
Aku menunggunya menjawab. Dia membuatku tak sabar. Dia hanya menatapku tanpa menjawab.
Baru dia yang membuatku mengajukan pertanyaan ini. Aku melanggar prinsipku sendiri, aku tak tahan dia mengabaikanku dan berlaku semuanya adalah hal normal padahal dia tertarik padaku.
"Kenapa kau tidak menjawabku."
"Kurasa kau hanya sedang butuh teman bicara Al. Sudah kubilang hanya karena kau kecewa ke satu atau dua orang tidak berarti yang lain sama. Kurasa kita tak akan cocok, lebih baik menjadi teman saja."
Dia menolakku. Tapi membiarkanku menjadi temannya. Kau pikir aku akan melepasmu? Dia menghajar pacar-pacarku tapi mengatakan dia tak punya level bersaing dengan pacar-pacarku.
"Kau pikir aku menjadikanmu pelarian."
"Iya, mungkin begitu. Sudahlah kita makan dulu." Dia bahkan tak menanggapi pertanyaanku, menganggapnya itu tak ada. Dia menolakku. Jika aku tak bertanya dia akan membiarkanku menunggu tanpa kejelasan karena dia merasa aku hanya memanfaatkannya.
Ini tidak akan berakhir begini. Aku menghela napas panjang, mencoba berpikir jernih. Aku salah langkah, tadi aku terbawa emosi karena dia mencoba mengabaikanku dan bersikap semuanya baik-baik saja.
Aku perlu tenang tak boleh mendesaknya, salah-salah aku berakhir seperti Miranda. Dia akan menganggapku putri kesayangan keras kepala yang menyusahkan. Dia tertarik padaku, aku tak akan salah menangkap perhatiannya. Dia hanya belum mengenalku untuk berpikir aku serius dengannya.
__ADS_1
Dan terutama dia tidak mengenal siapa aku. Bagaimana kepribadianku. Mungkin dia meyangka aku adalah putri cantik manja yang suka mengamuk. Aku tak menyalahkannya, kami belum punya banyak waktu bersama.
Mungkin semalam setelah aku menggodanya dia berpikir panjang apa dia akan maju atau mundur, dan hari ini saat datang ke sini dia mengatakan ini.
Aku mengambil keputusan apa yang harus aku lakukan.
"Baiklah, kita berteman saja. Tapi aku boleh ke sini bukan."
"Apa?" Dia sekarang menampakkan sedikit keterkejutan dalam ekspresinya, tak menyangka aku akan dengan tenang menarima kata-katanya untuk berteman saja. Sepertinya dia sudah bersiap dengan perhitungan aku akan berjalan pergi dan merajuk ketika dia mengatakan kami lebih baik berteman.
"Iya boleh."
"Ya sudah terima kasih. Kau yang terbaik." Dia diam melihatku, mungkin tak menyangka aku akan berubah sikap begini.
Xavier tersayang, aku suka kau. Kau pikir aku akan mundur, kau salah besar, tetap saja akan kubuat kau yang maju duluan. Aku salah langkah tadi, tapi tak mengapa ini juga akan menguntungkan di depan, sekaligus membuang rasa kesal dan penasaranku, sekarang kau tahu aku benar-benar menyukaimu. Permainan sebenarnya akan dimulai dari sekarang.
__ADS_1
"Ayo makan, Alma membuat makanan enak untuk kita habiskan."
Dia melihatku dengan pandangan binggung. Sementara aku berubah sikap 180° karena sudah bisa menguasai diri.
Kami makan, aku merubah topik pembicaraan ke hal lain, lagipula aku akan sampai sore di sini untuk menghabiskan waktu.
"Aku mau melihat panen musim gugur, mereka pasti bekerja bukan."
"Iya seperti biasa."
"Baiklah, aku akan mencari Salma." Aku pergi dari depannya setelah makan. Salma dan Alma akan menghibur hatiku saat ini, tak perlu bersedih, aku memang salah langkah sekarang.
"Alma kau mau ke kebun."
"Sebentar lagi Nona, setelah selesai membereskan meja makan. Aku akan menyusulmu."
"Baiklah."
__ADS_1
Aku melenggang pergi. Dari sudut mataku aku melihat dia masih binggung dengan apa yang kulakukan.