
Iblis tampan itu tersenyum padaku. Aku balas tersenyum padanya. Pertemuan kami sudah selesai, proyek akan berjalan dalam beberapa hari, dan dia tetap di ruangan meeting ini dan bilang ingin bicara denganku, para staff sudah keluar duluan.
Aku menatapnya dengan pertanyaan bermunculan di kepalaku.
"Sir Montgomery masih ada yang kau butuhkan?" Aku mencurigai kenapa dia masih memasang senyum iblisnya itu di sini.
"Bagaimana jika kita merayakan kesepakatan ini dengan makan malam?"
"Makan malam?"
"Iya, hanya makan malam."
Aku menghela napas, apa yang dia usahakan. Aku sudah menolaknya terang-terangan. Kenapa dia menghabiskan energinya. Ya baiklah, menghormati kesepakatan ini aku setuju untuk makan malam dengannya.
"Baiklah, aku yang bayar oke."
"Tidak, aku yang mengajak aku yang bayar." Dia tersenyum padaku.
"Baiklah, untuk merayakan kesepakatan kita."
Dia tersenyum. Sepertinya itu kemenangan baginya. Padahal ini hanyalah makan malam. Tidak akan ada yang terjadi, karena untuk menggodaku itu tak mungkin. Aku bukan yang akan tergoda untuk hubungan singkat sekarang.
Aku berjalan bersamanya, menyebabkan mata-mata memandang kami. Penampilannya itu akan menimbulkan perhatian berlebih saat kami berjalan di lobby gedung yang cukup ramai sore itu. Para wanita melabuhkan pandangannya Dengan hanya kemeja putih pas badan yang menampillan sosok atletismya pun orang akan berpikir banyak hal tentangnya.
Jika dibandingkan dengan Alton, hmm... Alton wajahnya lebih punya sisi anak baik, tapi yang ini adalah full spec bad boy. Pikiranku membuat perhitungan sendiri membandingkan mereka. Mereka seimbang seperti sisi putih dan hitam.
__ADS_1
"Berapa banyak pengejarmu di kantor ini? Lebih tepatnya gedung ini."
"Hmm... kau pikir aku perduli."
"Kau tak perduli? Sama sekali?"
"Aku mengejar, bukan dikejar. Sebagian wanita berpikir terlalu jauh. Terlalu banyak bermain dengan pikiran dengan mereka sendiri. Tapi beberapa tahu tak ada gunanya mengejar predator, mereka hanya akhirnya menjadi mangsa jika mencoba."
"Really..." Aku mengagumi ketidakpeduliannya. Dia tahu apa yang dia mau.
Sampai di lobby, sebuah BMW i7 datang ke kami, rupanya pilihanya untuk mobil kantornya cukup konservatif. Kupikir dia akan memakai mobil sports mentereng tapi ternyata tidak juga.
"David!" Seorang wanita dengan kacamata mengejarnya. Dia nampaknya baru dari luar kantor, dia membawa tas laptop dan tas kerja. Dia cantik hanya kacamatanya terlihat tak sesuai dengan wajahnya.
"Apa?"
"Kau harus pergi ke sana dan temukan jalur baru. Kita tak bisa percaya dia lagi."
"Oke, aku pergi. Satu lagi Nona pirang mencari informasi tentangmu?"
"Ohh bilang padanya aku keluar dengan seseorang yang nampaknya kekasihku. Berakhir pekan ke Karibia." Gadis itu memberikan seringai sarkasnya.
Ternyata Iblis tampan ini benar cuma mengajakku makan buktinya wanita ini dengan enteng bicara dengan wanita lain, gadis ini inner circlenya, tahu apa yang terjadi di sekelilingnya sampai dengan wanita yang diincar dan korbannya pasti dia juga tahu.
"Beres." Gadis itu melihatku dan menyapa. "Selamat sore Nona Allison. Maaf menggangu." Aku pernah melihat gadis ini ikut pertemuan dengan kami. Kalau tak salah dia orang keuangan.
"Oh tidak kami hanya akan pergi makan malam." Aku memberikan senyuman padanya. Nampaknya gadis ini bukan orang yang yang terpesona kepada David Montgomery.
__ADS_1
"Oke itu saja."
"Carla, sebelum kau pergi bicara pada Paman untuk soal yang kubilang padamu kemarin."
"Kau yang bicara sendiri. Itu masalahmu. Bereskan sendiri."
"Ayolah Carla. Kau paling cantik, paling baik, paling..."
"F*uck you."Aku mengangga dengan jawabannya, gadis ini luar biasa.
Pesona iblis Montgomery tak berguna di depan gadis badass ini. Ternyata di hadapan orang yang tepat dia cuma manusia biasa."Ini, urus, minggu depan aku bertemu denganmu, itu harus sudah beres. Ini tugasmu aku sudah membereskan bagianku." Dia memberikan sebuah map dokumen dan melenggang pergi.
"Dasar pernyihir."
"Aku mendengarmu as*shole." Walau beranjak pergi ternyata dia masih mendengarnya.
Aku tersenyum dengan drama yang kulihat. David Montgomery ternyata tetaplah manusia biasa. Dan aku sudah melihat orang yang bisa menanganinya.
"Ternyata kau juga punya seseorang yang membencimu."
"Gadis tadi, Carla maksudmu, dia penyihir di sini. Untungnya dia bukan bagianku. Tapi pekerjaannya memang bagus. Walaupun dia penyihir tapi dia jenius. Dia mengaku l*esb*ian, gunung es, hanya ramah kepada wanita, satu divisi di bagian sana isinya penyihir wanita semua dan pria tidak normal yang tahan dengan tiran itu."
"Wah dia sangat hebat. Aku mengakuinya. Tapi menurutku kau lebih tiran dari dia." Aku tertawa, Iblis tampan itu melihatku tanpa bicara.
"Kau dan dia nampaknya sama."
"Oh terima kasih atas pujianmu."
__ADS_1
Aku baru mendengar hal yang seperti itu. Gadis yang bernama Carla itu nampaknya hebat. Dia benar, aku dan Cala berada di tim yang sama kami tidak mempan dengan pesona iblis tampan ini.