Mr. Lawyer Fatal Attraction

Mr. Lawyer Fatal Attraction
Part 70. Dad Preferences 2


__ADS_3

POV Xavier


Akhirnya sampai ke restoran tempat di mana aku berjanji bertemu dengan Ayah Allison. Aku berusaha berpikir positif, seperti kata Allison, Ayahnya pasti menyetujui kami. Tapi aku merasa bersalah, harusnya aku memberitahunya dulu sebelum semua ini terjadi.


Tapi karena semua sudah terjadi yang tersisa sekarang hanyalah aku harus meminta maaf kepada Sir Austin atas kelancanganku.


Aku sampai duluan ke restoran, takut dia yang harus menungguku. Tak berapa lama aku melihat orang tua itu sosoknya masih berjalan tegap di usianya yang sudah 60 tahun. Pengalaman hidup yang sering dibagikannya padaku sangat berharga, dia mungkin klienku tapi aku merasa dia adalah guruku.


"Sir." Aku bangkit dan menyapanya. Dengan takjim menyalaminya.


"Xavier kau sudah lama, agak lama tak melihatmu. Tapi baguskah itu berarti tak ada masalah."

__ADS_1


"Saya rasa begitu Sir. Tak ada masalah berarti." Cara bicaranya tak terlihat dia kesal padaku untungnya. Mungkin benar kata Allison aku terlalu banyak berpikir, dia akan menyetujui kami.


Dia duduk, restoran Italia ini sering dipilihnya. Melihat buku menu kami melakukan pemesanan seperti biasa karena ini makan siang. Aku menunggu darinya apa pembicaraan yang akan dia bawakan. Tapi sebelum dia bertanya aku ingin minta maaf dulu.


"Sir, aku ingin minta maaf padaku atas keributan yang kutimbulkan. Harusnya saya meminta izin kepada Anda tentang Allison."


"Allison cerita padaku tentang kalian. Apa yang terjadi sebenarnya, aku mendapatkan kesan dia yang mengejarmu dulu bukan." Sir Lyold tertawa kecil.


"Pasti dia memaksamu mengakui keberadaannya. Dia tak takut maju duluan. Dia memang menyukaimu." Sir Lyold berhenti sebentar. "Apa kau ingin bersama putriku?"


"Sir, saya melihat Anda sebagai guru saya. Allison adalah putri Anda, kami baru saja berjalan bersama. Dia punya pilihan sangat banyak, kemarin dia bilang dia dikenalkan oleh Ibunya dengan putra Haugen mereka punya segalanya. Saya bilang padanya dia bebas menentukan pilihanya tapi dia bilang dia tak akan kemana-mana, Anda tahu saya, saya hanya profesional. Sejujurnya saya mungkin pilihan yang buruk baginya, tapi dia berkeras, saya ditahap saya tidak tega untuk menyakiti hatinya. Jika Anda mengizinkan saya meminta izin pada Anda untuk kami bersama."

__ADS_1


"Bagaimana jika aku tidak mengizinkan." Pertanyaan yang sulit, aku memikirkan pertanyaan ini mungkin jebakan yang sulit. Tapi aku harus logis.


"Allison masih muda, dia punya masa depan yang cerah. Jika tak ada saya, mungkin dia akan sedikit bersedih, tapi pasti ada seseorang untuknya. Dia putri tunggal Anda, saya tidak ingin Anda kehilangan putri Anda, mungkin Allison akan membenci saya, tapi saya tak mau jadi penghalang antara Anda dengan putri Anda. Jadi jika Anda tidak memberikam izin, saya tak akan memberikan Anda kesulitan Sir." Aku memang akan pergi jika Sir Austin tak memberiku izin. Aku tak akan menentang kata-katanya karena bagiku pertentangan tidak akan menghasilkan apapun.


"Kau tak memikirkan perasaan putriku."


"Dia akan membenci saya itu jelas, tapi perasaan akan berubah, dia akan membenci saya tak memperjuangkannya, tapi kemudian dia akan melupakan perlahan, Allison akan baik-baik saja dengan orang baru. Mungkin kelihatannya saya tidak memperdulikan perasaannya, tapi yang saya perdulikan adalah dia tidak berpisah dari keluarganya karena saya. Saya pikir itu adalah kepedulian dalam bentuk lain. Saya tidak akan menyulitkan banyak orang dengan keputusan tak perlu."


Sir Austin tersenyum. Aku jadi kebat-kebit mendengar kata-katanya.


"Seperti yang kuharapkan darimu. Kau bisa berpikir bijak." Apa artinya ini aku tak diberi izin. Aku memberanikan diri bertanya.

__ADS_1


"Sir artinya Anda tak akan memberi kami izin."


__ADS_2