Mr. Lawyer Fatal Attraction

Mr. Lawyer Fatal Attraction
Part 80. The Family


__ADS_3

"Mengha*jar orang itu menyenangkan." Aku tertawa ketika kami sudah sampai dan sudah beristirahat di rumah. Xavier meringis mendengarku.


"Tanganmu tidak sakit?" Dia melihat buku tanganku yang memerah. Jika memukul orang tanpa pelindung knuckle ada juga bagian yang harus ditanggung oleh amatir dengan latihan setengah-setengah sepertiku.


"Hanya sekali, merahnya akan hilang besok kurasa. Dia baru satu kali pukul saja sudah KO, benar-benar tulang yang lemah, aku senang sekali bisa menempelengnya." Aku tertawa sambil membayangkan aku bisa menganiaya Oscar sesuka hati, itu bayaran sudah membuatku bertengkar dengan Mom.


"Setelah ini dia tidak akan berani lagi. Satu kali saja dia berani membuat masalah kita akan membuatnya membayar jaminan."


"Kau benar. Dia tidak akan berani lagi." Seperti kata Xavier dengan modal rekaman CCTV di lot parkir itu dia tidak akan bisa lari kemanapun. "Jadi nampaknya kita akan melewatkan liburan Natal dan Tahun baru dengan damai."


"Hmm, setelah ini tak ada masalah lagi yang lain bukan? Kau masih punya stok pangeran tampan dan kaya mengejarmu?" Xavier bertanya padaku, sejak aku kenal dengannya dia tahu aku tak henti bermasalah dengan para pangeran tampan itu. Dimulai dari Alton Mason, Viktor dan terakhir Oscar. Yang jelas semua pangeran tampan itu bukanlah jodohku.


"Jika adapun aku tak perduli, kau pikir aku akan perduli pada yang lain, pemilik kebun strawberry. Sudah kubilang aku setia pada satu orang." Aku bisa memeluknya sambil mengucapkan ini sekarang karena Mom sudah setuju kurasa tak akan ada penghalang lagi untuk hubungan kami ke depannya.


"Jadi kau ingin bersamaku sampai seterusnya?"


"Iya sampai seterusnya tentu saja. Kau tak ingin kita bersama?"


"Lebih dari apapun." Sebuah ciuman kecil membuatku tersenyum bahagia.


"Tak akan ada lagi penganggu di depan kita. Mulai sekarang jika ada aku akan langsung mengusirnya. Kau sekarang termasuk property pribadi, tak ada yang boleh macam-macam dengan property pribadi."


"Memangnya kau sudah punya akta kepemilikannya, berani klaim property pribadi?" Aku cekikikan dan mencubit hidungnya dengan gemas.


"Kau mau dibikinkan akta kepemilikan?" Entah pembicaraan apa ini.


"Boleh apa sudah ada syaratnya down payment awalnya, berapa karat boleh aku melihatnya? Keluarkan sekarang." Xavier melihatku dengan pandangan tak percaya aku minta down payment cincin lamaran.


"Kau minta kulamar sayang?" Sekarang dia memelukku semangkin erat.


"Kau sendiri yang bicara tentang akta kepemilikan. Jadi kutanya kau sudah punya down paymentnya? Dulu aku minta kau menjadi kekasihku kau menolakku, bagaimana sekarang aku minya kau jadi suamiku. Apa kau akan menolaknya?" Xavier tertawa.


"Sayang aku belum punya cincinnya, sabar oke. Aku tidak menolakmu aku hanya ingin melakukannya dengan pantas, ditambah lagi aku belum memperkenalkanmu kepada Ayah dan Ibu." Dia diam sesaat. "Mungkin kita bisa pergi ke Duluth saat tahun baru. Kau dan aku bertemu orang tuaku."


"Bertemu orang tuamu, ...Tahun baru?"


"Iya kita masing-masing harus bersama keluarga kita saat Natal, bagaimana jika kau ke Duluth sekitar tanggal 28. Aku akan menjemputmu di Bandara dan kita akan bertemu orang tuaku. Setelah itu aku akam minta izin Ayah dan Ibumu untuk melamarmu."


"Hmm...lamaranku rupanya tak ada kejutannya lagi. Tak romantis. Kau memberi tahu semuanya tak bisakah kau jadikan itu kejutan." Sekarang dia diam, dia tahu telah salah memberikan terlalu banyak informasi.


