
Aku tahu aku memaksanya sampai di titik dia tidak bisa bergerak mundur lagi kali ini. Mungkin dia akan menyesali keputusannya menerima ajakan nonton dan makan ini.
Tapi aku tak akan mundur lagi.
Kami duduk di sebuah restoran, aku menempel di sampingnya, menguasai lengannya, memainkan jemarinya saat kami duduk bersama, dia tidak menolak, dan aku semankin senang dengan kenyataan itu. Dia menyerah padaku sekarang dan tidak memasang benteng pertahanannya.
Dia menyukaiku tapi, pikiran rumitnya itu terlalu banyak pertimbangan. Kurasa dia takut menghadapi Ayahku padahal Ayah percaya pada pilihanku.
"Kau tahu film ini mendapat ulasan yang bagus."
"Iya, aku membaca sedikit."
"Tak apa bukan kupinjam lenganmu." Aku tersenyum lebar sekarang, aku senang menggodanya sampai dia menyerah.
"Haruskah kita menetapkan sewa per jam?" Aku tertawa dengan tanggapannya.
Nampaknya dia mulai berdamai dengan kenyataan dia tidak bisa lari dari tanganku yang menempel di lengannya dan menjadikan lengan kirinya milikku, dia mulai lebih santai menanggapi pembicaraanku.
__ADS_1
Aku menatapnya. Masih penasaran kenapa dia tiba-tiba memutuskan berubah dan menerimaku.
"Kenapa?"
"Apa yang kenapa?"
"Kenapa hari ini kau memutuskan untuk menerima kencan?" Aku tak tahan untuk tak bertanya akhirnya.
"Ini nonton film, bukan kencan." Sekarang aku tak percaya dia masih menyangkalnya. Dia melihatku dan tersenyum. "Sebenarnya apa yang kau harapkan dariku Allison. Aku bukan pengusaha, aku tak tampan, tak romantis. Kau hanya akan dapat yang biasa-biasa saja dariku."
Dia menghela napas. Mungkin menemukan semua alasan yang dia pikir kami tak bisa bersama. Aku akan menanggapi semua keraguannya. Aku tak setinggi itu untuk dia gapai.
"Mungkin kita tidak cocok, mungkin aku terlalu membosankan atau entah bagaimana kau menemukan seseorang yang lebih baik dariku."
"Tentu saja aku akan bosan kadang, aku manusia. Tentu saja aku akan tidak menyukaimu kalau kita sedang bertengkar, tapi kita akan tetap bersama bukan."
__ADS_1
"Aku tidak punya yatch atau pesawat pribadi. Jika kau bersama dengan salah satu kolongmerat tampan itu mungkin kau akan berlayar keliling dunia, liburan kapanpun kau mau."
"Aku suka dengan pekerjaanku, aku tak perlu liburan sepanjang waktu."
"Aku sangat mungkin lebih miskin darimu." Aku tertawa.
"Ya mungkin, tapi untuk standartku itu sudah cukup."
"Kau akan menyesal, kau bisa dapatkan yang lebih baik dariku."
"Lebih baik bukan berasal dari ukuran berapa banyak nol di rekening Xavier. Tapi apa kita bisa bersama-sama bahagia bersama, melewati hal sulit bersama. Apa gunanya lembaran uang jika hati kita tak bahagia. Bahkan hanya dengan beberapa dollar kita bisa duduk membeli popcorn dan merasa bahagia bersama sekarang."
Dia menatapku, lalu tertawa kecil seakan itu hal yang absurd. Apa periode sanggah menyanggah argumen ini sudah selesai.
"Kau tak menyukaiku sama sekali?"
"Itu bukan suka atau tidak suka, hanya kau dan aku.... nampaknya kau punya banyak pilihan yang lebih baik."
__ADS_1
"Terima kasih sudah memikirkan pilihanku. Pilihanku adalah pilihanku. Bukan kau yang memutuskannya."
Dia diam, aku diam saling memandang satu sama lain. Satu hal penting yang belum dibicarakan di sini...