
,,,,,,,
POV Xavier
Aku mencarinya di pesta ini demi bertemu dengannya untuk memperbaiki semuanya.
Saat aku bertemu dengannya aku tahu dia masih marah padaku. Berhari-hari kami tak bertemu, bunga dan semua ucapan tak mempan meredakan kemarahannya.
"Bagaimana kabarmu?" Aku menyapanya dengan kalimat sederhana. Sebenarnya aku tak tahu apa yang harus kukatakan padanya. Jadi kupilih kalimat paling aman menurutku.
"Masih hidup tentu saja." Dia membalasku dengan ketus bahkan kemudian langsung menghindari bertatap mata denganku. Satu kalimat saja bisa memancingnya semarah itu. Apa pertanyaanku salah? Apa bertanya kabar itu salah.
"Bisakah kita bicara di luar saja. Berjalanlah bersamaku di restoran luar." Aku perlu bicara dengannya berdua saja. Setidaknya meluruskan semua yang dikatakan oleh David tentang apa yang baru kupahami tentang kesalahanku.
"Acara masih lama aku belum akan pergi. Masih banyak yang harus kusapa." Dan sekarang dia tak memberiku kemudahan. Tapi baiklah, anggap saja kali ini hukumanku aku yang akan mengejarnya.
"Baiklah, aku akan menunggu sampai kau selesai, tapi setelah itu bisakah kita bicara berdua. Kita bisa berjalan bersama. Anggap saja aku penemanmu sementara kau bisa menyapa yang lain." Aku tak ingin dia pergi sendiri menyapa pria-pria tampan itu, aku melihat para pria yang di sapanya. Mereka menatapnya seperti orang kelaparan.
"Baiklah. Aku akan mengenalkanmu sebagai pengacara Ayah yang belum berpengalaman di acara seperti ini. Kau terima dengan itu."
"Baik tak apa." Aku menyetujuinya, aku menjadi pendampingnya di acara ini. Beberapa orang menyapanya dengan akrab. Beberapa nampak melihatnya dengan tatapan terpesona. Dia memang terlihat cantik malam ini. Dan aku berdiri di sampingnya hanya untuk menyaksikan dia begitu akrab dan tersenyum dengan pria lain. Tapi menanggapiku begitu dingin. Sampai sapaanku saja dijawabnya dengan ketus. Apa sekarang dia membenciku.
__ADS_1
Jika aku bisa menariknya sekarang dari sini sekarang akan kulakukan tapi kurasa akan membuat semua kemarahannya semangkin membumbung padaku. Jadi aku memasang diriku sebagai partner dan bersikap sopan selama acara.
Hampir sejam lebih kami berjalan dan bicara dengan orang lain. Akhirnya dia nampaknya selesai, dia melihatku masih dengan pandangan kesal. Wajahnya tampak lelah sudah bicara dengan banyak orang.
Dia mengambil champagne dan hampir meneguknya dalam satu tegukan. Dia menatapku yang masih mengikutinya dengan kesal.
Kurasa malam ini akan ada pertengkaran lainnya.
"Aku sudah selesai, ayo pergi. Kau mau bicara apa? Dimana?" Dia berjalan menjauh dariku. Nampaknya siap pergi kapan saja. Tapi tak akan kubiarkan dia pergi begitu saja kami harus bicara.
Aku menahan tangannya memegangnya erat. Mengabaikan wajah kesal yang ditunjukkannya padaku.
"Ikut aku."
"Jalan berdua."
"Aku membawa mobil sendiri."
"Tinggalkan di sini tak akan hilang." Aku berkeras sekarang. Tapi nampaknya dia memberiku kesempatan. Dia menuruti langkah kakiku ke basement tanpa protes, tapi juga tanpa bicara.
Saat duduk di mobil dia menghempaskan dirinya di kursi sebelahku tanpa menatapku. Tangannya bersilang di dada, bibirnya terkatup erat tanda dia kesal padaku. Apa aku melakukan kesalahan lain tadi, aku sudah menunggunya dengan sabar, mengikutinya demi kesempatan bicara ini.
"Kau masih kesal padaku?" Dia menatapku dengan sengit sekarang. Satu kata saja bisa membuatnya semarah ini.
__ADS_1
"Kesal? Aku marah dengan ketidakperdulianmu." Aku tak perduli, di bagian mana. Jika David di sini dia pasti bisa menjelaskan dengan lancar di mana yang merupakan bagian ketidakpedulianku.
"Aku perduli padamu. Kau tahu itu." Dia menghela napas.
"Bagian mana malam ini kau perduli padaku?" Aku melihatnya, apa maksudnya. Apa yang seharusnya dia ingin aku lakukan. Aku bukan ahli seperti David, jika dia mengharapkanku meramal masalah seperti ini aku menyerah.
Kuingat lagi apa perkataan David yang dia katakan padaku soal kesalahanku. Lebih baik aku bahas dulu yang lalu untuk meluruskan masalah.
"David mengatakan aku bodoh seperti kau mengataiku bodoh. Dia menjelaskan panjang lebar kesalahanku. Aku bukan tak perduli padamu atau tak cemburu soal David, aku memang tak tahu apa yang seharusnya aku lakukan. Aku bukan tak punya rasa cemburu, tapi David temanku, di satu sisi aku juga ingin membuktikan kau benar-benar serius, jadi saat dia mengatakan dia mendekatimu aku tak punya masalah. Tapi jelas aku punya masalah melihat pria-pria itu memandangmu. Tapi jika kau ingin aku menarikmu dari sana bukankah aku membuat keributan tak perlu yang membuatmu malu."
Aku menunggu reaksinya. Tapi dia tetap diam bahkan tak melihatku. Mungkin yang penting bicara dulu.
"Aku minta maaf, jika aku tidak memperhatikan perasaanmu, aku lebih apa Ayahmu setuju duluan dibanding dengan perasaanmu. Itu salah, kata David seharusnya aku tidak membawa-bawa Ayahmu dalam hubungan kita. Dia mengataiku bodoh karena itu. Aku memang kurang pengalaman dalam mengejar wanita."
Sekarang dia melihatku. Mungkin kami bisa berbaikan malam ini.
"Kumohon katakan apa yang kau inginkan dariku. Aku bukan David yang tahu dengan detail apa yang harus kulakukan." Bagaimana aku dikatakan tidak perduli dengannya.
"Kau memang payah." Dia mau bicara denganku sekarang. Itu hal yang bagus, walaupun dia masih marah setidaknya dia masih peduli. Aku mengenggam tangannya.
"Iya aku payah. Playboy David itu mengatakan hal yang sama padaku. Aku lebih baik kau marahi daripada kau diamkan. Aku akan tahu apa yang harus dilakukan jika kau marahi. Sekali lagi kauh lebih baik daripada kau mendiamkanku seperti kemarin.
"Apalagi yang playboy itu katakan."
__ADS_1
"Banyak hal, yang jelas dia bilang kebodohanku tak tertolong." Sekarang dia tersenyum. Akhirnya aku melihat senyumnya lagi setelah sekian lama. "Apa yang menyebabkan kau bilang aku tak perduli padamu malam ini?" Sekarang dia memutar pinggangnya menghadap kearahku. Tangannya menopang kepalanya bertumpu ke sandaran kursi, posisi yang dia gunakan jika dia ingin bermain-main denganku.