
"Dimana kamarmu? Tidak ada seseorangpun di sini."
"Tidak ada." Dia menarik tanganku ke arah tertentu kamar apartmentnya. Membuka pintunya dan ini kamarnya. Warna peach lembut bed cover ini kontras dengan gaun merahnya.
"Gaun ini s*exy." Garis punggungnya membuatku terlalu terpana. Leher jenjan*gnya yang ram*butnya diangkat keatas membuatku leluasa menjadikan sasaran ciu*m*anku.
Suara er*an*gan yang mengundang ini terlalu sulit untuk ditolak sihirnya, hanya sedikit usaha gaun itu memghilang dari tempatnya berada, tapi itu juga berarti sama untukku.
"Aku menyukaimu Sir Xavier. Aku mau kau...." Entah bagian mana yang disukainya karena aku sudah membuatnya membuka dirinya untukku. Sesuatu meronta untuk menemukan tempatnya di bawah sana.
"Jika aku mati karena mendapatkanmu dibawahku setidaknya aku mati dengan puas. Bukankah begitu."
"Kau benar. Tenang saja, jika performamu bagus. Kau akan jadi aset berharga. Tak akan kubiarkan aset berhargaku hilang. Setidaknya untuk jangka waktu tertentu. Kau perlu bekerja keras untuk mengesankanku." Dia tertawa sendiri dengan kata-katanya.
"Mulutmu itu benar-benar luar biasa, kau akan membayar berani menjadikan aku asetmu." Aku membuatnya berada di bawahku sekarang. Aku siap menyerangnya membuatnya mengakui dia membutuhkanku setiap saat.
"Aku suka semangatmu Tuan pengacara." Tak ada yang lebih menyenangkan dari berkenalan dengan wilayah yang baru ditaklukkan. Membuatnya mengaku kalah adalah hal yang harus dilakukan sekarang.
Des*ahan dan permohonan membuatku bersemangat. Sampai akhirnya dia menge*jang dibawahku dan memintaku berhenti dengan napas terse*ngal. Dan kali pertama ini aku menang... aku sudah membuktikan aku adalah aset berharga. Tidak akan mudah mengantikanku.
__ADS_1
"Sir..." Matanya terpejam dia memelu*kku dengan erat.
"Kenapa kau memanggilku Sir."
"Aku suka rasa dikuasai olehmu." Lengkungan kepuasannya membuatku merasa bangga pada diriku sendiri.
"Kau suka yang lebih tua?" Aku menertawakannya sambil menciu*mnya. "P*uas sayang. Lihat dirimu ... kau sangat cantik dibaw*ahku."
"Ehmm...ini masih berlanjut. Apa ini ..." Dia pikir aku sudah selesai dengannya, dia me*nger*ang saat aku kembali mendesaknya dengan pelan. Gelanyar yang kutimbulkan belum sepenuhnya pulih.
"Nanti dulu..."
"Grade SSS." Aku tertawa dengan pujian terang-terangan itu.
Yang kulakukan sekarang adalah memperlambat, memberinya sedikit waktu untuk menikmati apa yang baru kuberikan sebelum memberinya lebih banyak lagi.
Tak lama untuk membuat akhirnya semua ini berakhir dengan pengakuan kedua sekaligus pelepa*sanku sendiri.
"Kau tahu, kau akan mati karena ini Tuan Pengacara." Sekarang setelah semuanya selesai, aku mendapatkannya berbaring di bahuku.
__ADS_1
"Aku siap m*ati untukmu." Dia yang meminta ini, semua pacarnya yang mengkhianatinya masih hidup sampai sekarang. Aku tak mungkin mati. Aku terlalu takut dengan klienku sendiri nampaknya. David benar, Allison yang akan melawan Ayahnya untukku.
"Kenapa kau masih bisa bermanis-manis denganku. Bukankah kau takut dengan Ayahku. Tak takut Ayahku mengirimkan seorang agen untuk memutuskan kabel di mobilmu. Itu pekerjaan mudah. Aku saja bisa melakukan itu."
"Kau tadi baru saja menjamin nyawaku. Jika kau mengingkarinya aku pasra*h. Sudah kubilang aku rela ma*ti untukmu Allison Sayang."
"Kau sudah memakai sebutan sayang, apa statusku sudah berubah?" Allison menyindirku.
"Aku setia padamu walaupun kita cuma teman dekat." Dia tertawa sekarang. "Sebenarnya besok aku akan bertemu Ayahmu."
"Kau akan bertemu Ayah?"
"Iya, kurasa dia akan membunuhku, persoalan kita bukankah sudah sampai ke mereka. William sampai menghajarku, sepupumu itu ." Aku tertawa sekarang, sebenarnya pertemuan besok cukup mengkhawatirkan juga. Aku tak tahu apa yang akan dibicarakan.
"Aku akan menemanimu. Kita jelaskan kita kekasih sekarang. Mom juga bersama dengan Dad jadi ayo kita jelaskan pada mereka."
"Baiklah kita pergi bersama, besok di jam makan siang."
"Bagaimanapun keadaannya kami akan menghadapinya bersma besok."
__ADS_1
Tidak akan ada pembunuhan besok. Karena putri Ayah ini menganggapku aset yang berharga.