Mr. Lawyer Fatal Attraction

Mr. Lawyer Fatal Attraction
Part 59. Yellow Rose and Alma Cake


__ADS_3

Xavier masih setengah tak percaya soal apa yang disarankan oleh David Montgomery. Apa benar dia harus menjadi pemaksa begitu ke Allison. Apa dia benar harus menunggunya seperti itu.


Tapi yah pria itu memang playboy penakluk wanita jadi sarannya mungkin valid. Dia menghabiskan waktu di Westbury hari Sabtu ini. Kemarin hari yang benar-benar kacau, pikirannya tidak bisa melepaskan diri dari memikirkan kesalahpahaman Allison.


"Sir, Nona Allison belum datang? Biasanya dia sudah muncul di jam makan siang seperti ini." Alma yang keheranan kenapa Allison tidak muncul hari ini. Dia tidak berani lancang menelepon Allison takut dia menganggu Nona cantik yang mungkin dalam pekerjaannya itu.


"Allison sedang marah padaku. Marah besar."


"Kenapa Sir? Kau tak main mata dengan perempuan lain bukan?"


"Bukan itu. Aku ..." Mungkin Alma bisa membantunya, Alma sering bicara dengan Allison jadi dia tahu bagaimana Allison lebih baik daripada David. Yang jelas dia lebih percaya perkataan Alma dibanding David. "Aku akan ceritakan padamu apa yang terjadi tolong aku dengan apa yang harus kulakukan."


Jadi dia menceritakan semuanya pada Alma, Alma yang dari alisnya berkerut lalu tersenyum mendengar bagian akhir cerita itu dimana Allison mengatai Tuannya bodoh.


Dia memang bodoh soal wanita ternyata, usia kepala 4 tapi tak berpengalaman banyak. Tuannya ini membosankan, tak romantis, tak mengerti perasaan wanita, pantas saja Nona Allison marah, padahal Nona Allison sudah mentolerir sebutan temannya sampai puncaknya bahkan dia tak cemburu orang yang bernama David itu menggoda kekasihnya, walau itu ternyata bukan disuruh oleh Tuannya. Tapi jelas itu membuatnya kesal sampai ubun-ubun.


"Apa benar kata temanku aku harus mengejarnya lagi, mengirim hadiah, menciumnya walau dia tak ingin, menungguinya di kantor, walau dia terakhir mengatakan bodoh dan menyuruhku pergi."


"100% dia benar, berjuanglah untuk meminta maaf ke Nona Alison Tuan. Tanya dia dimana dan antar makanan ini padanya supaya kau bisa bicara dengannya. Aku membuat kue coklat kesukaannya. Kalau tidak antarkan ke apartmentnya. Belikan dia bunga, kau belum pernah mengirimkannya bunga bukan." Sekarang dengan segera Alma mengatakan apa yang harus dilakukan sekaligue menyiapkannya.


"Kalau dia tidak mau menerimanya? Apakah aku harus tetap mengiriminya."

__ADS_1


"Benar sekali Sir." Jadi benar apa yang dikatakan oleh David. Alma pun membenarkannya. David memang ahlinya ternyata. Sekarang dia memasukkan kata-kata yang dikatakan David dalam otaknya. Dia mengingatkan lagi apa yang dikatakan David dan mulai memasukkannya ke dalam ingatannya.


Dia melihat ponselnya. Dari kemarin dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Sekarang dia meringkas apa yang harus dilakukan.


Bersikaplah tak tahu malu, telepon lagi, minta maaf, belikan dia hadiah, jika ditolak coba lagi sampai dia terima. Cium dia, kalau perlu paksa.


"Kau ingin mengantarkan Sir. Aku siapkan dulu makanannya."


"Al, aku mau mengantar kue kesukaanmu dan makanan kesukaanmu. Alma membuat kue coklat yang kau suka untuk minggu ini. Boleh kita bertemu? Aku mau minta maaf padamu, aku tahu kesalahanku. Boleh kita bicara lagi... Di apartmentmu tak apa."


Beberapa saat tak ada jawaban apapun. Dia takut Allison masih marah dan tak mau menemuinya. Tapi sekitar 20 menit kemudian sebuah pesan datang.


"Alma, bungkuskan saja."


"Beres Sir. Mau belikan bunga Sir, minta maaflah dengan bunga jika kau tidak bisa bertemu dengannya. Tulislah sesuatu untuknya."


"Hmm bunga apa."


"Hmm biasanya bunga rose kuning dipakai buat minta maaf, mungkin jika peach juga bisa. Tapi jelas bukan merah."


"Begitu. Iya baiklah aku akan membelikannya."

__ADS_1


Jadi kali ini, setelah Alma membungkuskannya dia pergi ke toko bunga dan mencari bunga rose kuning yang alma bilang. Dia menulis sendiri kata-kata yang ingin di katakannya.


...'Aku bodoh seperti katamu. Aku benar-benar minta maaf tak mengerti maksudmu. Bisakah kita bertemu dan bicara lagi. Bisa terima teleponku. Aku merindukanmu.'...


Kartu itu dituliskannya dengan hati-hati. Dia tidak tahu apa kata-kata ini benar, menurut perasaannya ini baik. Tapi David bilang jika dia tidak membalas lakukan terus sampai dia membalas. Jadilah tak tahu malu, jadi dia akan menjalankan prinsip itu.


Dia mengantarnya sendiri ke apartment Allison di Manhattan. Mungkin Allison tak akan memaafkannya dengan hanya sebuah percobaan. Tapi dia benar akan mencoba lagi jika belum dimaafkan.


Menjelang malam sebuah pesan masuk. Dia melihat namanya Lyold Austin! Ayah Allison!


'Tanggal 6, saya ada di NY, ayo bertemu untuk makan siang di St. Regis.' Dia langsung menjawab.


'Baik Sir, Tanggal 6 di St. Regis.' Itu sekitar 5 hari lagi


Ayah Allison menghubunginya. Apa ini ada kaitannya dengan permasalahan mereka. Tapi Allison mengatakan ini pada Ayahnya. Jika iya apakah dia ada dalam masalah sekarang.


Tapi jika dia mengajak makan siang baik-baik harusnya tak ada masalah. Orang seperti Lyold Austin jika dia ingin membuat masalah denganmu, tak mungkin dia mengajakmu makan siang.


Mungkin ini hanya pertemuan untuk membahas kasus. Dengan pemikiran itu Xavier merasa agak tenang.


\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2