Mr. Lawyer Fatal Attraction

Mr. Lawyer Fatal Attraction
Part 29. He's my Lawyer


__ADS_3

"Ada apa kau ke sini. Kau mengikutiku." Aku melihat Victor dan menanggapinya dingin.


"Jadi sekarang kau sudah bertemu orang lain yang lebih dariku dan membuatku seperti orang bodoh?! Jika kau tak ingin kita berlanjut kau bisa langsung mengatakannya di depan mukaku, aku punya banyak gadis yang mengejarku. Bukan kau saja yang harus kuperhatikan!"


"Iya yang ini sangat lebih darimu. Kau boleh pergi sekarang."


Setelah kupikir-pikir aku tak akan memberitahunya bahwa aku mendengar dia mengatakan aku adalah taruhan, itu membuatku menjadi korban dan aku tidak suka menjadi korban.


Dia yang harus merasakan menjadi korban!


Sir Xavier tidak mengatakan apapun di depanku. Dia hanya melihat Victor sebentar lalu kembali lagi menikmati sashimi yang ada di depannya. Nampaknya dia tahu kenapa aku melakukan ini.

__ADS_1


"Kau dengar itu man, wanita ini bukan wanita baik-baik. Dia akan memperlakukanmu sama seperti itu juga."


Sir Xavier tersenyum kecil melihat Victor yang coba mempengaruhinya.


"Pecundang, kau kalah bersaing tak mau mengakui. Kau tak mau menerima aku lebih baik darimu? Pergilah, jangan mempermalukan dirimu sendiri." Pedang dihunjamkan tepat ke jantung. Menyakitkan bukan Victor?! Dia mengerakkan sumpitnya menyuruh Victor pergi dengan pandangan meremehkan. Sir Xavier memang keren soal menambah provokasi. Muka Victor langsung memerah.


"Kau pikir kau siapa?!" Victor merangsek maju mencengkram kerah Sir Xavier dan bersiap melayangkan pukulan saat itu juga karena dia sudah termakan emosinya sendiri.


Tapi entah bagaimana Sir Xavier berdiri duluan, pukulan jab dari samping duluan menghantam rahang Victor sehingga dia tersungkur ke lantai. Aku berteriak setengah kaget, setengah gembira.


"Pergilah Victor, sudah kubilang dia jauh lebih baik darimu." Dan aku memuji Sir Xavier dan merendahkan, aku sangat senang melihatnya membayar kontan taruhan yang dilakukannya.

__ADS_1


"Lemah sekali, sekali pukul sampai ke lantai." Sir Xavier setengah mengerutu, mengibaskan lengannya, mungkin ada yang terkilir tadi karena gerakan itu sangat tiba-tiba, kembali duduk dengan gaya yang keren.


"Bangsat, beraninya..." Dia melihat Victor yang masih belum bergerak dari lantai dan menunjuk ke arahnya.


"Kau masih belum pergi? Masih mau menantangku, kita selesaikan di luar?" Sir Xavier menunjuknya dan bangkit dari duduknya. Dia sangat keren.


Sekarang wajah Victor pucat. Dia tak berani, hanya sedetik kemudian dia bangkit dan pergi. Aku langsung tertawa melihat dia terburu-buru pergi. Sir Xavier memperhatikanku yang terlihat senang, senang rasa kecewaku setidaknya terbalas.


"Sekarang kau puas?" Aku sekarang tersenyum lebar, jelas aku puas bisa membalasnya sampai begitu.


"Aku sangat mencintaimu Sir Xavier, kau hebat..." Aku terang-terangan memujinya. Dia meringis dengan perkataanku.

__ADS_1


"Jadi kau belum memutuskannya rupanya."


"Belum, aku membiarkannya mencariku, mengabaikan teleponnya, sampai dia penasaran seperti tadi. Itu tadi tak direncanakan, aku tak tahu dia mengikutiku. Aku tidak menjebakmu di sini. Tapi terima kasih kau menghajarnya untukku, rasanya setengah dari rasa dikhianati itu terbalaskan. Setidaknya aku tidak berada di pihak yang dikalahkan."


__ADS_2