Mr. Lawyer Fatal Attraction

Mr. Lawyer Fatal Attraction
Part 19. Alma Idea


__ADS_3

Hari ini sudah hampir sore, tapi matahari musim semi akhir di negara bagian New York ini baru terbenam jam sembilan malam di awal Juni ini. Aku benar-benar malas pulang ke rumah terlalu cepat. Jadi aku membantu Alma dan Salma panen stawberry sore ini.


"Nona, kau serius mau membantu kami, kami tak bisa membayarmu." Aku tertawa, mana mungkin aku minta mereka membayarku.


"Aku akan jujur pada kalian, aku sedang patah hati, pulang ke rumah terlalu cepat di musim semi ini akan membunuhku. Tolong biarkan aku membantumu. Bagaimana jika aku mengajak kalian berdua makan malam bersamaku sebagai imbalannya boleh aku memetik rose dan dahlia kalian. Ayolah temani aku makan malam."


"Nona? Kau serius?" Alma dan Salma memandangku dengan tak percaya.


"Sangat serius."


"Kalau begitu kau mau bawa pulang strawberry dan wortel bukan. Kau tak usah membayar kami." Alma mengusulkan.


"Tidak...tidak, itu kerja keras suami kalian. Aku akan membayar apa yang harus kubayar, makan malam itu hadiah untuk kalian yang menemaniku. Restoran yang kalian suka, terserah kalian. Masakan mexican juga boleh."


Mereka berdua berpandangan.


"Ya baiklah. Kami juga ingin sesekali bisa makan di luar." Aku tersenyum ketika mereka setuju menjadi temanku menghabiskan malam yang menderita ini.


Akhirnya aku punya acara akhir minggu ini. Setidaknya aku sedikit terhibur. Aku berkubang dengan gembira di antara mawar dan dahlia aneka warna yang ditanam dan sudah mekar sempurna.



Sementara climbing rose yang merambat di samping dinding bungalow itu membuatku merasa berada di taman sebuah kastil tua yang dimiliki oleh seorang duchess. Mereka menanam beberapa varietas climbing rose yang punya warna-warna luar biasa cantik.

__ADS_1



Climbing Rose Eden



Climbing rose Danse de Feu



Climbing Rose Souvenir de Docteur



Rosa 'Crown Princess Margareta



...........🌼🌼🌼🌼🦋🦋🦋🌼🌼🌼🌼...........


Zinnia aneka warna menambah semarak tempat ini. Ini memang tempat pertapaan sempurna. Aku betah berada di sini berjam-jam sementara Alma dan Salma menyelesaikan packing strawberry yang akan mereka kirim ke toko.


"Kau mau ke mana?" Sir Xavier yang sudah melihatku bersiap dan memasukkan bunga dari belakangan langsung bertanya. Sementara Alma dan Salma yang sudah rapi mengikutiku ke mobil.

__ADS_1


"Makan malam bersama Alma dan Salma."


"Apa?"


"Nona Allison sedang patah hati Tuan, jadi kami menemaninya melupakan kisah cintanya yang menyebalkan."


"Oh begitu." Dia meringis dan menertawakanku. Aku tahu dia akan melakukan itu.


"Kau tega menertawakanku Sir Xavi?"


"Aku tidak menertawakanmu."


"Lihat ekspresimu itu." Kami sudah nyaman bicara lebih seperti teman sekarang.


"Aku baik-baik saja dengan ekspresiku." Dia tertawa dan tak perduli aku marah karena dia menertawakan aku yang sedang putus cinta.


"Ayo Alma, Salma, tidak pria tak ada yang mengerti penderitaan wanita."


"Itu benar Nona. Mereka memang mahluk yang payah."


"Hei kalian bertiga di sini aku tak tahu apa-apa. Kenapa kita bawa gender ke pembicaraan ini. Alma aku bosmu kenapa kau membela Allison." Protes boss yang tidak akan di dengar karena klub wanita ini sedang kompak sekarang.


"Karena persamaan nasib boss, pria tak peka memang tidak bisa diharapkan." Kami bertiga para wanita, tertawa bersama.

__ADS_1


"Kami pergi boss."


"Sir Xavi, pergilah ke rumah sebelah, ada yang menunggumu. Aku juga mau lasagna." Aku masih menggodanya.


__ADS_2