Mr. Lawyer Fatal Attraction

Mr. Lawyer Fatal Attraction
Part 76. Stubborn Man


__ADS_3

Aku tak menyangka Oscar Haugen malah tertarik membuktikan dirinya lebih baik. Aku salah perhitungan, tadinya kukira apa yang akan terjadi adalah dia tak jadi dengan proyeknya, tapi sekarang dia memutuskan akan berusaha merubah pendirianku.


Atau aku salah? Tadi hanya pridenya, lalu dia nanti akan melupakan ini. Harusnya dia punya pekerjaan lain untuk dilakukan, jika dia benar tak bisa ditolak dan jelas itu sangat mengganguku. Tahu akan jadi begini aku akan pura-pura menjadi gadis bodoh supaya dia menjauhiku.


Aku tak pandai membaca situasi kemarin.


Aku pulang ke rumah dengan kesal sore itu karena rencanaku untuk menolaknya nampaknya gagal. Binggung apa yang harus kulakukan untuk menghindar sekarang. Kesombonganku untuk pamer pencapaian malah berujung dia penasaran, dan aku sekarang kesulitan untuk menanganinya.


Aku menyusul Xavier ke Westbury dan menemukannya sedang berada di rumah kaca.


"Ada apa?" Xavier yang melihatku masuk dengan wajah kusut dan berpikir memutuskan bertanya.


"Kau tahu Oscar itu sepertinya malah ingin berusaha mengubah pendirianku. Aku tak menyangka dia tertarik melakukan hal seperti itu. Apa untungnya baginya. Apa yang ingin dia capai."


"Maksudmu mengubah pendirian?"


"Dia malah nampaknya tersinggung aku menolaknya duluan dengan alasan aku sudah punya pacar. Kupikir dia akan tak jadi dengan proyek kondominiumnya. Tapi malah dia menawariku mengerjakannya.


"Mungkin dia hanya ingin bermain-main, simple saja jika kau tidak ingin melayaninya bermain tak usah ambil proyeknya."


"Begitu...benar juga." Aku tak pernah memikirkan itu karena jelas aku tak pernah menolak proyek sebelumnya.


"Apa kau menolaknya dengan kasar hingga dia tersinggung begitu." Xavier bertanya dengan heran.


"Demi Tuhan tidak. Aku hanya..." Kuceritakan apa yang kukatakan pada Oscar.


"Mungkin dia tidak biasa ditolak. Dan kau diumpankan padanya padahal tidak bisa didapatkan, tambahan lagi kau menolaknya hanya demi seorang profesional profesi seperti aku, mungkin jika aku seorang yang selevel sepertinya dia tidak begitu sakit hati. Dia sensitif juga, dia memang kurang pekerjaan."


Xavier tertawa dan mengerling padaku.


"Sayang, aku hanya punya kebun strawberry, kau yakin." Aku kesal dengan pertanyaan tak berguna itu, kucubit perutnya yang sayangnya sulit kudapatkan karena pakaiannya cukup tebal.


"Cepatlah jadi Senator jadi aku punya muka." Sekarang dia tertawa keras. Aku melipat tanganku padanya.


"As you wish madam. Aku akan bekerja keras." Dia merangkulku sambil bersikap riang.


"Awas kau tanyakan pertanyaan aneh itu lagi."


"Ya-ya baiklah. Maafkan aku, aku hanya takut kau menyesal." Dia merangkul bahuku dan kami bersama-sama berjalan ke rumah sekarang.


Calon suami yang punya karier di politik. Itu akan seperti Ayah. Walau dia tidak punya latar belakang militer, entahlah semoga dia berhasil.


"Apa dia tidak akan lebih tersinggung jika aku menolak mendesign untuknya, Ibuku membuat semua ini rumit, astaga, tuan tanah yang tersinggung aku mengabaikannya?" Aku mengeluh dan Xavier berpikir.


"Hmm, iya dia akan tersinggung, jelas. Tapi itu adalah langsung memotong. Jalan satunya adalah kau pelan-pelan sampai dia lelah sendiri. Atau kau berakting jadi itik buruk rupa jika mau bertemu dengannya hingga dia tak suka padamu."


"Kurasa jalan itu lebih bagus. Akan kelewatan menyinggungnya jika aku menolak begitu saja, aku harus memikirkan posisi Mom juga."


"Hmm, ya baiklah. Jika kau butuh bantuanku untuk muncul beritahu aku. Aku tak akan biarkan dia menganggumu. Tapi ketidaksetujuan Ibumu memang masalah. Kita harus memikirkan cara, apa sebaiknya kita bicara padanya."


