Allison." Nampaknya orang yang punya tatakrama sempurna. Daritadi saat menyapa Mom juga punya tata krama yang sempurna.


"Oh ya kalian tak berbeda umur jauh Allison 32, sementara Oscar 35." Bibi Catrerine melanjutkan dengan umur kami. Nampaknya ini akan jadi pembicaraan panjang.


Pria yang ini walaupun adalah pewaris nampaknya juga tahu bekerja. Dia punya penyewaan dan konsultan pemindahan peralatan berat untuk proyek konstruksi, migas dan tambang.


Aku tak begitu mengenal bahasan itu tentu saja, kupikir dia memindahkan semacam excavator atau mesin-mesin mobil tapi ternyata bukan. Firmanya punya keahlian memindahkan mesin atau benda apapun dengan berat ribuan ton. Dia menjelaskan padaku dengan gambar saat mereka memindahkan senbuah roket NASA dengan berat ribuan ton.


"Kau memindahkan ribuan ton? Serius?"


"Tentu saja serius. Kami bisa memindahkan benda sampai dengan 8000 ton. Ini kami baru memindahkan roket NASA ..." Dia memberiku gambar yang membuatku terpana.



"Astaga berapa berat raksasa mengerikan ini." Aku melihat gambar pertama yang di berikan Oscar.


"Transpoternya sendiri sekitar 2500 ton, kalau yang ini kami menyisipkan Transpoternya di bawah..." Satu lagi gambar diberikan, kali ini serupa mesin keruk raksasa. "Kalau yang ini untuk tambang."



"Hebat, mengoperasikan benda ini pasti butuh banyak orang, kau bahkan haris membawa truk pengisi minyak ke sana." Aku menertawakan truk pengisi BBM yang ada di bawah foto, sekaligus menyadari berapa besar benda dengan berat 2500 ton ini.


"Yang ini mereka sedang membawa Bagger 288, itu sebenarnya excavator tambang."



"Astaga ini diameter sebenarnya roda bucket excavator itu? Satu bucketnya hampir setinggi manusia." Satu lagi gambar yang menunjukkan besarnya mesin raksasa itu sebenarnya.


"Oh jelas mereka tidak bisa masuk ke SPBU. Bahkan mereka berjalan di jalan raya harus mendapatkan pengawalan polisi." Aku bisa bayangkan apa yang dia katakan.


"Membangun satu kendaaan besar pengangkut seperti ini berapa yang kalian butuhkan?"

__ADS_1


"Sekitar 2 trilyun ( rupiah - eh ini cerita beneran, biaya untuk membuat kendaraan pengangkut kaya gitu bangunnya dua trilyun-an )."


"Wow."


Aku menemukan horizon baru sekarang, perusahaan pengangkutan seperti ini pasti sangat spesifik.


"Apa kalian berkaitan dengan AECOM?"


"AECOM kadang memakai jasa kami, tapi costumer utama kami bukan bisang konstruksi lebih ke pertambangan, migas, dan kau tahu NASA."


"NASA, kedengarannya hebat." Dia tersenyum, nilainya ketampanannya 80 dari mataku. Masih jauh dengan Alton ataupun Iblis Montgomery, tapi dia golongan rupawan.


"Kantormu di mana, kau fokus ke hunian pribadi?"


"Iya, hunian pribadi, office space dan kami sudah menangani hotel." Sekarang aku sedikit bisa menyombong. Menangani hotel adalah level yang besar.


"Ohh kalian menangani hotel juga, hotel apa?" Tapi aku tak akan berhasil menyombong di depannya jika hotel yang kutangani hanya bintang tiga dan empat.


"Kami baru saja memenangkan renovasi Charleston New York."


"Ohh kau menangani Charleston, aku mendengar mereka mengambil alih gedung hotel lama Chauffeur bukan, ternyata kau yang memenangkan renovasinya. Selamat untuk itu." Sekarang aku berhasil sedikit menyombong.


"Oh, kau yang mendesainnya sendiri?" Dia pasti menyangka salah satu desainer interior seniorku yang mengerjakan desainnya, putri Ayah sepertiku hanya masuk kantor sebagai formalitas.