"Maafkan aku, aku memang salah."


"Dasar tak romantis." Aku mendorong keningnya ke belakang. Dia tertawa. Tapi kembali memelukku dengan posesif.


"Aku benar-benar minta maaf. Jangan marah."


"Tak ada maaf. Kau mengacaukan lamarannya."


"Tadi kau yang meminta aku melamar dulu, aku harus bagaimana menjawabnya. Nanti kau mengatakan aku tak serius, itu lebih gawat lagi padahal kita baru disetujui Ibumu dua minggu yang lalu." Sekarang dia membela dirinya.


Benar juga aku yang memintanya melamar dulu. Tapi harusnya dia tak perlu jadi bagian informasi begitu. Ya sudahlah aku tak bisa mengharapkan keromantisan tak perlu darinya. Bahagia ya tetap bahagia.


"Baiklah bagaimana kalau kita ke Duluth." Dia meminta persetujuanku sambil merangkulku. Aku melihat padanya.


"Baiklah. Bertemu calon mertua bukan."


"Iya,...bertemu calon mertuamu. Kau akan menyebut mereka Ayah dan Ibu juga."


"Ya, baiklah, pesankan tiketnya untukku okay."


"Aku pesankan tentu saja."


Nampaknya musim panas tahun depan aku akan menikah. Akhirnya aku menemukan pangeranku. Bukan pangeran tampan yang memperoleh 100% penilaianku tapi dari ketidaksempurnaannya itu dia berusaha menjadi sempurna untukku.

__ADS_1


Tak ada manusia sempurna yang ada hanyalah berusaha untuk melakukan yang terbaik.


\=\=\=\=\=\=\=


POV Xavier


"Brother kau akan menikah?" Sekarang David surprise ketika aku cerita Allison akan kuajak menemui orang tuaku di liburan tahun baru ini.


"Iya aku sedang membuat persiapannya.Mungkin musim panas atau gugur tahun depan aku akan menikah."


"Selamat Brother."


"Kapan kau akan menikah?" Dia langsung meringis, pria 37 tahun itu pasti belum punya pikiran ke arah sana. Aku mengenalnya dia tak tertarik pada ide berumah tangga.


"Entahlah, nanti. Buat apa terburu-buru. Apa gunanya menikah, hidup masih panjang untuk dinikmati." Benar bukan jawabannya selalu seperti itu. Aku tidak bisa merubah prinsip yang datang dari pengalaman hidup.


"Jika ada seseorang yang baik, kau harus mengambil kesempatan."


"Belum menemukannya sayangnya."


"Hmm, ya kurasa pasti ada."


"Semoga kau benar Bro. Tapi aku ikut senang untukmu. Semoga semua persiapanmu lancar." Aku berharap seseorang akan membuka hatinya. Menyembuhkan apa yang tertinggal di masa lalu untuknya.


Besok malam aku akan bertemu Tuan dan Nyonya Austin, membicarakan bahwa aku akan melamar Allison. Waktu yang singkat tapi aku tak akan menunggu lagi.


\=\=\=\=\=\=\=


Sekarang aku sudah duduk di depan mereka, sore ini aku terbang ke Washington DC untuk bertemu mereka di rumah mereka. Aku diajak makan malam bersama mereka. Pembicaraan mengalir dengan menyenangkan, Nyonya Austin untungnya sudah menyetujui kami.


"Kau baru sampai sore ini


"Kudengar kau memberi bukti ke istriku soal Oscar."


"Sudahlah tak usah dibicarakan lagi. Kau tahu aku yang menyangka dia tulus ke Allison karena perilakunya begitu manis."


"Apa Allison cerita dia menghajarnya?" Aku tak tahu apa Allison bercerita dia menghajar Oscar atau tidak. Kejadian itu baru terjadi belum lama. Tapi sampai sekarang tak ada lanjutannya lagi.


"Apa?! Allison menghajar siapa?" Ayahnya langsung bertanya.


"Dia menghajar Oscar di tempat parkir beberapa hari yang lalu."


"Dia tidak cerita? Kalian bertengkar dengan Oscar? Bagaimana bisa dia menghajarnya?" Ayah Allison langsung bertanya.


"Apa kalian terluka?" Ibu Allison mengkhawatirkan putrinya ikut bertanya.


"Tidak kami tidak terluka,..." Kuceritakan awal mula kami bertemu di pesta sampai kami berakhir di tempat parkir dengan riga tukang pukul.