"Aku akan bicara padanya saat Thanksgiving nanti."


Begitulah sementara aku memutuskan meneruskan tahap selanjutnya pengerjaan kondominium Oscar.


Saat aku sampai ke Washington DC Mom menyambutku di rumah dengan senyum manis. Dan langsung ke sasaran.


Aku merindukan Thanksgivings setiap tahun. Walau kadang hanya kami bertiga. Makanan tradisional berlimpah dan adalah bagian besar dari perayaan Thanksgiving.


Banyak keluarga memasukkan seluruh keluarga dalam persiapan makanan, aku tiba pada Rabu pagi untuk membantu Mom memasak untuk besok.



Makanan tradisional termasuk kalkun, isian, saus, ubi jalar, roti jagung, kentang tumbuk, dan saus cranberry. Banyak orang menyajikan pai sebagai pencuci mulut di akhir makan.



Rasa pai yang populer adalah labu, pecan, ubi jalar, dan apel. Beberapa keluarga memilih untuk menyajikan makan malam Thanksgiving vegetarian daripada kalkun isi. Mereka mungkin makan kalkun vegetarian, yang bisa dibuat dari tahu. Lainnya makan labu, salad, atau hidangan buah dan sayuran lainnya.


Kami melakukan Wishbone. Beberapa keluarga termasuk memecahkan wishbone kalkun sebagai bagian dari perayaan mereka. Wishbone ditemukan menempel pada daging dada di dada kalkun. Setelah daging diangkat dan wishbone sempat menjadi kering dan rapuh, dua orang masing-masing mengambil salah satu ujung tulang, membuat permohonan, dan menariknya. Siapa pun yang mendapatkan bagian terbesar dari tulang akan mendapatkan keinginannya!

__ADS_1



Sekarang aku sampai jam delapan pagi, setelah aku naik penerbangan paling awal jam 6 pagi dari NY, perjalanan 1 jam 15 menit itu terasa singkat, tapi ini kulakukan setiap tahun.


Mom membukakan pintu untukku dengan senyum lebar.


"Hallo Mom, apa kabarmu. Aku sudah siap memasak tapi jangan suruh aku ke groceries hari ini."


"Tidak, Mom sudah membeli semuanya."


"Baiklah."


"Sayang kita diundang ke acara Thanksgiving keluarga Haugen." Hari Kamis di hari Thanksgiving biasanya khusus untuk keluarga tapi di luar itu entah itu kantor atau keluarga juga menyelenggarakan pesta untuk colega dan sahabat.


"Aku tidak pergi Mom." Langsung kuputuskan harapan Mom. Aku tidak ingin menambah masalah.


"Kau harus pergi. Oscar sengaja menelepon Ibu agar jangan lupa memberitahumu." Tapi Mom tak memberiku kesempatan menolak.


"Justru itulah aku tidak ingin pergi."


"Dia sudah menyerahkan pengaturan rumahnya padamu. Kenapa kau tak pergi." Ibu memburuku.


"Mom aku bangun jam empat hari ini tidakkah kau kasihan padaku yang baru saja datang."


Dad mendengar pertengkaranku dengan Mom. Dia datang untuk melerai kami.


"Kau ini dia baru kembali, kau langsung bertengkar dengannya." Sekarang dia membuat komentar


"Putrimu ini baru datang sudah menbuatku emosi, dia tak tahu apa yang dia lakukan. Putra tertua keluarga Haugen suka padanya tapi dia menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Susah payah Ibu menyiapkannya untukmu."


"Mom aku sudah bilang padamu sebelum ini dengan siapa aku bersama sekarang, kenapa kau tak mendengarkannya. Kita bahkan sudah pernah membicarakan ini, kau lupa kau saat itu sudah setuju."


"Aku setuju saat itu karena tidak ada pìlihan yang lebih baik. Sekarang Mom tak percaya pilihanmu, kau punya jauh yang lebih baik."


"Mom, aku memilih pasangan hidupku sendiri, siapa dan bagaimana aku yang menentukan. Apa kau yang menjalaninya? Jika kau yang menjalaninya kau bisa menentukannya. Aku sudah bicara padamu aku punya kekasih...kenapa kau memberiku kesulitan ini."


"Donna, kau jangan..." Ayah baru akan bicara pada Ibu tapi langsung disela.