"Iya, undangan mereka atas namaku, jadi aku berani maju. Seperti yang ku bilang, aku beruntung bisa menangkap keinginan mereka." Dia mengangguk dan diam, sekarang kau tahu bukan siapa yang di depanmu, aku bukan princess, aku queen. Jangan meremehkanku, karena jelas aku tak terpesona dengan superyatch. "Ohh ya, jika kau punya sesuatu yang bisa kubantu dengan desain rumah, kantor, kau bisa menghubungiku."


Pamer yang ketiga, kartu nama dengan tulisan Head of Design Director NY Office.


"Allison Austin, kau rupanya Director. Kantor kalian di mana saja." Sekarang baru dia menggangapku serius.


"NY, CL, DC, Paris. Iya aku Design Director. Aku memang menyukai pekerjaanku dan seorang profesional tentu saja."


(NY \= New York, CL \= California, DC \= Washington DC)


"Multinational Company, kalian menangani ini dengan serius." Dia sepertinya kagum? Apa aku bisa mendapatkan pengakuannya? Aku hanya tersenyum sedikit. Walaupun aku tak sebanding dengan level mereka, aku juga tak mau diremehkan. "Kau pemegang saham di sini?" Ini sepertinya pengecekan indentitas keuangan.


"Iya."

__ADS_1


"Ehm..." Dia menganguk-angguk, apa yang dipikirkannya, apa kita sudah selesai dengan perkenalan awal dan pengecekan indentitas. Jadi bagaimana apa aku calon yang sesuai. Aku menebak semua pembicaraan ini untuk apa.


"Sebenarnya...." Dia berhenti untuk meminta perhatianku. "Aku punya sebuah kondominium di Manhattan, belum ada yang menyentuh designnya, aku tidak menyukai desain lamanya. Bisakah kau mengerjakan untukku." Ternyata pertemuan ini semacam wawancara dan umpan balik. Apa dia memutuskan untuk mendekatiku. Dia membayar harga pembukaannya. Well, harga yang mahal, tapi mungkin itu hanya uang tak seberapa untuk orang seperti


"Ohh sebuah kondominium."


"Aku perlu melihatnya dam mendengar dulu apa bayangkan yang kau inginkan."


"Sebenarnya aku tak mengerti apa yang aku inginkan, yang jelas aku tak terlalu suka aura yang dipancarkan oleh disain lamanya, aku membelinya dari temanku. Aku belum tinggal di sana. Tapi kantor pusat akan dipindahkan ke sini jadi aku akan lebih sering di sana."


"Aku akan membantu nanti menentukan apa sebenarnya kau sukai. Kau tinggal menentukan jadwal pertemuan."


"Oh baiklah, kalau begitu nanti aku akan menelepon. Oh apa akhir pekan depan, Sabtu, aku harusnya bisa. Kau bisa menerima perjanjian di akhir pekan."


"Iya tentu saja bisa."


"Kalau begitu kita bertemu minggu depan."


"Baiklah, minggu depan sekitar jam 11?"


"Oke. Jam 11."


Perjanjian pertemuan telah di buat. Mungkin tak seperti ku bayangkan tapi aku percaya tak ada makan siang gratis. Jika dia menemukan aku tak menanggapi ketertarikannya. Mungkin dia membatalkan proyek, tapi terserah padanya itu uangnya.


Setelah berbasa basi dengan Ibunya juga akhirnya pertemuan sarapan pagi ini selesai juga.


"Bagaimana, kalian nampaknya berbicara banyak?" Ibuku melihat padaku dengan penasaran.


"Ohh aku berhasil membuat temu janji untuk membangun design kondominiumnya. Nampaknya dia terpesona denganku."


"Bukankah itu bagus?" Mom bertanya dengan menyelidik.


"Tidak Mom, aku tak ingin berganti kekasih. Aku sudah cukup dengan kekasih kaya dan tampan."


"Kau pasti akan menyesal nanti."


"Kurasa tidak Mom. Sudahlah aku tak mau bertengkar denganmu. Tidak akan ada yang terjadi diantara kami Mom. Aku sudah menemukan kekasihku. Seperti Mom aku setia kecuali ada hal yang menurutku buruk. Tapi superyacht tidak termasuk diantaranya."

__ADS_1


Aku tersenyum ke Mom.


Nampaknya dia tak bisa membantahku lagi. Sekarang aku penasaran apa reaksi Xavier kaku itu jika aku cerita padanya apa dia akan cemburu.


__ADS_2