"Astaga, benarkah? Berani sekali dia membawa tukang pukul?" Ibu Allison terkejut. "Tapi Allison bagaimana dia menghajarnya saat kalian menghadapi tukang pukul, kau yang menghajar tukang pukulnya?" Andai aku bisa menyombong sehebat itu. Tapi aku hanyalah umpan di sana.


"Aku bertugas menahan pukulan tukang pukul, Allison menyerbu ke Oscar, dia memberinya satu pukulan TKO, memuntir tangannya ke belakang dan mendudukinya, menemp*eleng kepalanya, mengancam untuk mematahkan tangannya sehingga dia tidak dapat berlayar dengan gadis-gadisnya, ancaman agar tukang puk*ulnya berhenti, ohh dia sangat menyukai acara menganiaya Oscar, dia menempe*leng kepalanya berkali-kali sampai puas."


"Mendudukinya dan menempel*engnya sampai puas?" Nyonya Austin mengangga sementara Tuan Austin tertawa keras.


"Tak sia-sia dia belajar dari ahlinya. Putriku memang b*adass."


"Kalian tidak bermasalah dengan polisi menganiaya orang seperti Oscar."


"Nyonya dia yang memulai dengan membawa tiga tukang pukul. Apapun tindakan kami saat itu, maka akan dikatagorikan pembelaan diri. Lagipula di sana ada CCTV, jika dia mau perpanjang dia tidak akan menang."


"Putri kita punya pengacara di sampingnya. Dia bisa menganiaya orang sesukanya. Nanti cerita bisa diputar oleh Xavier." Tuan Austin melanjutkan tertawanya, seperti Allison dia menganggap semua ini adalah hal yang menyenangkan.


"Kau ini, bagaimana menganiaya orang bisa dibenarkan." Nyonya Austin langsung menegur suaminya.

__ADS_1


"Dibenarkan jika orang seperti Oscar, jika dia berani melakukan seseatu lagi ke Allison beritahu aku, aku akan langsung ke Ayahnya. Anak manja seperti itu tak boleh dibiarkan tanpa hukuman." Tapi Tuan Austin malah membenarkan tindakan Allison dengan segera.


"Baik Sir. Akan saya pastikan itu. Tapi kurasa dia tidak akan berani lagi."


Kami membicarakan sedikit hal lain sebelum pembicaraan sampai ke ujungnya.


"Kami senang kau datang ke sini menemui kami. Ini berkaitan dengan Allison bukan." Nyonya Austin yang memulai. "Allison memberitahuku kau akan mengajaknya ke Duluth akhir tahun ini untuk menemui orang tuamu."


"Iya saya akan mengajaknya menemui Ayah dan Ibu saya. Saya ke sini ingin meminta izin untuk melamar putri Anda. Mungkin terlihat buru-buru, tapi bagi saya kami bukan di umur muda lagi, memulai keluarga bagi saya adalah perjalanan yang selalu ingin saya lakukan, bersama sama menjalani semuanya bersama dan saya berjanji akan menjaga Allison sebagai teman seumur hidup dengan baik."


Tuan dan Nyonya Austin berpandangan.


"Akhirnya putri kita akan menikah, menemukan teman hidupnya. Kau tahu rasanya seperti tugas kita akan berkurang setengahnya." Tuan Austin mengatakan itu pada Nyonya Austin.


"Dia tetap putri kita, tapi sekarang dia punya teman di sampingnya. Kalian harus menyayangi satu sama lain. Mengerti satu sama lain. Jika satu orang sedang marah yang lain jangan menimpali. Biarkan dingin dulu."


"Kebanyakan kau yang harus membiarkan dingin, wanita jika sedang panas tak bisa diajak bicara. Biarkan dia mengeluarkan emosinya dulu, setelah dia selesai bicara kau boleh bicara." Kali ini Tuan Austin yang bicara sambil melihat istrinya.


"Kenapa kau melihatku, kau punya masalah denganku." Nyonya Allison langsung balik melihatnya.


"Kami memang senang bertengkar, kau jangan heran. Allison terbiasa melihat kami bertengkar tentang sesuatu yang remeg, bukan bertengkar saling sindir kadang, tapi kami baik-baik saja tak ada yang serius. Nanti kami bermesraan kembali,..."


"Sejak kapan kau di katagori mesra."