"Kau harus pergi, Ibu tak mau tahu alasanmu. Kau harus pergi. Jika kau tak pergi, kau bisa pulang lagi ke NYC sekarang. Aku benar-benar tak mengerti apa bagusnya pengacara itu."


"Mom?! Kau mengusirku?" Aku tak percaya Mom sampai mengusirku karena ini.


"Donna, kau berlebihan kali ini." Ayah menegurnya sekarang.


"Kalian berdua itu sama saja. Sekali-kali dengarkan Mom-mu ini jika kau masih melihat mukaku. Jika tidak terserah padamu." Mom pergi dari ruang depan. Aku berpandangan dengan Ayah.


"Sudahlah kita tak bisa meyakinkannya satu kali. Nanti ada caranya. Kau akan menemukannya. Ini Thanksgiving mengalah sedikit untuk pergi tak apa oke. Ayah akan membantumu menemukan caranya."


Aku pergi dari ruang depan naik ke kamarku sendiri.


Aku menghela napas panjang. Oscar memberikan kesulitan padaku. Dia ingin aku membayar waktunya. Fine akan kulakukan.,


\=\=\=\=


Walaupun Mom berdamai setelahnya dengan menyapaku seperti biasa, aku tahu kata-katanya tidak bisa diabaikan jadi aku terpaksa pergi Sabtu sore itu.


Dandanan malasku pun tercipta, minimalis make up, black gown, sleek look hair. Cukup rapi, tidak ingin mengesankan siapapun.


Mom melihat dandananku tanpa komentar, dan aku tak meminta komentarnya. Bagaimanapun aku terpaksa pergi ke pesta ini. Jika bukan Ayah yang memberikan jalan mundur selangkah dulu karena Thanksgivings aku akan bertengkar dengan Mom dan tidak akan pergi.


Kami sampai, restoran yang di sewa untuk pesta sudah ramai. Sementara Ayah Ibu dan anak-anaknya tampak menyambut tamu.


"Tuan dan Nyonya Austin, senang kalian bisa hadir." Sementara Tuan dan Nyonya Haugen menyambut kami di acara. Berbasa-basi dengan mereka dan beberapa tamu membuatku bosan menunggu.


Tak lama aku mengikuti mereka, ada beberapa orang yang kukenal. Tapi yang memesanku harus ke sini belum keliatan. Kapan dia akan muncul.


"Ohh selamat datang Allison ke pestanya. Aku baru melihatmu." Dia yang memesanku harus datang dia yang baru muncul kemudian. Orang ini hanya ingin mengerjaiku dengan sikapnya yang ramah. Kali ini aku tak akan membalas anggap saja aku membayar 1x waktunya.


"Selamat malam Oscar, senang melihatmu. Terima kasih sudah mengundangku."

__ADS_1


"Kau memang harus diundang, mana mungkin aku tak mengundangmu. Oh ya dimana Ibumu aku harus berterima kasih padanya telah mengajakmu ke sini. Kurasa tadi aku melihatnya dengan Ibuku. Ayo aku ingin menyapanya." Dia bersikap ramah, tapi ramahnya itu hanya akting yang sempurna dia berikan.


Dalam sekejab dia sudah berjalan ke arah tertentu, aku terpaksa mengikutinya. Dia ingin memperlihatkan ini ke orang tua kami? Apa rencananya? Membuatku terpojok.


"Bibi senang melihatmu ada di sini." Dia menyapa Ibuku dengan ramah.


"Oh Oscar, kalian di sini. Kau sudah bertemu Allison rupanya."


"Iya Bibi, senang bertemu dengannya. Kami berteman baik belakangan. Sebentar lagi aku akan sering bersamanya karena sama-sama di NY." Dan dia bahkan merangkulku sekarang.


"Bibi harap kalian sering bertemu juga. Benar bukan Nyonya Haugen."


"Tentu saja, kita berharap mereka dapat berjalan bersama." Ini keterlaluan dia berniat membenturkan aku ke Mom.


"Kalian boleh jalan-jalan bersama. Orang tua di sini punya urusannya masing-masing."


"Baik, kalau begitu kami akan pergi."


Dia menarik tanganku menjauh dari orang tua kami.


"Apa yang kau lakukan sebenarnya?" Aku langsung bertanya padanya. "Kau ingin mempersulitku, kau sangat berhasil sekarang. Kapan kita punya episode begini akrab?"


"Aku berharap kita punya episode lebih akrab di depan Allison, salahkah aku berharap." Dia menjual harapan ke orang tua kami. Dia mengundangku ke pesta ini untuk menjebakku. Tak ada yang lain. Ini semua gara-gara Oscar ingin membalas dendam padaku, dugaanku di pesta ini dia akan menciptakan ilusi dia begitu terpesona denganku dan memberi Ibuku mimpi indah.


