Mr. Lawyer Fatal Attraction

Mr. Lawyer Fatal Attraction
Part 43. Lunch with Handsome Demon


__ADS_3

Iblis tampan itu memang punya aura otoritas mutlak. Staff-staffnya sepertinya mengerti hanya dengan lirikan mata. Dia sedikit jarang bicara dalam pertemuan tadi, kebanyakan nampak memperhatikan asal-asalan tapi saat ada yang salah atau terlewat dia tahu.


Iblis tampan ini hebat. Tak diragukan.


"Nona Allison, bagaimana kalau makan siang." Saat kami menyelesaikan meeting lanjutan siang itu dia menawarkan makan siang.


"Oh baiklah tentu saja."


Kami pergi ke sebuah restoran yang dipilihkannya. Dia lebih muda dari Xavier itu jelas terlihat tapi mungkin beberapa tahun diatasku.


"Boleh aku tahu bagaimana kalian bisa mendapatkan aku bisa dipilih menjadi salah satu partisipan dalam tender kalian. Diantara lima firma besar lainnya kami paling junior."



"Seorang dari tim kami yang pernah melihat designmu jadi dia menarik kau ikut tender. Tapi aku tak akan memberitahumu siapa, kau tak perlu memberinya komisi. Suap itu dilarang." Aku meringis.


"Baiklah, aku hanya penasaran. Rupanya media sosialku, memang banyak proyek yang kudapatkan dari sana."


"Kau tidak junior, jangan terlalu mengecilkan dirimu sendiri. Aku melihat portofoliomu, hanya kalian fokus ke hunian pribadi dan kantor. Tapi ini keberuntungan dan kau yang bisa menangkap peluang kemudian, Pamanku sangat menyukai desainmu. Orang yang merekomendasikan itu tidak salah dalam memilih."


"Aku sangat tersanjung bisa mengalahkan mereka di bidang yang bahkan baru satu kali ini kami coba sebenarnya. Ya keberuntungan taruhanku berhasil."


"Seperti kata Pamanku, kau cerdas. Tak salah jabatanmu Direktur Design di usia begitu muda." Iblis tampan ini memujiku dengan manis dia tahu bagaimana membuatku tersenyum.


"Kau juga menjabat Development Director di usia muda. Dan aku melihat staff-staffmu segan padamu, walaupun mereka jauh lebih tua darimu. Kau punya julukan dosen killer nampaknya." Sekarang dia tertawa.


"Aku pernah melakukan hal gila yang membuat mereka tak berani macam-macam denganku. Hal-hal gila perlu untuk mendapatkan perhatian mereka."


"Ceritakan padaku apa hal gila itu."


"Aku masuk pada bulan pertama sebagai staff, setelah aku mengumpulkan informasi di tingkat bawah bagaimana kinerja manager-manager itu, aku memangkas mana yang perlu dipangkas."

__ADS_1


"Kau kejam..."


"Terima kasih." Dia malah setengah tertawa. Dia memang iblis tampan, julukan itu pantas untuknya. "Dan apa yang kau lalukan untuk duduk di Director Artistic Design?"


"Penjualan terbesar 4 tahun berturut-turut."


"Adil. Kau layak mendapatkannya."


"Terima kasih." Aku balas mengucapkan terima kasihku.


Jika dilihat-lihat iblis tampan ini sama sama sisi eksentrik yang sama dengan pamannya, tapi jika pamannya menggunakan penampilan meriahnya sebagai sisi eksentriknya, yang ini menggunakan gerakan diam-diam tapi mematikan sebagai sisi eksentriknya untuk menarik perhatian orang lain.


Satu hal yang tidak bisa diabaikan tentu saja sosoknya yang sangat cocok dengan sisi intimidasi yang ditampilkannya. Penampilan maskulin yang setengahnya seperti dewa Yunani, mungkin jika seseorang yang tidak terbiasa dengan orang good looking seperti ini, ditatap dalam dua detik saja sudah bisa membuat jantungmu dipaksa bekerja lebih keras.


Tapi aku tidak, aku terlalu berpengalaman dengan kekasih-kekasih dengan penampilan diatas rata-rata. Mereka masih manusia, punya sisi lemah. Hanya penampilan awal mereka saja yang menarik perhatian. Lagipula secara jabatan kami setara, itu membuat perbedaan psikologis besar.


