Mr. Lawyer Fatal Attraction

Mr. Lawyer Fatal Attraction
Part 70. Dad Preferences


__ADS_3

Xavier kelihatan tidak tidur tenang dari semalam. Nampaknya dia benar khawatir dengan pertemuan kali ini, padahal aku sudah berupaya meyakinkannya tidak akan ada ketidaksetujuan dari Ayah.


Dia bangun dan duduk sarapan dengan pikiran kemana-mana. Dia memang terlalu memikirkan segala sesuatunya.


"Apa sebaiknya aku sendiri sayang, nanti aku dianggap pengecut oleh Ayahmu. Membawamu sebagai tameng padahal ini kesalahanku." Aku tersenyum pada Xavier.


"Bagian mana yang kesalahan?"


"Bagian aku menjadikanmu kekasih tanpa meminta izin Ayahmu. Itu kesalahan cukup berat." Lebih baik kubiarkan saja dia menghadapi Ayah, mungkin ada sesuatu yang ingin Ayah bicarakan padanya, tapi nanti lebih baik aku menelepon Ayah dulu.


"Baiklah terserah padamu jika kau mau begitu." Aku menyerah meyakinkannya.


Dia masih tak percaya Ayah tak menentang kami, sekarang yang merupakan masalah kami adalah Ibu, bukan Ayah lagi. Lagipula mungkin dia tidak berpikir, jika Ayah menentang telepon peringatan sudah sampai dulu sebelum Ayah bertemu dengannya. Buat apa menunggu jika Ayah setuju. Itu tidak masuk akal tapi mungkin dia sedang tak bisa berpikir sekarang.


Aku melepasnya pergi setelah terlebih dahulu bicara pada Ayah.


"Dad."


"Sweetheart ada apa kenapa kau menelepon. Kau sudah bertemu Ibumu bukan? Maaf Ayah tidak bisa bergabung di sarapan kemarin."

__ADS_1


"Tidak apa Dad, kau sudah tahu Ibu membawa Oscar Haugen dan Ibunya untuk bertemu denganku? Nampaknya mereka mau menjodohkanku."


"Benarkah? Dad benar-benar tidak tahu. Ibumu tidak bilang sama sekali. Walaupun dia memang agam tak setuju kau bersama Xavier. Tapi soal itu dia tidak bilang. Lalu apa yang terjadi?"


Aku bercerita soal Oscar yang kuceritakan tentang bisnisku sendiri dan nampaknya tak berani meremehkanku lagi malah dia menawarkan proyek kondominiumnya untuk kukerjakan, intinya adalah aku sukses membawakan diriku dan nampaknya dia memberi tiket perkenalan langsung.


"Anak Ayah memang hebat. Tak ada yang menandinginya. Lalu kau memilih siapa Oscar atau Xavier."


"Apa Ayah tak tahu jawabannya."


"Ayah tahu, tapi mungkin Ibumu tak akan menyerah secepat itu." Benar bukan, Ayah tak keberatan dengan Xavier, dia sudah mengenalnya dengan baik .


"Bagus, kau harus tahu sekali nama baik kita tercoreng memulihkannya lagi sangat sulit. Apalagi di dunia politik itu akan menjadi gunjingan orang-orang. Jika hanya gunjingan tak apa tapi jika dia mempersulit pekerjaanmu itu akan menjadi hal yang lebih sulìt diperbaiki.


"Iya Dad. Aku mengerti maksud Ayah."


"Lalu tujuan kau menelepon Ayah?"


"Dad, boleh kuminta jangan terlalu sulit pada Xavier. Dia terlalu khawatir membuat Ayah marah sehingga dia lupa jika Ayah marah, mana mungkin Ayah membiarkan aku bersamanya. Sebenarnya dia tadinya tak mau menjadikanku kekasih sebelum dia minta izin pada Ayah...." Kuceritakan soal apa yang terjadi sehingga William menghadiahinya bogem mentah.

__ADS_1


"Begitu rupanya. Jadi kau yang memaksanya menjadikanmu kekasih."


"Iya memang aku yang memaksanya. Akhirnua dia mengangkat bendera putih. Aku memberinya pilihan aku yang membunuhnya atau Ayah yang membunuhnya. Ternyata ancaman itu cukup efektif." Sekarang Ayah terpingkal tertawa.


"Ternyata kau bisa mengendalikan Xavier dengan baik. Bagus-bagus, bahkan sekelas Xavierpun bisa takluk jika kau sudah marah." Ayah senang menertawakan kisah cintaku yang penuh perjuangan konyol.


"Jadi itulah makanya jangan terlalu persulit dia oke Ayah...."


"Ayah akan berusaha tidak mempersulitnya tapi itu tergantung mood nanti." Ayah masih melanjutkan tertawa."


"Baiklah kalau begitu nanti Ayah akan meneleponmu lagi oke. Jangan lupa kau ditunggu Rabu pagi di rumah untuk Thanksgivings.


"Iya baik Ayah. Aku sayang Ayah. Ingat jangan terlalu kejam pada Xavier."


"Baiklah-baiklah. Dia akan pulang dengan utuh. Tak akan ada yang dimutilasi."


"Dad! Awas kau!." Ayah tertawa dan menutup telepon.


Mungkin Ayah akan mengerjainya sedikit. Tapi dia akan baik-baik saja.

__ADS_1


__ADS_2