Mr. Lawyer Fatal Attraction

Mr. Lawyer Fatal Attraction
Part 44. Daddy Interrogations


__ADS_3

Sebuah kotak kue sampai ke depanku, aku tahu ini dari siapa. Tidak mewah, tanpa merk apapun. Tapi isinya pasti istimewa. Sebuah cheesecake blueberry buatan Alma, aku mengirimkan ucapan terima kasih ke Alma yang dibalas oleh ledekan Alma aku harusnya mengucapkan terima kasih ke Tuannya.


Kukurimkan pesan singkat ke Xavier, seperti kata Alma, aku harus berterima kasih padanya.


"Terima kasih kuenya."


"Kembali." Dia menjawab sama singkatnya. Dasar jual mahal. Apa masalahmu jika mencoba bicara padaku lebih panjang.


Yah baiklah. Mungkin dia sibuk atau dia mau tetap pada permainan status quonya. Menjadi temanku yang tersayang.


"Nona, yang ini baru diantarkan." Seorang memberiku sebuah bouquet tulip berwarna campuran.


"Hmm siapa?"


"Ini kartunya Nona."


Boleh mengajakmu makan malam. David


Ternyata sebuah undangan resmi dari si iblis tampan David Montgomery. Aku menghela napas, lelah dengan undangan manis seperti ini. Aku ingin seseorang yang tidak perlu kau menebak-nebak apa motifnya. Lelah dengan hubungan baru.


"Bunganya harus saya apakan Nona."


"Taruh di vas depan saja."


Kenapa Montgomery ini harus mengundangku makan malam? Apa yang dia inginkan? Sebuah pengakuan? Dia tak perlu aku mengakuinya bukan? Dia punya banyak wanita yang mengakuinya. Lagipula dia tahu aku tak tertarik.

__ADS_1


Aku punya jadwal pertemuan dengannya beberapa hari lagi untuk meeting akhir sebelum proyek mulai berjalan. Dia bukan orang yang akam meminta klien service bukan?


Aku membalas undangannya dengan sederhana.


📱:Terima kasih atas undangan makan malamnya. Tapi aku sangat sibuk. Lagipula aku sudah punya kekasih.


📱: Masih kekasih, belum suami bukan?


📱: Aku setia, belum ada niat berganti kekasih.


Aku tak melihat balasannya. Nampaknya dia memutuskan untuk mundur, seharusnya dia mengerti.


Ponselku bergetar. Dad menelepon kali ini. Sudah lama dia tidak ke NY, musim kampanye ini pasti membuatnya sibuk.


"Dad, kau mau ke NY?" Aku langsung bertanya, jika dia menelepon kadang berarti dia akan ke NY.


"Ohh ternyata itu. Bagian itu aku tak menyangka juga. Ternyata aku membidik orang yang benar. Tuan Hansen menyukai desainku dan dia yang memperjuangkanku."


"Nichols Hansen bukan? Ayah mengenalnya sedikit, Ayah pernah bertemu dengannya."


"Iya untungnya salah seorang tim staffnya menyukai desainku yang dari media sosial. Istagram dan Facebookku benar-benar berguna saat ini."


"Ohh staffnya mengenalmu dari media sosial."


"Iya, bukan Ayah kan yang mengenalkan kami?"

__ADS_1


"Tidak, Ayah rasa hanya pernah bertemu sekali dengan Hansen ini? Ayah tidak mengenalnya. Jika kau perlu permintaan penambahan investasi Ayah bisa mengurusnya. Kau tak usah khawatirkan itu. Kau fokus ke sisi kreatif, masalah uang, Ayah bisa mengurusnya."


"Iya Paman juga bilang padaku begitu. William dan Paman yang mengurus semua sisi teknis dan keuangan seperti biasa. Aku sama sekali tak kuatir."


"Kalau begitu semua bisa diurus." Ayah diam sebentar. "Bagaimana kabarmu? Ayah dan Mom agak sibuk di sini, tapi bulan depan Dad usahakan ke sana? Kau baik-baik saja?" Ini adalah pertanyaan masalah pribadi. Walau tak sedetail Mom, Ayah tetap bertanya soal kehidupan pribadiku


"Aku baik Dad, tak ada yang perlu di khawatirkan."


"Alton masih menyulitkanmu?"


"Ohh tidak, dia tahu dia salah, mana berani dia menyulitkanku. Lagipula Sie Xavier sudah bantu aku mengurusnya." Andai dia tahu aku naksir pengacaranya bagaimana tanggapannya. Aku agak khawatir soal yang satu ini.


"Tak punya pacar baru?" Aku langsung tertawa.


"Dad, apa Dad akan mengecek latar belakangnya setiap aku punya pacar baru."


"Ohh jelas. Dad harus tahu siapa dia walaupun kau yang memutuskan. Jika ada masalah Dad akan menghajarnya untukmu." Aku tertawa, tapi sekarang aku berpikir bagaimana jika Dad tahu aku menyukai Xavier. Dia pernah bilang urusan teman hidup aku yang memutuskan, tapi benarkah dia selamanya tak ikut campur.


"Kurasa aku sudah kapok dengan pria tampan dan kaya Dad. Kau tahu list kekasihku, apa yang kurang dari mereka. Tapi tak ada yang bagus, selalu ada masalah dengan mereka. Aku akan mencari seperti Ayah saja."


"Apa maksudmu seperti Ayah?"


"Kau menyukai seseorang dengan latar belakang militer?"


"Bukan-bukan, maksudku seorang yang terlihat biasa saja. Tapi bisa diandalkan, setia, seperti Dad setia ke Mom."

__ADS_1


"Siapa yang kau maksud, beri tahu Ayah namanya." Astaga Ayahku ini seperti detektif. Dia langsung mengorekku sampai dapat.


__ADS_2