
"Bagaimana menurutmu."
"Sejujurnya Allison mengatakan Anda pasti mengizinkan tapi saya sebenarnya khawatir sehingga saya tak berani menebak apapun."
Sir Austin menatapku, moment paling menegangkan dalam hidupku.
"Kau bertengkar dengannya karena kau menyuruh temanmu mengetesnya? Lalu dia marah karena kau harus minta izin dulu padaku? Benarkah?"
"Yang mengetes itu bukan begitu...Saya tak pernah memintanya, teman saya, sahabat bisa dibilang, Development Director di Charleston Hotel Group. Saya memasukkan namanya ke sana yang berujung kepada kemenangan kemudian seperti yang Anda tahu. Lalu dia mencoba menggoda Allison, karena saya cerita padanya saya tak berani menerima Allison. Saya tahu siapa pacar Allison sebelumnya, saya hanya profesional, bukan millionaire seperti mereka. Lalu tiba-tiba ketahuan karena entah bagaimana Allison mendengar pembicaraan kami, dia jelas mengamuk pada saya..." Aku menceritakan kejadian yang berukung dengan bogem William itu dengan sudut pandangku. Itu kesalah pahaman, benar-benar salah paham.
"Oh ternyata kau yang memasukkan nama Allison ke Charleston, itu proyek dalam skala baru bagi mereka. Portofolio mereka berkembang menjadi lebih prestigious."
__ADS_1
"Benar Sir, saya yang memasukkannya. Tapi jelas ini karena desain Allison yang luar biasa. Dia bahkan berhasil mengalahkan firma-flrma besar."
Sir Austin terlihat mengerti dan puas dengan penjelasanku. David jadi orang yang menyelamatkanku sekarang. Untungnya aku dianggap pembawa keuntungan untuk mereka.
"Sebenarnya aku tak pernah ikut campur terlalu dalam dengan hubungan anakku. Dia bisa memilihmu sebenarnya kejutan. Aku tahu kriteria kekasihnya. Dia seperti punya standart sendiri, itu bagus tadinya. Tapi ternyata kriteria itu tak berhasil. Dia bisa belajar sendiri mana yang baik atau tidak untuknya."
"Benar bahkan dia bisa mendapatkan pemilik superyatch dari pria yang dikenalkan Ny. Austin. Saya sudah bilang saya tidak akan pernah punya superyacht dengan profesi ini. Dia tetap tak pergi. Saya hanya bisa heran padanya."
"Dia memang pernah mengatakan hal seperti itu Sir." Ayah Allison nampaknya akan menyetujui kami. Benar kata Allison, aku terlalu berpikir panjang.
"Dan sekarang nampaknya dia yakin padamu. Aku mengenalmu, dan kau tahu aku mendukungmu. Aku akan membebaskan Allison dalam memilih. Kalian harus menjalaninya sendiri. Kuharap kau bisa membuatnya bahagia dan menikah, menjadi teman seumur hidup, pernikahan itu cukup sulit, kadang ada ketidakpuasan terhadap satu sama lain. Tapi itulah teman hidup, kadang mereka bertengkar tapi tidak saling meninggalkan. Aku tak punya permintaan apapun selain itu padamu."
__ADS_1
Aku menghela napas lega.
"Sir, saya akan berusaha melakukan yang terbaik."
"Kalian berdua harus berusaha, belajar jadi romantislah sedikit. Belajar romantis akan mempermudah urusanmu dengan wanita. Sekedar membeli hadiah setiap ulang tahun, memberinya hadiah dan membeli bunga. Itu akan membuat banyak hal spesial, suruh assitenmu mengingatkannya dan membelikan, jika sekali melupakannya dia akan mendiamkanmu berminggu-minggu." Aku tertawa, tak meyangka bahwa Sir Austin akan mendukungku sampai tahap ini.
"Saya didiamkan seminggu penuh...." Aku bercerita sedikit bagaimana aku meminta maaf ke Allison.
"Saya mengerti Sir. Saya akan belajar lebih baik dan melakukannya lebih baik."
Pembicaraan makan siang itu jadi lebih santai kemudian. Aku lega akhirnya mendapat izin dari sang Ayah.
__ADS_1