Kami tiba di restoran yang tidak begitu jauh dengan pembicaraan mengenal politik kantor, di mana kami orang muda kadang masih dipandang sebelah mata oleh generasi diatas kami.


"Iya, Nenek Ayah dari Sardinia, Mom juga punya darah Spanish."


"Mediterranean selalu punya sesuatu yang indah untuk dibayangkan. Sudah menikah?" Aku sudah menebak duluan jawaban dari pertanyaanku. Tentu saja, belum.


"Belum." Dunia masih luas untuk dijelajahi para petualang. Aku menyimpan senyum, dia memperhatikan ekspresiku. "Aku tahu pikiran yang ada di otakmu Nona Allison."


"Hmm, apa itu?" Apa yang kupikirkan adalah citra yang dia inginkan orang lihat.


"Kenapa kau tak mengatakannya sendiri padaku. Feel free, aku bukan orang yang mudah tersinggung dengan penilaian awal." Dia malah memancingku.


"Kau tidak mundah tersinggung, tapi kau memecat orang dalam satu bulan, bagaimana kau bisa mempertahankan kata-katamu itu."


"Itu sisi objektif dan efektifitas leadership. Aku tak bekerja dengan orang manipulatif, citra buruk diantara bawahannya dan punya lokomotif lemah. Aku punya kartu as, tidak dikenal oleh siapapun, jadi mereka bebas mengatakan apapun padaku. Sebenarnya bukan aku saja yang menyusup, dua assitenku juga survey selama sebulan. Kami menyamakan persepsi dan mengeliminasi, organisasi kami besar, aku perlu tahu kebobrokan sistem mereka sebelum bekerja."

__ADS_1


"Jadi dua assistenmu itu akhirnya juga membuka kartunya."


"Tidak, aku tetap menaruh mereka di bagian yang sama."


"Kau orang yang punya cara pikir mengerikan."


"Terima kasih. Aku menggangapnya sebagai pujian." Dia tersenyum, tidak tersinggung dengan perkataanku. "Jadi katakan, lebih baik kau mengatakannya di sini, aku akan menganggapnya sebagai perkataan teman, jika di belakang aku akan menganggapnya perkataan musuh." Iblis tampan ini tahu bagaimana cara mengendalikan organisasinya.


"Apa yang bisa kukatakan. Dunia masih luas untuk dijelajahi. Hmm... penjelajah tetaplah penjelajah." Sekarang dia tertawa mendengar perkataanku.


"Yang memahami penjelajah hanyalah penjelajah."


"Tidak seperti itu, aku hanya terlalu sering bertemu dengan tipe penjelajah dan punya kemampuan melakukan apapun. Sudut pandang pria dan wanita berbeda, wanita mungkin pernah di zona itu. Tapi akhirnya dia tetap wanita, ada bagian dirinya yang merindukan rumah untuk menetap itu sesuai dengan fungsi primitif mereka membuat rumah, tapi pria tetaplah pria, beberapa dari mereka tetap tak bisa melepas sisi penaklukan mereka, apa mungkin seperti mendapatkan trophy baru?"


Dia menatapku menilai.


"Bicara denganmu, sepertinya bisa membuat orang berpikir panjang. Aku menyukaimu, kapan-kapan kita harus makan malam lagi."


"Itu undangan kencan?" Aku sudah sering menghadapi undangan dari eksplorer, sudah tidak menarik lagi bagiku.


"Apakah itu undangan kencan, itu adalah umpan balik. Takes two to tango."


Aku tidak menjawab apapun. Iblis tampan ini memang jenius. Tapi Alton Mason punya sisi yang sama. Menghadapi mereka membuat kau punya perasaan kalau kau naik rollercoaster yang menyenangkan. Sesuatu di sampingmu berjalan begitu mendebarkan, menyenangkan, adrenalin dipompa begitu banyak dalam hidupmu. Tapi benarkah itu yang kau cari.


Bayangkan bagaimana rasanya kalau rollercoastermu berhenti? Bayangkan bagaimana rasanya kalau tiba-tiba kau terjatuh dari atas?


Kau tahu apa yang kubicarakan bukan.



Bagaimana kalau kita bikinkan iblis jenius ini ceritanya sendiri.

__ADS_1


😁😎 It takes two to tango, another demon who know how to deal with demon. Book your seat!


__ADS_2