Mr. Lawyer Fatal Attraction

Mr. Lawyer Fatal Attraction
Part 18. Alma Idea


__ADS_3

Aku menghabiskan hari ini di lapangan setelah semalam kecewa dengan Richard yang bahkan tidak ingat kami punya kencan.


Ada suara mobil di luar, apa Sir Xavier datang ke sini.


"Bossmu datang?" Aku bertanya ke Alma. Aku tidak pernah ke sini jika akhir pekan.


"Ohh iya, dia memang biasa tetàp datang ke sini, tapi dia pulang ke Manhattan sorenya dan menumpang mandi di bungalow." Sudah mungkin sebulan aku tak melihatnya. Masalah Mason diberitahu lewat telepon dan aku hanya melaporkan masalah rumah lewat telepon.


Tak lama yang dibicarakan muncul di dalam rumah.


"Kenapa kau bisa muncul di sini akhir pekan?" Dia menunjukku sambil berkacak pinggang. Dia tahu aku di sini, dengan melihat mobilku yang ada di luar.


"Aku tak punya sesuatu untuk dilakukan. Jadi aku datang melihat proyek, aku bisa membeli strawberry ke Salma jika pulang. Sedikit mengubah desain dapur karena besok mereka mulai merenovasi dapur." Aku memberikan alasan teknis. Bukan alasan hati tentu saja.


"Disini berdebu dan berantakan. Pikiranku tambah kacau jika di sini, aku ke kebun dulu." Sir Xavier dengan cepat menghilang dari rumahnya yang memang sedang porak-poranda itu. Banyak scaffolding terpasang karena dindingnya cukup tinggi, aku mengabaikannya dan masih bicara dengan Tuan Bufford beberapa saat.


Tak lama setelah perkerjaaaku ke kebun mencarinya. Dia ada di kebun membantu para pria panen row-row wortel.


"Ini olahraga bagimu Sir."

__ADS_1


"Iya hampir seperti itu." Dia dan para pria memakai boot dan topi lebar anyaman yang kurasa adalah khas Mexican.


"Tak biasanya kau datang di akhir pekan?"


"Tak apa hanya ingin semuanya beres, aku baru merubah gambar dan ingin kepala proyek tahu perubahannya supaya dia tidak salah langkah." Dia memperhatikan ekspresiku sesaat, tapi kemudian tidak berkata apa-apa.


"Mau wortel."


"Boleh."


"Jaquez, nanti bersihkan dan berikan ke Nona Allison."


"Aku mau ke Salma dulu membeli beberapa strawberry, wortelnya kubeli juga, itu hasil panen mereka aku tak enak mengambilnya begitu saja." Belakangan jika aku bertemu Salma aku selalu membeli strawberry, jika ada buah yang lain aku akan senang, tapi belum ada nanti di akhir musim semi baru beberapa mungkin matang.


"Ya baiklah terserah padamu."


Teleponku berbunyi. Aku melihat layarnya. Ternyata Richard, ada apa lagi dia menelepon. Aku menghela napas sebelum mengangkatnya.


"Richard ada apa?"

__ADS_1


"Bagaimana jika aku menjemputmu malam ini. Kita makan malam berdua? Terserahmu memilih tempat." Kenapa rasanya de javu, dia akan membawakanku bunga malam ini, memberikanku pujian setinggi langit untuk malam ini lalu mencuri ciumanku.


"Tidak bisa aku bekerja."


"Sabtu kau bekerja."


"Iya."


"Kau marah padaku bukan. Lain kali tak akan terjadi lagi."


"Kenapa kata-kata itu terasa familiar Ric, bukan sekali kau mengatakannya. Dan apa yang akan terjadi nanti juga sama familiarnya. Sudahlah, jangan menelepon lagi. Aku tutup teleponnya, aku sibuk."


"Aku tidak..." Kupotong dia. Semalam aku bicara baik-baik. Tapi hari ini dia membuat hariku terasa buruk jadi aku ketus.


"Sudah kubilang aku ada pekerjaan. Aku tutup teleponnya." Kumatikan teleponnya dan langsung kumasukkan ke sakuku. Sir Xavier memperhatikanku.



"Efisien sekali." Sir Xavier membuat komentar sambil meringis.

__ADS_1


"Aku memang efisien." Kutinggalkan Sir Xavier dan pergi ke Salma. Kurasa ku perlu beli bunga untuk diriku sendiri. Mawar dan dahlia yang ditanam Salma dan Alma cukup menghiburku.


__ADS_2