"Ini namanya tidak bersyukur. Padahal aku sudah selalu memberikannya hadiah." Beberapa saat petengkaran kecil itu berlanjut. Sehingga membuatku tersenyum. Ini suami istri mereka saling bertengkar tapi mereka tidak meninggalkan. Bagaimanapun namanya dua manusia selalu punya perbedaan pendapat. Sehingga kemudian mereka berhenti.


"Kapan kau akan melamarnya?" Nyonya Austin sekarang bertanya.


"Aku akan melamarnya di Duluth nanti, sebenarnya Allison bahkan sudah bertanya kapan aku melamarnya."


"Benarkah? Dia tidak sabaran sekali." Nyonya Austin sekarang menertawakan putrinya.


"Kami mungkin akan menikah di musim panas jika peŕsiapan pernikahan sudah selesai. Apa Anda ingin mengadakan pesta besar untuknya?" Ini adalah putri tunggal mereka, permintaan mereka harus kupenuhi.


"Aku sebagai Ayahnya akan memberikan apa yang dia inginkan. Nanti aku akan memberikan cek untuknya, setelah itu kalian rundingkan apa yang kalian mau. Apa yang dia mau dia pasti punya pikirannya sendiri, tak usah terlalu memberatkan keuanganmu. Lebih baik uang kalian untuk kalian."


"Saya mengerti Sir, akan terserah pada Allison apa yang dia inginkan."


"Itu lebih baik. Sayang nanti temani Allison mempersiapkan pernikahannya. Jika mungkin Xavier tidak terlalu banyak waktu untuk mempersiapkannya, gaun pengantin, hotel, dekorasi yang dia inginkan. Bantu dia mendapatkan apa yang dia mau."


"Iya kau tenang saja akan aku lakukan. Xavier kau bisa mengajak Ibumu juga melihat gaun pengantin. Oh ya apa profesi Ayah dan Ibumu, apa mereka pengacara juga sepertimu?" Nyonya Austin bertanya, dia memang tak tahu latar belakang profesi keluargaku.


"Ohh bukan, Ibu dulunya perawat tapi sudah pensiun kurang lebih belasàn tahun, Ayah adalah marketing perusahaan farmasi."


"Ahh kau berasal dari latar belakang kesehatan tapi jadi ke hukum. Kau punya adik dan kakak?" Dia terus bertanya mengenai latar belakang keluargaku.


"Adik perempuanku tinggal di Duluth dia seorang dokter keluarga, Kakakku tinggal di LA dia ahli bedah plastik."


"Ahh begitu rupanya. Orang tuamu punya satu anak yang menjaga mereka. Seorang dokter, sungguh beruntung. Kau terdampar sendirian di hukum, anak tengah yang anti mainstream." Nyonya Austin mengomentari profesi keluarga kami. Aku tertawa di bilang anti mainstream.


"Begitulah Nyonya, aku memang anti mainstream, mungkin karena aku tak begitu nyaman melihat darah aku langsung kabur begitu disuruh kuliah kedokteran."


"Kalau begitu nanti aku akan menelepon Ibumu sendiri, jika mereka ke tempatmu beritahu kami, aku akan mengatur makan bersama." Ibu Allison sekarang bersikap ramah padaku, aku pernah merasakan menjadi musuhnya.


"Saya akan memberitahu Nyonya."


"Panggillah Bibi, nanti beberapa bulan ke depan kau akan memanggilku Ibu. Titip jaga putriku, kadang dia bisa keras bicaranya. Tapi yakinlah dia hanya melihat satu padamu. Dia sudah memilihmu, jalani kehidupan kalian bersama-sama saling menghargai satu sama lain." Sekarang Ibu Allison memberikan pesannya untuk kami.


"Aku akan melakukannya Bibi, terima kasih sudah mempercayaiku. Aku tak akan mengecewakan kalian berdua.


Pembicaraan malam itu berjalan dengan lancar. Semua orang berharap yang terbaik. Bahkan kami sudah sampai ke perencanaan pernikahan. Cincin lamaran sudah kubeli, kemarin saat Allison bertanya tak kuberikan karena aku belum meminta izin ke Ayah dan Ibunya, kali ini aku ingin melakukannya dengan benar, tak sabar mengenalkannya ke keluarga besarku dan melamarnya secara pribadi.


Duluth, semoga tahun baru ini musim dingin tak terlalu dingin. Semoga kenangan indah kami akan terjadi di sana.

__ADS_1


__ADS_2