
"Maaf aku membuatmu jadi kekasih sewaan Sir Xavier."
"Tak apa. Ayo makan saja. Urusan dengannya harusnya selesai bukan. Jika dia membuat masalah denganmu lagi katakan padaku."
Aku menurutinya, baru kali ini ada seseorang yang menghajar orang lain untukku. Rasanya memang menyenangkan.
"Sir Savier bisa berkelahi?"
"Sedikit..." Mungkin dia merendah untuk perkataan sedikitnya. "Pekerjaanku ada bahayanya, aku perlu tahu membela diri. Sejak bertemu Ayahmu aku jadi punya kesempatan untuk dapat komunitas belajar sedikit soal beladiri."
"Kau bisa berkelahi bukan? Latar belakangmu Ayahmu dengan background militer." Dia lanjut bertanya.
"Sedikit." Aku tersenyum padanya. Jawabanku sama dengannya.
Dari dulu, aku memang bisa berkelahi dan tak takut berkelahi. Makanya belum ada pria yang perlu pasang badan membelaku, bahkan pria takut denganku. Karena aku bisa membela diri sendiri dan membuat masalah jika aku kau membuatku tak senang denganmu. Aku senang mengasah kemampuanku itu.
__ADS_1
Tapi sekarang aku menahan diri untuk menampilkan citra seperti itu, bagaimanapun aku adalah marketing citra perusahaan, klienku banyak dari teman-teman Ayah jika aku bergaya seperti preman tukang pukul, banyak yang akan kesulitan.
"Sedikit? Sedikit itu, agak meragukan. Itu tergantung sudut pandang bukan?" Aku terpingkal mendengar pertanyaan yang tepat sasaran itu, dia tersenyum kecil.
"Aku sudah jadi design interior yang baik dan tidak perlu berkelahi dengan orang, Mom dan Dad tak ingin aku masuk militer, tadinya aku menggebu-gebu ingin masuk militer."
"Ohh jadi akhirnya kenapa kau bisa masuk ke interior design?"
"Aku menekuni design interior karena dikenalkan oleh sepupuku dia masuk ke Bachelor of Architecture, kami berbeda jauh sekitar 12 tahun, lincensed architects bisa 8 sampai 10 tahun, aku mengaku tak cukup kuat IQnya untuk ke sana, bisa jadilah aku memgambil design interior karena aku lebih menyukai membuat design ruangan."
"Iya, kariernyapun ada karena paman bisnisnya ini, dia memulai dari kontraktor perumahan kecil dari saat dia muda, sampai sekarang kami bisa punya tim berpengalaman licensed architects, dan sepupuku yang juga licensed architect yang sudah berpengalaman di firma besar, sekarang memimpin operasional, paman lebih di Marketing, aku fokus di tim marketing design interior, apa kau punya keluarga di bidang hukum Sir?"
"Ohh tidak, keluargaku bekerja di bidang kesehatan, Ibuku perawat, ayah marketing perusahaan farmasi. Aku sudah punya cita-cita dari sekolah menjadi pengacara karena melihat pengacara itu profesi keren."
Kami jadi bercerita masa masa kuliah. Dia ternyata lulusan Yale, Ivy League, kapasitas otaknya untuk mengingat sepertinya besar, sementara aku kuliah di New York School of Interior Design.
"Aku mengagumi semua dari kalian yang benar-benar belajar keras."
__ADS_1
"Kau juga berusaha keras Allison, tanpa deal order dari kalian, tanpa usaha kalian memahami apa keinginan costumer tak ada proyek bukan, semua bagian tidak ada yang dikerjakan tanpa para ujung tombak. Jadi jangan mengecilkan dirimu sendiri." Dia tahu cara memuji yang kusukai.
"Terima kasih atas pujiannya Sir." Aku tersenyum sekarang.
Makan malam yang menyenangkan, aku selalu menyukai makan malam dengannya.
Di akhir malam sebelum tidur pembicaraan kami terbayang di kepalaku, dan terutama bagaimana kesenangan mendapatkan Victor dihajar di depanku itu luar biasa.
Aku menyukai bagaimana dia menanggapi Victor, membuat balasan yang mungkin dia tahu akan aku butuhkan. Apa dia benar tahu? Apa dia sengaja melakukannya untuk menyenangkanku.
Dari kejadian semalam akhirnya aku bisa merasa aku bisa membalaskan sakit hati sekaligus memutuskan hubungan dengan Victor dengan lega. Ditambah sekarang aku tidak berada di pihak yang kalah.
Mungkin benar kata Alma yang kubutuhkan bukan pangeran tampan yang checklistnya lulus semuanya. Yang kubutuhkan adalah orang yang bisa kupercaya, yang tahu membelaku, yang selalu kembali ke rumah.
Kata Alma Sir Xavier itu tampan. Ehmm... sudah kubilang dia tidak jelek.
Baiklah dia kunaikkan skornya jadi 70. Aku tersenyum sendiri lagi karena memikirkannya. Yah kalau dipikir-pikir dia seperti kata Alma, Tuannya tidak jelek.
__ADS_1