
Tapi keesokan harinya, hari terakhir , tak ada kata bersabar, kesal dengan masalah pribadi, ditambah PMS adalah kondisi dimana tak seorangpun lolos dari omelanku jika mereka berbuat kesalahan.
Aku baru selesai memarahi seseorang karena salah meletakkan lampu hias antara ruang tidur utama dan ruang tamu.
"Sesuatu terjadi? Ba*ngs*at mana lagi yang membuatmu marah Nona Allison." Aku baru akan mengeluarkan nada tinggi, tapi aku kemudian sadar siapa yang berdiri di sampingku. Aku tak boleh marah ke klienku. Seharusnya dia datang besok, besok sudah rapi semuanya. Sekarang aku masih harus mengatur beberapa hal.
"Tidak hanya memarahi orang yang tidak bisa bekerja saja."
"Benarkah?" Dia melihatku dengan seksama.
"Bagaimana hasilnya apa kau suka?" Aku dengan cepat mengalihkan pembicaraan.
"Bagus, ini sangat bagus walau belum rapi seluruhnya tapi sangat bagus. Aku sudah sangat menyukainya. Apa kamarku bisa digunakan hari ini." Aku tersenyum lebar sekarang. Dia menyukainya, syukurlah dia menyukainya. Bagi seorang desain interior ini adalah saat yang dinantikan. Klien kami menyukai desain kami dan sesuai dengan seleranya.
"Bisa, ini akan selesai sore ini. Akan kusuruh orang menbantu Alma membersikan selimuruhnya segera.
"Ini sudah hampir rapi seluruhnya tak usah terlalu marah-marah kw pwgawaimu, jika belum pun masih ada pegawai yang menyelesaikan bungalow bukan."
Alma datang pada kami setelahnya.
__ADS_1
"Sir, Anda mau menginap di sini."
"Iya, katanya kamarku sudah selesai?"
"Iya, kata Nona sudah selesai. Pekerja sudah menyelesaikan semuanya tapi saya sedang membersihkannya sekali lagi. Tapi semua bed cover sudah terpasang." Alma melapor ke Tuannya.
"Aku mau melihatnya." Jadi dia berjalan ke kamarnya sendiri dan membuka pintunya. Berbeda dengan bagian lain rumah itu. Garis design kamar tidur lebih modern, walaupun tidak sepenuhnya mengadopsi minimalis style, lebih tepatnya dia menyukai American style yang lebih elegan, tapi dia tetap menyukai aksen kayu yang solid. Warna dan perpaduan corak monochromatic senada sehingga ruangan terlihat rapi.
Wajahnya terlihat puas. Tidak ada protes nampaknya, karena aku menunggu dia protes, tapi tidak dia berjalan-jalan dan tersenyum. Ini memang semua pilihannya. Aku hanya memilih detail pelengkap dan menyusun penempatannya.
"Baik Sir."
"Terima kasih kau membuatnya begini bagus." Senyumnya terkembang.
"Itu tugasku." Moodku naik 100% mendapatkan pujian dari klien.
"Kutraktir kau makan malam oke. Jangan marah-marah lagi. Kau membawa baju ganti?" Tiba-tiba Sir Xavier jadi baik hati. Alma tersenyum kecil, aku menangkap senyum itu. Jangan-jangan setelah menanamkan ide itu kemarin ke pikiranku dia juga melakukannya dengan Sir Xavier. Tapi dia dengan cepat berlalu dari kamar meninggalkanku dan Sir Xavier.
__ADS_1
"Makan malam?"
"Jika kau punya acara tak apa, itu jika kau mau..." Dia meneliti ekspresiku.
"Ya baiklah. Makan malam, family restaurant saja dengan jeans dan blouse bukan?"
"Iya tentu saja." Aku ikut daripada menangani bangsat itu.
"Baiklah."
"Kalau begitu aku ke kebun dulu. Kita pergi jam 7?"
"Oke."
"Oke." Kami berpisah untuk menyelesaikan pekerjaan masing-masing kemudian.
Dia keluar ruangan dengan cepat. Aku mendapatkan Alma di dapur. Dia tersenyum melihatku.
.
__ADS_1