Dan Mom akan terus merecokiku dengan itu. Menganggap aku bodoh menolak untuk


"Kau sangat tersinggung aku menolakmu Oscar? Kau bisa mendapatkan siapa saja. Aku menghomati waktumu, waktu itu aku tak tahu Ibuku merencanakan pertemuan kita. Kemarin aku langsung memberitahumu aku sudah punya kekasih agar kau tak merasa aku menipumu. Aku bahkan tak apa kau membatalkan proyek aku sudah bilang padamu."


"Aku tak mengerti apa yang kau bicarakan Allison, aku sedang berusaha berteman dan mendekatkan kita." Ohh ya Tuhan, dia pikir aku putri Cinderella kemarin sore yang percaya dengan dongeng.


Aku akan baik-baik dulu menyelesaikan ini. Jika aku perlu minta maaf aku akan minta maaf.


"Jika kau benar tersinggung aku minta maaf oke. Aku tidak ada maksud menyinggungmu menolakmu sama sekali. Seperti yang kubilang pàdamu aku benar-benar tidak tahu saat itu ada kau."


"Kau tidak perlu minta maaf aku tak tersinggung."


"Lalu kenapa kau melakukan ini."


"Sudah kubilang aku ingin dekat denganmu. Mungkin kita bisa cocok. Aku menganggap pacarmu itu tak ada, dia hanya saingan untuk dikalahkan. Kau cantik malam ini, sudahkah aku memberi pujian untukmu."


"Kau benar-benar ingin memainkan drama ini?"


"Aku tak tahu apa yang kau maksud drama Allison cantik. Apa kata-kataku kurang jelas." Penegasannya membuatku ingin tertawa. Aku berhadapan dengan manipulator sekarang, yang tersinggung karena aku mencoba mengabaikannya demi orang yang dianggapnya jauh lebih rendah darinya.


Aku membenci orang licik ini. Dia pikir aku tak tahu yang ingin dia lakukan setelah dia menyanjungku setinggi-tingginya dia akan membantingku ke bawah.


"Bagaimana kalau kita berjalan bersama saja di pesta ini. Aku benar tak punya teman sekarang." Sekarang bibirku terkatub dengan marah, dia memang ingin mempersulitku. Bagaimana aku menghadapi ini, jika aku tidak mengambil proyek designnya dia akan membenturkanku dengan Mom. Mom yang terobsesi akan langsung terbang dari DC ke NY untuk menceramahiku panjang lebar.


"Aku akan berjalan bersamamu, tapi setelah ini kita sudahi ini oke."


"Sudahi apa Allison? Aku serius ingin tahu kau lebih dalam."


"Apa kau tak punya sesuatu yang lebih penting untuk dilakukan."


"Kau lucu." Dia tertawa, dasar psychopath. Apa yang lucu dengan ini.


"Kau mau ikut pelayaran ke Karibia akhir tahun ini, aku punya superyacht yang bisa menampung 26 tamu untuk berlayar bersama." Sekarang dia pamer dia punya superyacht yang bisa menampung 26 tamu. Superyacht seperti itu mungkin berharga setidaknya 300juta dollar us ( kalau dirupiahin sekitar 4.5 trilyun). Belum lagi membayar kapten dan krunya selama perjalanan. Dia berpikir siapapun akan silau dengan superyatchnya.


"Tidak terima kasih."


"Ada banyak teman akan ikut juga. Bukan kita saja. Pasti menyenangkan jika kau ikut. Kita tidak hanya di laut akan berlabuh juga. Mereka yang ikut membayar, tapi untukmu gratis."


"Tidak, aku ada acara keluarga yang tidak bisa kutinggalkan."


"Kalau begitu nanti aku akan minta izin ke Ibumu, pasti dia mengizinkan." Dia benar-benar membuatku kesal sekarang.


"Oscar aku tidak ingin ikut oke. Kau boleh mengajak yang lain."


"Kemana kekasihmu akan mengajakmu liburan? Hawaii, Miami atau mungkin Paris? Itu membosankan. Ikutlah denganku aku akan mengajakmu keliling dunia."

__ADS_1


Aku merasa malas bicara dengannya lagi. Kesal karena dengan sifatnya ini dia akan benar-benar bicara dengan Ibuku.


bersambung besok \=\=\=\=\=


__ADS_2