
POV Author
Lyold Austin menatap istrinya. Mereka selesai menelepon Allison, walau ada hal yang membuat mereka tenang tapi ada juga hal yang membingungkan.
"Apa ini artinya mereka putus." Lyold Austin bertanya. Sebenarnya Ayahnya sudah tahu tentang hubungan Allison dan Xavier dari istrinya. Walaupun Allison berpesan kepada Ibunya jangan memberitahu Ayahnya tapi akhirnya saat suaminya bertanya dengan penasaran siapa yang di bilang Allison jelek dia bertanya juga ke istrinya. Istrinya cerita siapa si jelek yang di maksud Allison.
Setelah tahu itu adalah Xavier dia membiarkannya. Xavier menurutnya adalah pria yang baik, walaupun istrinya nampaknya tidak begitu menyukai Xavier .
"Aku juga tak tahu. Tapi mungkin nanti aku bisa bertanya lebih jauh ke Allison, mungkin dia tak nyaman cerita detail padamu. Nanti aku akan coba mengoreknya." Istrinya juga sedikit khawatir dengan status hubungan mereka.
"Aku akan bicara ke Xavier nanti. Kau tahu kalian wanita itu kadang memusingkan bagi pria, entah apa masalah mereka kita akan samakan nanti."
"Pria yang memusingkan, jangan salahkan wanita. Kalian memang tidak peka." Karena perkataan itu sang Nyonya langsung menanggapi.
"Aku berdoa di kelahiran berikutnya aku akan dikaruniakan indera ke enam agar lebih peka." Lyold Austin balik menyindir Camilla istrinya.
__ADS_1
"Xavier itu pasti sama kakunya denganmu. Lihatlah dia, duda enam tahun, apa yang dia tunggu, profesi pengacara, kerjanya berkutat dengan buku-buku tebal, benar-benar tak bisa diharapkan, sampai Allison menangis begitu. Jika aku bertemu dengannya akan kusindiir dia. Ahh tapi mungkin dia tak mempan di sindir sepertimu."
"Apa masalahmu. Ada lagi yang salah bagimu?"
"Kau tak dengar kata William, temannya sendiri yang mengetes apakah Allison mau kencan dengannya."
"Xavier pasti punya penjelasan untuk itu. Kau dengar Allison sendiri bilang itu salah paham."
"Kuingatkan kau jangan memberi kemudahan untuk Xavier, Allison sampai menangis gara-gara dia."
"Kalau begitu kita dengar dari Allison dulu. Jangan percaya orang lain sebelum mendengar dari putrimu sendiri."
"Ya itu makanya aku bilang, kau mendengarkan Allison dan aku bertanya pada Xavier. Nanti kita bahas."
Pada dasarnya tidak ada pertentangan dari Ayah Allison terhadap Xavier. Dia cukup mengenalnya dan berpikir Xavier adalah orang yang bisa diandalkan. Walaupun Ibunya sedikit tidak menyetujui karena perbedaan umur, apalagi dia duda, tapi selama Allison suka Ibunya akan menyetujui mereka.
__ADS_1
Sekarang karena pria itu membuat Allison menangis istrinya kembali meragukannya.
"Kau pikir Xavier itu baik untuk Allison? Kenapa aku tak suka padanya." Istrinya sekarang merasa harusnya mereka tak bersama.
"Itu penilaian subjektifmu jangan menilai seseorang jelek hanya karana sesuatu yang tidak kau tahu kebenarannya. Perasaanmu tak bisa dipakai untuk hal seperti ini."
"Kebenarannya adalah belum apa-apa dia sudah membuat Allison menangis, bahkan kurasa mereka belum jadi kekasih. Dari awal aku sudah tidak menyukainya. Mareka pasti putus. Lebih baik begitu, tidak ada yang baik jika dari awal saja sudah bertengkar begini."
"Itu urusan mereka kita hanya bisa memberi saran. Kau jangan terlalu ikut campur urusan mereka. Allison tahu apa yang baik buatnya."
"Kau benar aku akan memastikan dia tahu kalau lebih baik tidak melanjutkan kalau di awal-awal saja sudah penuh pertengkaran."
Padahal Ayah Allison juga sudah melihat dibanding dengan pacar-pacar Alison yang sebelumnya Xavier dia rasa lebih baik. Pria kaya datang dengan kebanggaannya sendiri, kadang anak-anak orang kaya ini banyak tingkah. Para kekasih Allison yang adalah orang kaya itu tak menarik perhatiannya sama sekali. Dan terbukti semuanya berakhir dengan tak baik.
Xavier adalah seorang profesional di bidangnya sama seperti dirinya, dia duda karena istrinya meninggal, kemudian dia cerita sendiri butuh waktu untuk menghapus rasa bersalah atas kematian istrinya. Itu hal yang normal. Dia tidak punya masalah dengan sisi pribadi Xavier.
__ADS_1
Lagipula Xavier adalah orang yang berjuang di jalur karier, Ayahnya seperti menemukan persamaan yang bisa di terima. Mungkin hal itu tak berarti untuk wanita. Tapi bagi Ayahnya Allison itu seperti berada di liga yang sama.