Mr. Lawyer Fatal Attraction

Mr. Lawyer Fatal Attraction
Part 51. First Date 2


__ADS_3

"Kau memang menyebalkan. Bilang saja kau takut pada Ayahku? Dia tidak akan membunuh pacarku. Kemarin Ayahku meneleponku bertanya apa aku punya pacar,..." Sengaja tidak kulanjutkan. Aku senang dia langsung melihatku dengan tegang.


"Lalu?"


"Aku sudah memberitahunya, kuberitahu aku bersamamu sekarang?" Dia melihatku, nampak berpikir.


"Jika kau memberitahu Ayahmu, dia pasti langsung meneleponku." Aku tak bisa membohonginya. Lenyap sudah rencanaku untuk membuatnya panik dan menelepon Ayah untuk membuatnya terjebak.


"Jadi jika aku bertemu pria tampan aku lebih baik pergi dengannya saja?"


"Sebenarnya itu pilihanmu, bukan aku."


"Kau tahu jika aku sudah memutuskan aku akan setia pada pasanganku. Yang membuat semua hubunganku tak berjalan adalah pacar-pacarku yang tampan itu mereka terlalu banyak mendapatkan perhatian dari wanita lain. Itu saja yang perlu kau tahu...Ya sudah kita nonton saja filmnya sudah mau mulai."


Nampaknya masih perlu waktu untuk meyakinkannya bahwa aku serius. Tapi kami sudah sampai sini, anggap saja kami sudah sampai di tahap teman mesra. Butuh beberapa saat tapi aku yakin dia akan mengakuiku cepat atau lambat.


Dia mungkin hanya ingin memastikan apa aku bersungguh-sungguh selama beberapa saat yang pasti sampai di sini dia tak keberatan aku menyentuhnya. Dia sudah jadi milikku.

__ADS_1


Setelah nonton dan makan malam dia mengantarku pulang dengan mobilku ke apartmentku, dia akan pulang dengan taxi ke apartmentnya sendiri.


Aku sudah bisa bersandar padanya. Aku sangat senang tentu saja, ini 100% adalah kencan pertama. Tak kusangka bisa seperti ini di penghujung malam ini.


"Kau tidak ingin naik." Aku masih menggodanya saat pulang saat kami sudah hampir mencapai apartmentku.


"Kau tahu aku tak bisa. Kita begini saja dulu."


"Apa yang begini saja dulu. Jangan bermain kata-kata denganku.


"Kapan kita menjadi kekasih."


"Pada saat yang tepat."


"Kau memang sulit." Dia tertawa sekarang. Kami hampir sampai ke lobby dan aku memintanya masuk ke parkir basement.


"Ya baiklah, aku pulang oke." Dia membuka seat belt dan bersiap keluar.

__ADS_1


"Kemarilah sebentar." Aku tidak akan melepaskan dia begitu saja. Aku menyuruhnya mendekat dengan lambaian tangan saat mataku menyusuri layar ponsel.


"Ada apa?" Dia berpikir aku akan menunjukkan sesuatu di layar ponsel. Tapi tentu saja bukan itu maksudku.


Saat dia mendekat, saat itu pula tanganku merangkul tengkuknya. Sebuah ciuman gemas langsung bersarang pada pipinya. Dia kaget, tapi tak bisa menghindar.


"Apa yang..." Aku masih belum melepasnya, sementara aku melihatnya senyum kemenangan dan dia mengelus pipinya yang kucium.


"Kau teman dekatku. Ingat itu, kau tak boleh punya teman dekat yang lain. Apa kita setuju? Harus ada yang kita sepakati soal term teman dekat. Katakan kau setuju atau aku tak akan melepasmu." Dia malah tertawa saat aku mengancamnya.


"Aku memberimu kebebasan. Jika kau ingin menemui yang lain lakukan saja."


"Aku tak akan menemui yang lain. Bagiku kau kekasihku. Jangan membuatku marah soal ini lagi. Jika kau takut pada Ayahku, aku yang akan bicara padanya."


"Tidak, aku lakukan sendiri." Aku tersenyum sekarang, jadi dia sudah punya rencananya sendiri bagaimana dia akan bicara pada Ayah. Aku tak perlu khawatir sekarang, dia sudah pasti punya rencana tentang hubungan kami.


"Aku percaya padamu Xavier. Aku tak akan kemanapun."

__ADS_1


__ADS_2