Mr. Lawyer Fatal Attraction

Mr. Lawyer Fatal Attraction
Part 56. Worried Parents


__ADS_3

Aku masuk ke ruangan William. Merasa harus meredakan kekesalanku sendiri.


"Dia sudah pergi?"


"Aku sudah memintanya pergi."


"Kalian putus."


"Kami tidak pernah pacaran. Dia menganggapku teman karena takut dengan Ayah. Rencananya kami akan memberitahu Ayah dulu minggu depan, tapi karena kejadian ini semuanya gagal."


"Ohh begitu?!" William kelihatan binggung. "Bukankah kalian harus menjadi kekasih dulu baru melapor ke orang tuamu? Kenapa dia begitu takut pada Ayahmu."


"Yah mungkin karena dia menganggap kariernya lebih berharga. Jika dia tidak disetujui Ayah dia akan mundur."


"Kau baik-baik saja dengan itu?" William yang keheranan dengan jawabanku bertanya sekarang.


"Aku buta Will, aku berpikir itu baik-baik saja. Aku menyukainya, sangat menyukainya. Mungkin karena dia berbeda dari kekasihku kebanyakan. Baru sekarang aku sadar setelah dibenturkan dengan keras." William melihatku dengan pandangan kasihan.


Aku menjelaskan sedikit kebenaran soal hubungan kami yang kudapat agar William tak terlalu marah padanya. Walaupun salah, selama ini dia punya sisi baik yang membuatku suka padanya. Juga mengingatkan William agar tak bercerita kepada Ayah.


"Kau terlambat. Aku sudah memberi tahu Paman. Kupikir dia perlu tahu ini. Pengacara kurang ajar itu perlu dihajar."


"Apa?"

__ADS_1


"Maaf, aku tak tahu kau ingin merahasiakannya." Aku menghela napas.


"Nanti aku bicara dengan Ayah. Aku hanya tak ingin mempersulitnya. Dia baik, tapi baik saja tak cukup bukan." Aku terpekur mengingat berapa banyak hal yang salah dalam hubungan kami.


"Sudahlah, jika dia benar ingin kalian bersama dia akan mencoba mendapatkanmu, tapi jika tidak melakukan apapun lupakan saja dia. Pulanglah istirahat, wajahmu kacau sekali. Oh ya, pesta donatur partai Minggu depan, bisakah aku minta tolong kau yang pergi bersama Nora. Istriku bilang aku harus menemaninya ke pesta keluarga."


"Iya baiklah. Nanti aku akan menelepon Nora jadi aku punya teman."


"Baiklah jika begitu. Pulanglah."


Aku pulang, kurasa Ayah akan meneleponku malam ini untuk menanyakan apa yang terjadi. Dia mendengarkan dari William, yang berisi beberapa informasi tidak sepenuhnya benar.


Aku meringis. Aku memang kacau. Dalam semalam cintaku berantakan hanya karena aku mendengar percakapan antara dua orang sahabat.


Sesampainya di rumah tak perlu menunggu lama untuk mendapatkan teleponku berdering. Ini dari Ayah, kurasa Mom juga akan ada.


"Allison sayang apa kau baik-baik saja." Benar ini suara Mom. Setelah mendengar cerita William mereka pasti akan menelepon.


"Aku baik Mom, Dad."


"Sebenarnya kami mendengar sesuatu dari William hari ini. Apa benar kau baik?"


"Oh itu, itu hanya kesalahpahaman. Bukan terjadi seperti yang William katakan Dad, Xavier menjelaskan apa yang terjadi sore ini. Intinya semua sudah beres."

__ADS_1


"Jadi yang lau katakan sebagai orang yang jelek itu Xavier. Kalian kekasih?"


"Tidak Dad, hanya teman dekat. Soal dia menyuruh temannya mengetes itu sebenarnya dia tidak melakukannya hanya temannya mencoba menggodaku dan aku tidak menanggapi temannya itu. Kami hanya teman tapi aku juga tak tertarik pada temannya itu. Hanya itu ceritanya. Aku tidak bertengkar dengannya, sempat sesaat tapi sudah clear masalahnya. Jadi jangan persulit dia, kami hanya teman, tetap teman sampai saat ini. Oke Dad. Aku bisa menangani ini, kuharap Dad tak ikut campur sekali lagi aku bisa menangani ini, kalian tak usah kha3. Kau tak perlu turun tangan, ini permintaan."


Aku langsung panjang lebar karena Dad jadi tahu siapa si jelek itu. Mom dan Dad diam di seberang sana. Mereka pasti sudah membicarakannya sebelumnya, walaupun mereka tidak mendapat potongan lengkap. Mereka sedikit banyak pasti mengerti gambaran besar yang terjadi.


"Apa kau baik-baik saja." Dad yang bertanya sekarang.


"100% aku baik-baik saja Dad, jika aku membutuhkan bantuanmu aku pasti bilang padamu. Bisakah kau percaya aku untuk ini. Aku baik. Sebentar lagi Thanksgivings, sudah tak sabar ke DC menemui kalian."


"Kami akan ke NY minggu depan sebentar. Nanti kita bertemu oke?"


"Ohh oke Mom, Mom mau menginap bukan? Atau sudah reservasi hotel."


"Kolega Ayahmu sudah mereservasi hotel, ada acara hanya dua malam di sana, tapi sarapan kau bisa bertemu kami bukan."


"Ohh baiklah tentu saja."


"Ally, jika kau membutuhkan bantuan apapun kau selalu punya kami. Jika kau tak ingin kami ikut campur kami tak akan ikut, tapi kau bisa meminta saran apapun dari kami." Kali ini Dad yang terdengar khawatir.


"Iya tentu saja Dad. Aku sudah tahu apa yang ingin kulakukan. Dad jangan khawatir, aku tahu aku punya kalian. Tapi aku bisa menangani ini. Semua baik-baik saja. Oke. Jangan khawatir. 100% aku baik, ya baiklah mungkin 98%, itu masih berfungsi penuh."


"Kalau begitu saat kau dan Mom bertemu kita harus bicara panjang." Aku tertawa.

__ADS_1


"Baik Mom. Asal kau bisa meyakinkan Dad untuk tidak memarahi Xavier oke. Aku baik."


Cukup itu yang kukatakan saat ini pada orang tuaku. Kurasa keputusanku untuk membuat masalah ini antara kami saja sudah tepat.


__ADS_2