Mr. Lawyer Fatal Attraction

Mr. Lawyer Fatal Attraction
Part 45. Daddy Interrogations


__ADS_3

"Dad! Aku sudah bilang padaku aku belum punya pacar."


"Tapi kau menuju ke seseorang. Kau tak usah bohong. Àyah hanya ingin mengecek latar belakangnya."


"Tidak ada, yang kusebutkan hanya hal umum. Kau yang menganggapnya begitu."


"Oh ya? Kali ini aneh kenapa kau menyembunyikannya. Kita nanti harus bicara. Apa Ayah mengenalnya? Kenapa kau tidak mengatakannya saja. Ayah sudah bilang tidak akan mencampuri urusanmu, tapi pengecekan indentitas sudah jelas diperlukan. Kenapa kau bilang dia tak tampan, sejelek apa dia."


"Dia tak jelek! Dia..." Sial aku terpancing. "Maksudku aku bukan mengatakan aku punya pacar jelek, aku hanya tak ingin punya pacar yang terlalu tampan."


"Siapa yang tak jelek itu?" Lebih lama aku bicara dengannya aku akan semankin terpojok, aku tak bisa melakukan ini.


"Dad, aku harus pergi. Aku ada meeting."


"Sekarang kau mengalihkan Ayah? Kenapa Ayah tidak boleh mengecek indentitasnya? Apa Ibumu tahu?" Ini jadi tambah rumit. Sekelumit informasi saja bisa membuatnya bertanya sedemikian panjang.


"Dad! Aku sudah bilang aku belum punya pacar. Ibu tak tahu apapun."


"Kalian berdua memang mencurigakan. Aku akan tanya Ibumu...." Astaga aku tak bisa menang bicara dengannya. Lebih baik kututup saja.

__ADS_1


"Kututup teleponnya."


"Jadi sekarang kau main rahasia dengan Ayahmu, ada apa dengan yang ini, jika kau tidak membawa orangnya padaku Thaksgiving nanti, Dad akan suruh orang menyelidikinya."


"Dad, tidak ada yang begitu. Aku belum punya pacar, sebenarnya dia yang kuceritakan mungkin hanya teman sekarang. Aku menyukainya tapi dia mungkin menganggapku terlalu rumit. Dad percaya padaku, nanti kita kami siap kamu akan mengatakan pada Dad. Tapi mungkin juga aku dan dia tidak akan jadi kekasih hanya teman. Aku belum punya kekasih seperti yang kukatakan."


"Begitu."


"Iya begitu."


"Apa Ayah mengenalnya?"


"Dad kami bahkan belum jadi kekasih, aku tak ingin menyulitkannya. Bahkan mungkin tak akan kemana-mana jadi jangan tanya lagi oke."


"Jika kami jadian Ayah akan tahu siapa."


"Hmm... baiklah. Bagaimana kalau inisial namanya?"


"Dad!" Dad tertawa sekarang, setelah aku berteriak padanya.

__ADS_1


"Baik-baik Dad biarkan kau menanganinya sendiri."


Akhirnya pembicaraan itu selesai, tapi aku perlu memastikan bahwa Mom tak membocorkannya ke Dad.


"Mom, tapi Ayah meneleponku dia menginterogasi soal orang yang kusukai. Mom tolong jangan beritahu Dad dulu bisa bukan. Aku tak mau Xavier kena masalah, biarkan aku menanganinya sendiri. Lagipula saat ini dia terbatas menganggapku teman saja."


"Iya, Mom tahu. Tak usah khawatir. Mom tak akan mengatakan pada Ayahmu. Jadi kalian ada kemajuan?"


"Tidak, dia masih menganggapku teman. Belum ada kemajuan."


"Ahh begitukah? Apa dia menolakmu?"


"Iya begitulah yang terjadi Mom. Tapi dia tetap baik padaku. Dia bersedia jadi teman bicaraku. Dia tak menolak jika aku mengajaknya makan, bahkan dia mengirimiku kue."


"Apa kau pikir dia menyukaimu?"


"Kurasa dia menyukaiku. Tapi entahkah dia mungkin berharap aku berubah pikiran duluan. Lagipula dari sudut pandangnya terlibat hubungan denganku memang complicated."


Aku bercerita apa yang terjadi belakangan setelah Xavier menolakku pada Mom tapi dia juga tak tahu apa yang harus kulakukan.

__ADS_1


"Pelan-pelan saja, mungkin kalian bisa saling bicara dan mengenal lebih jauh. Ibu rasa jika begitu sikapnya, dia tidak menolakmu. Tak apa bukan pelan-pelan saja."


Iya pelan-pelan saja. Toh aku juga menikmati punya seseorang yang ada untukku saat aku membutuhkannya.


__ADS_2