Mr. Lawyer Fatal Attraction

Mr. Lawyer Fatal Attraction
Part 26. Another Handsome Prince


__ADS_3

Aku mandi dan berganti pakaian, dengan blouse kerja baru dan celana panjang santai. Sir Xavier sedang duduk di ruang tengah ketika aku keluar. Dia hanya memakai kemeja santai hitam dan celana pendek putih. Seperti kata Alma dia memang mungkin tak setampan pengeran impianku. Tapi yah dia ada di sana, pria yang baik, apa benar aku bisa merindukan pria seperti ini.


Cobalah semalam, kau akan merindukannya. Usul Alma yang konyol. Dia hanya akan melihatku sebagai pembuat masalah.


"Kau siap? Mau makan di mana?"


"Bagaimana jika kau yang mengusulkan."


"Restoran Italian?"


"Boleh."


"Naik mobilku saja?"


"Iya baiklah."

__ADS_1


Jadilah Sabtu sore itu aku duduk disebelahnya untuk menuju ke sebuah restoran Italian di dekat sana malam itu. Setidaknya aku tidak terkurung menangis di kamarku. Itu akam sangat menyedihkan. Tapi yang seperti ini masih bisa kutanggung.


"Kau ada masalah." Di sela-sela perjalanan kami dan pembicaraan dia menyenangi hasil akhir yang di lihatnya, dia tiba-tiba bertanya. Aku tak akan memberitahunya Itu akan membuatku terlihat bodoh.


"Tidak, hanya masalah pekerjaan."


"Benarkah?"


"Benar..."


Apa yang harus kuberitahu padanya? Calon kekasih menjadikanku taruhan dengan 5,000 dollar. Jika bisa aku tak ingin lagi bertemu dengan Victor, tapi cepat atau lambat kami akan bertemu lagi, apa yang harus kulakukan? Menghajarnya? Itu sepertinya akan mempermalukan diriku sendiri, mencari masalah dengan mereka, belakangan aku sadar lebih baik tidak beruruşan dengan orang yang membuatku sakit hati.


Sampai sekarang aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Karena aku bilang aku sibuk, Victor juga tidak meneleponku sampai sekarang.


"Apa kau perlu bantuan?" Gara-gara aku melamun dia bertanya.

__ADS_1


"Tidak, tentu tidak. Sir Xavier sudah banyak membantu."


"Kau boleh memanggilku nama, aku tak masalah. Itu terdengar lebih akrab, tak perlu terlalu formal denganku. Jika kau butuh bantuan katakan saja, atau saran. Kau sedang patah hati lagi? Kemarin kau tertahan di Westbury karena patah hati, apa dalam tiga bulan kau patah hati lagi?" Ternyata dia penasaran dan memutuskan mendesakku.


"Tidak yang ini hanya teman yang tidak bisa kupercaya." Aku memang masih belum menerimanya sebagai kekasih. Jika sudah mungkin aku akan lebih sedih dari inì.


"Ohh jadi yang ini adalah teman dekat yang ternyata brengsek Kau butuh bantuanku untuk menilai." Dia tertawa kecil dengan kesimpulannya sendiri. Yang ternyata tepat itu. Aku menunduk untuk menyenbunyikan rasa malu dan sedihku.


"Hmm...tidak, kurasa aku hanya tidak beruntung." Aku menghela napas. Rasanya aku ingin mengatakan apa yang terjadi tak perduli apa yang dipikirannya. Biarkan saja dia mengatakan aku bodoh, aku memang bodoh hampir percaya padanya.


"Aku tahu mereka memasang taruhan untuk mendapatkanku. Seharga hanya 5.000 dollar." Aku tertawa sekarang, entah bagaimana terasa lega menceritakannya. "Hanya 5.000 dollar. Tak bisakah mereka memasang lebih tinggi sedikit, dan buktinya harus dengan foto bersama saat tidur denganku. Kupikir aku bisa mempercayai Victor, kami teman sejak SMA... ternyata itu cuma taruhan. Aku memang bodoh, kau boleh menertawakanku."


"Dimana kau mendengar itu, siapa yang mengatakannya padamu."


"Aku mendengar sendiri mereka membicarakannya."

__ADS_1


"Ohh..." Jika orang yang mengatakannya aku pasyi tak langsung percaya tapi yang ini aku mendengar sendiri apa yang mereka katakan.


__ADS_2