
JW Marriot Ess*ex House Manhattan
Grand Salon JW Marriott Essex House itu sudah terisi banyak orang. Aku dengan lincah bergerak di kumpulan orang bersama Nora berbaur dan mengobrol dengan mereka.
Aku tak mencari Xavier tentu saja, dia dia mau dia harus menemukanku tentu saja bukan aku yang harus menemuinya. Dan aku sengaja berbaur dengan pria-pria lumayan tampan bicara dengan akrab dengan mereka. Nora yang ikut denganku melihatku dengan aneh.
"Kau sedang berusaha menggoda Steward?"
"Tidak, aku sedang berusaha membuat cemburu seseorang."
"Siapa?" Aku mengedipkan mataku padanya.
"Kau akan tahu jika dia menghampiriku dan mengajakku bicara dengan wajah terganggu." Aku tak yakin dia akan terlihat terganggu sebenarnya, dia terlalu lama terlatih untuk tak memperlihatkan emosinya. Bisa-bisa aku yang emosi nanti melihat wajah datarnya.
"Begitu. Baik akan kutunggu siapa yang datang nanti. Jadi kau sudah punya pengganti Alton brengsek itu rupanya."
"Jelas saja sudah, mana mungkin aku bersedia memikirkanmu terlalu lama. Tapi masalahnya yang ini masih tahap pendekatan."
"Siapa, apa aku mengenalnya?"
"Kau mengenalnya."
"Ohh ya, sekarang aku benar-benar penasaran." Nora memicingkan matanya padaku. Aku memang belum pernah memberitahunya aku punya hubungan tak jelas dengan Xavier.
__ADS_1
Kami bicara dan menemui beberapa orang kemudian, kali ini Ethan Hawking adalah seorang pengacara muda juga, seorang jenius yang mencapai posisi partner di sebuah law firm ternama NY sebelum usia 35 tahun. Dan kemudian sebuah suara yang kuinginkan muncul.
"Allison, ..." Aku dan Nora berbalik. Ahh sayang sekali, Xavier terlalu sulit untuk dipancing emosinya , jika dia emosipun tak terlihat riaknya suaranya stabil, wajahnya tetap setenang cermin.
"Tuan Xavier." Nora melihatku, dia pasti tak menyangka siapa yang mencariku. "Jadi kau,..." Nora melihatku sekarang dia tahu siapa yang kubicarakan.
"Nona Nora, Ethan senang bisa bertemu dengan kalian di sini." Dia berbasa-basi menyalami Nora dan Ethan sebelum beralih padaku.
"Bisa kita bicara sebentar Al? Maaf Tuan Hawke saya ada perlu dengan Nona Austin."
"Ohh baik, tentu saja." Yang ini aku tak terlalu kenal, akan aneh jika aku harus menggodanya. Lagipula mereka sama-sama pengacara. Para pengacara ini tak mencari masalah satu sama lain diluar ruang sidang.
"Ada apa?" Dia melihatku memasang muka datar padanya.
"Bagaimana kabarmu?" Dasar kaku. Yang pertama di tanyakan adalah sebuah pertanyaan mengecewakan. Untung dia tidak mengatakan, malam ini nampaknya cerah. Bisakah aku mendengar pujian sedikit , pujilah aku cantik ketika kau melihatku, aku sudah menghabiskan waktu untuk berdandan untukmu. Menarik perhatianmu, apa aku sama sekali tak menarik bagimu. Apa dia memang sekaku ini. Sedikit saja apa dia tak bisa melakukan sesuatu dengan benar.
"Masih hidup tentu saja." Aku menjawabnya dengan asal-asalan. "Ada apa?" Wajahnya tetap tak bergeming dengan jawabanku.
"Bisakah kita bicara di luar saja. Berjalanlah bersamaku di restoran luar." Aku tak akan bicara padamu sekarang.
"Acara masih lama aku belum akan pergi. Masih banyak yang harus kusapa." Tidak ada yang mudah baginya. Bahkan aku tak akan menunggu persetujuannya untuk pergi.
__ADS_1
"Baiklah, aku akan menunggu sampai kau selesai, tapi setelah itu bisakah kita bicara berdua. Kita bisa berjalan bersama. Anggap saja aku penemanmu sementara kau bisa menyapa yang lain." Ohh sangat bagus, aku akan menunjukkan padamu betapa ramahnya aku ke orang lain dan berapa banyak penggemarku yang ada di acara ini.
"Baiklah. Aku akan mengenalkanmu sebagai pengacara Ayah yang belum berpengalaman di acara seperti ini. Kau terima dengan itu."
"Baik tak apa." Dan sekarang aku berkesempatan memamerkan rentetan penggemar tampan dan kayaku yang tadinya menyebabkan dia tak percaya diri, sekarang aku bermain-main dengan bersikap ramah dengan mereka. Beberapa diantaranya adalah tipe-tipe bangsat seperti David Montgomery yang bisa menggunakan sentuhan fisik untuk menggoda. Aku biarkan dia melihat semua itu.
Aku sudah susah payah memilihnya, menyingkirkan yang lain tapi dia tidak menghargai itu. Jadi sekarang aku membiarkannya melihat siapa yang dia kecewakan.
Tapi yah, mungkin dia terlalu tenang, mungkin otak logisnya itu berpikir, selama dalam pengawasannya tak ada yang bisa terjadi. Aku jadi kesal sekarang karena dia tak bisa kubuat emosi.
"Aku sudah selesai, ayo pergi..Kau mau bicara apa? Dimana?" Dia tak terpengaruh, aku yang kesal. Aku berjalan pergi tanpa melihatnya.
Kali ini dia meraih tanganku dan menahan tanganku. Aku berbalik melihatnya. Aku merindukannya tapi kekesalanku membuatku bisa memasang wajah datar padanya.
"Ikut aku."
"Kemana?"
"Jalan berdua."
"Aku membawa mobil sendiri."
"Tinggalkan di sini tak akan hilang." Dia berkeras, tangannya mengunci pergelangan tanganku dengan erat tanda dia tak akan melepaskanku. Baiklah kita lihat apa maunya.
Baiklah kita lihat apa yang dia mau. Dan bagaimana dia membicarakan ini.
__ADS_1