
"Karena aku ingin itu dari dirinya sendiri. Jika dia siap untuk hubungan yang baru. Itu saja. Jika tidak, mungkin dia tidak tertarik." Alma menghela napas.
"Ya baiklah Nona aku mengerti maksudmu."
Tak lama kemudian Sir Xavier kembali bersama kami. Penampilannya sudah segar, walaupun kulitnya terlihat agak kemerahan terkena matahari. Wangi gel mandinya membuat khayalanku bermain terlalu jauh.
"Kau sudah lama?" Dia tersenyum padaku. Satu-satunya tanda bahwa dia merasa senang aku di sini kukira. Apa dia senang aku di sini? Tak bisakah dia mengatakannya padaku.
"Tidak baru sejam kurasa."
"Sedang musim panen, mereka sedang memanen apel dan cherry sekarang. Nanti aku pilihkan untukmu."
"Iya terima kasih."
Dia menatapku sebentar lalu mengalihkan pandangan lagi, membuatku bertanya apa yang ada di pikirannya.
"Alma, kau masak apa?"
"Kita punya Chicken Tikka Masala, Baked Salmon, Sheppard Pie, Carbonara, dan Salad."
__ADS_1
"Tiap akhir pekan kita makan home cookingnya Alma." Alma tersenyum atas pujian Tuannya. Dia meninggalkan kami untuk makan berdua.
"Kenapa kau tak membawa Alma ke apartmentmu di Manhattan?"
"Hari-hari biasa aku tak makan di rumah, aku bekerja sampai malam. Lagipula dia membantu mengurus rumah dan perkebunan di sini."
"Kau bekerja sampai malam?"
"Iya, aku sudah punya banyak group pengacara junior dibawahku. Dan itu berarti banyak waktu konsultasi jika ada masalah yang mereka tidak bisa pecahkan. Tapi untuk pengacara perusahaan sebisa mungkin mereka menghindari masalah tak perlu. Yang benar-benar masalah adalah jika sudah masuk ke media dan pengadilan." Dia menjelaskan sedikit pekerjaannya.
"Aku memikirkan pasti stress memecahkan masalah hukum orang lain. Aku lebih baik memarahi orang karena salah mengecat ruangan. Ya tapi karena itu kalian dibayar mahal."
"Kau membayarku, aku senang kau menyukainya." Aku diam sebentar. Lebih baik aku mengalihkan pembicaraan. "Apa aku menggangumu dengan datang ke sini?"
"Tidak."
"Sungguh?"
"Iya, sungguh. Aku tak keberatan. Hanya mungkin daripada ke sini, seseorang bisa mengajakmu berakhir pekan ke tempat yang lebih luar biasa daripada hanya sekedar kebun begini." Sekarang adalah pembicaraan yang sesungguhnya. Dia menatapku dengan sungguh-sungguh.
"Aku tak keberatan mencoba berkebun."
__ADS_1
"Aku tak punya hidup yang gemerlap. Dibanding dengan semua list kekasihmu. Kau akan menyesal berada di sini." Dia benar, dari semua list kekasihku dia yang paling jelek nilainya.
Aku menatapnya dan menjawabnya.
"Iya tak apa, kau benar soal itu. Tapi aku sudah lelah dengan standart terlalu tinggi tapi mereka semua berakhir dengan mengecewakan. Aku tak akan menuntut berlian 5 karat, jikapun iya kurasa aku bisa beli sendiri." Aku tertawa sendiri menatapnya. "Ada pertanyaan lagi Sir Xavier."
"Aku merasa tersenggol ketika kau bicara standart. Apa kau punya angka untuk standartmu itu, mungkin grade C- sampai A+. Kurasa gradeku tak cukup baik." Aku meringis lebar. Dia benar pertama kali melihatnya aku hanya memberinya nikai 65. Sedikit lebih baik dari cukup.
"Itu hanya standart yang tak berguna sampai saat ini."
"Baiklah, lalu apa yang kau harapkan dariku."
"Orang yang selalu ada untukku, jujur, setia. Itu saja."
Dia menghela napas.
"Aku tak tahu apa yang harus kukatakan padamu Al. Kurasa kau akan menyesal berada di sini."
Aku tak perduli pernyataan pesimisnya, mari sudahi omong kosong ini.
"Xavier, jadilah kekasihku?" Aku mengatakan langsung pada Sir Xavier tanpa takut, memintanya jadi kekasihku dan dia melihatku dengan tenang tanpa ekspresi terkejut atas permintaanku.
__ADS_1