
"Nona, kau lapar? Aku punya tamales, jika kau mau aku juga punya sup cream dan spaggeti." Dia tersenyum dan pura-pura tak bersalah
"Kau bicara sesuatu pada Sir Xavier?" Aku curiga dia bicara aku mengharapkan Sir Xavier, dan menyuruhnya mengejarku, karena jelas hal itu tak terjadi di. sini.
"Bicara apa maksudmu Nona." Alma langsung tersenyum lebar dan menyembunyikan wajahnya dariku.
"Kau tahu apa maksudku. Jangan berlagak bodoh.C Aku bersilang tangan menantikan jawabannya.
"Kau mau curhat padaku, kau sedang dalam badmood bukan. Sesuatu terjadi dengan pacar barumu?" Alma tersenyum kecil padaku, aku tak bisa membohongi wanita yang jauh lebih tua dariku ini. Dia benar sesuatu terjadi. Aku tak bisa menjawabnya. Aku diam sesaat menyender di meja marmer dapurnya, dia mengingatkak sesuatu yang coba kusembunyikan dengan melampiaskan emosiku lw orang lain.
"Nona kau tak mendengar saranku, lihat apa yang terjadi sekarang. Kau sakit hati lagi dengan pangeran-pangeran tampanmu. Kau tak perlu pangeran tampan Nona, kau hanya perlu pria yang setia dan selalu kembali padamu. Dua hari ini kau memarahi semua orang karena kau kesal akan sesuatu bukan."
Aku menunduk, mataku panas, Alma mengosok lenganku dengan simpati dan dia menghela napas panjang melihat kemuramanku. Tiba-tiba saja aku ingin meminjam pundak seseorang untuk menangis.
"Jangan menangis, kenapa kau menangis untuk orang yang menyakitimu. Anggap aku ini kakak yang sudah hidup jauh lebih lama darimu, apa yang kukatakan padamu demi kebaikanmu Nona, berhentinya mencari pangeran tampan. Carilah pria yang baik..."
__ADS_1
Sebutir air mata tetap jatuh tapi aku tersenyum pada Alma. Kuhapus air mataku.
"Aku memang bodoh."
"Bagus kau mengakuinya. Makanlah, tamales buatanku ini enak, lebih baik kau makan lebih banyak daripada kau menangisi hal yang sia-sia." Alma menepuk lenganku dan memberi tamale ke tanganku. Aku tertawa kecil karena kebaikan hatinya.
tamale adalah adonan dari tepung jagung yang dikukus dengan bungkusan kulit jagung atau daun pisang dan isiannya biasanya daging.
"Aku mau menyelesaikan pekerjaanku, ini terima kasih Alma." Aku mengupas tamales di tanganku.
Aku merasa lebih baik setelahnya dan berhenti memarahi orang lain. Sore menjelang, mereka yang mengerjakan pembersihan sudah selesai, detail terakhir sudah ditaruh di tempatnya. Aku senang melihat rumah ini.
"Aku akan merawatnya, aku sangat menyukai rumah ini sekarang. Ini semua sangat cantik." Alma berdiri di sampingku.
"Aku baru kali ini membuat desain tradisional seperti ini. Jarang sekali yang meminta desain seperti ini, tapi ternyata ini memang bagus."
__ADS_1
"Makan malam dengan Tuan hasilnya juga akan bagus."
"Oh ayolah Alma."
"Oh ayolah Nona, kau tak lihat rumah ini tidak perlu marmer mewah untuk membuatnya begitu indah. Aku tahu kau sering membuat desain dengan lantai marmer mengkilat, karpet tebal yang mewah dan lampu kristal yang mewah. Tapi rumah ini, bahkan dengan hanya kayu biasa kau akan merindukannya."
"Kau sangat pandai berkata-kata." Alma tertawa ketika aku menyindirnya.
"Cobalah semalam, kau akan merindukannya." Giliran aku yang tertawa.
"Kau sangat berusaha." Dia tertawa.
"Baiklah, terserah Nona saja. Semoga makan malamnya menyenangkan. Di kamar tamu, kamar mandinya sudah bersih Nona."
"Iya. Aku akan berganti baju di sana."
__ADS_1