
POV Allison.
Dia mengikutiku masuk ke ruang kerjaku dengan tenang, terlepas dia baru dihajar oleh William, tapi nampaknya tak terlalu berpengaruh untuknya.
"Kau baik-baik saja?" Aku bertanya setelah kami masuk. Menekan perasaan kecewaku, aku bersikap teŕlalu tenang untuk orang yang dikecewakan.
"Allison, semuanya tak seperti yang kau pikirkan. Apa..." Dia meraih tanganku dan aku menepisnya.
"Jangan menyentuhku." Xavier langsung terdiam saat aku menepis tangannya.
"Kita batalkan saja bertemu Ayah." Aku melanjutkan dengan apa yang kupikir benar. Buat apa dilanjutkan jika tak ada yang kurasa benar. "Terima kasih untuk kau merekomendasikan firma ke Charleston Hotel, aku akan mentransfer komisi untukmu nanti. Jumlahnya aku bicarakan dulu dengan William." Aku berhasil mempertahankan ketenangan suaraku sampai aku sendiri kagum, hanya aku tak bisa menatapnya.
"Aku tak butuh uangmu. Jika aku butuh aku akan memberitahumu soal itu."
"Itu hanya komisi, semua orang berhak mendapatkannya. Lagipula aku bersyukur kau memasukkan nama firma, berkat itu kelas portofolio kami meningkat. Ini hanya bisnis tidak ada yang personal Xavier." Kali ini aku berhasil menatapnya sebentar, sebelum mengalihkan pandanganku lagi. Aku kecewa padanya, tapi aku tahu dia tidak sebejat David. Jauh lebih baik setidaknya.
Setidaknya aku tahu dia tidak seburuk David Montgomery, yang menganggap wanita hanya permainan, manusia punya sisi lemah mereka masing-masing. Tapi apa dia mencintaiku, kurasa ...entahlah, hanya dia yang tahu karena akupun tak tahu.
"Kau tak usah khawatir, aku tak akan mengadu pada Ayah. Ini urusan pribadi, ini bukan pengkhianatan politik,..." Aku melanjutkan dengan tetap tak mau melihatnya.
"Al, ..." Sekarang dia membuat aku memandang wajahnya dengan memegang bahuku "...aku tak menyuruh David mengetesmu, dia sudah mengatakannya ini salah paham." Bagian yang bukan dia yang menyuruhnya aku tahu, sayangnya bukan itu yang kuingin tahu.
__ADS_1
"Salah paham? Tapi kau bahkan membiarkan dia mengetesku, kau tak marah pria bangsat yang sudah mencicipi banyak wanita seperti itu mendekatiku, aku mendengar sendiri kalian membicarakan aku seperti objek penelitian. Apa benar kau menyukaiku, atau karena aku anak Lyold Austin seperti kata David?"
"Bukan seperti itu. Aku sama sekali tak tahu dia berencana mendekatimu."
"Aku menceritakannya padamu. Tapi jelas kau diam saja."
Sekarang dia diam. Dan aku sudah cukup bicara, aku juga tak perlu jawaban darinya, karena dia juga bertanya pada dirinya sendiri untuk jawaban pertanyaa n itu, aku melepaskan tangannya dariku.
"Kita akan berteman biasa saja Xavier. Kurasa pembicaraan kita sudah cukup, aku minta maaf William memukulmu, tapi aku menjamin kariermu tak akan terpengaruh oleh masalah ini. Kau tak usah takut, Ayahku tak akan tahu. Aku harus bekerja, seharian aku hanya menghasilkan coretan acak di kertas." Aku tertawa sendiri, sebelum rasanya berbalik seperti aku akan menangis.
Tak ada bedanya, mataku sudah merah seharian ini. Aku butuh istirahat lebih dari apapun hari ini melelahkan sekali. Aku akan tidur cepat, minum teh camomileku, saat-saat seperti ini mungkin mendengar suara Mom akan membuatku lebih baik.
Laki-laki, termasuk Xavier, mereka hanya manusia, aku berharap, harapanku tak sesuai kenyataan aku kecewa.
"Dari awal kita hanya teman dekat Xavier, mungkin kau lupa status kita dan itu kau juga yang mengatakannya padaku. Kita tidak putus, aku hanya sedikit berharap terlalu banyak pada teman dekatku. Mungkin aku membebanimu selama ini. Maaf untuk itu."
"Tidak ada yang saling membebani Al. Aku menetapkan status kita karena aku menghormati Ayahmu."
"Kau memang lebih mementingkan Ayahku daripada aku." Aku tersenyum, aku tak bisa melihat dengan jelas karena dibutakan perasaanku sendiri. Sekarang setelah semalam diterpa hujan badai nampaknya kabutnya sudah hilang.
"Al, bukan begitu."
"Jelas memang begitu." Aku membalas dengan cepat.
__ADS_1
Semua sebutan itu sudah jelas. Kami hanya teman, aku yang terlalu cepat membuat semua berjalan sesuai dengan keinginanku sendiri. Kejadian ini membuat aku belajar bahwa aku terlalu memaksakan keinginanku. Aku berkoar kepada Alma harus dia yang mengatakan sendiri kami kekasih tapi kenyataannya aku yang memaksakan sesuai dengan kehendakku.
Semua tanda sudah jelas, hanya aku yang tak bisa melihatnya.
"Kau ingin kita tidak bertemu lagi?" Pertanyaannya membuatku memandangnya, aku mengangkat bahu.
"Entahlah, apa menurutmu kita harus bertemu? Untuk apa?" Aku membalik pertanyaan padanya.
Apa yang dia inginkan? Dia ingin bertemu denganku? Untuk apa? Bukankah dia sendiri yang harusnya menjawab pertanyaan itu.
"Kau ingin ini berakhir begitu saja?" Aku melihatnya bertanya dengan wajah pasrah. Dia kembali bertanya pertanyaan yang sebenarnya sama saja.
Apakah ini akan berakhir kau yang menentukannya Xavier. Aku serahkan padamu. Untuk sekarang aku tak punya jawaban untuk pertanyaanmu. Kurasa kau punya otak sendiri untuk memutuskan.
"Pergilah Xavier, aku rasa kita sudah selesai bicara."
"Kau memutuskan hubungan ini hanya berdasarkan kesalahpahaman?"
Sekarang emosiku langsung naik.
"Apa aku berkata apapun soal putus?! Kau yang bilang kita cuma teman! Kau bodoh atau apa!? Sekarang pergi dari sini!"
Dia tidak pergi. Aku yang akan pergi sekarang. Kutinggalkan dia di ruanganku dan pergi ke ruangan William.
__ADS_1
Aku tak ingin bicara lagi dengannya. Dasar bodoh! Dalam tiga bulan ke depan, jika kau tak memperjuangkan apapun untukku. Aku akan membuangmu dari hidupku.