
POV Allison
Aku membaca kartu di bunga mawar kuning yang Xavier. Yah ini dia memang, menulis kartu ucapan dikirim Xavier, dia bicara langsung pada intinya.
Tambahan ujungnya cukup manis untuk ukuran dia, aku merindukanmu . Yang ini bukan dia. Siapa yang membantunya menambahkan ini? David atau Alma.
Kapan dia pernah mengatakan dia merindukanku, banyak hari yang dilakukannya kalau bisa tidak terlalu sering bertemu denganku. Mungkin dia takut aku kelepasan menggodanya sehingga dia tak bisa bertahan dan menyangka Ayahku akan membunuhnya.
Dasar bodoh, jika begitu berapa banyak mantan pacarku yang sudah mati. Memangnya Ayahku segila itu, semua mantanku masih baik-baik saja kecuali Alton yang mendapat penanganan pribadi dariku. Itupun bukan Ayah yang mengurus tapi aku.
Darimana dia belajar ini, apa David mengajarinya. Kurasa David yang mengajarinya. Bangsat playboy itu pasti memberikan penjelasan yang mencerahkan untuknya. Mereka berdua sahabat yang aneh satu mengambil jalan pertapaan, yang lainnya mengambil jalan ke neraka.
Tapi tidak semudah itu aku memberikan maaf untuknya. Aku penasaran apa dia akan bertahan, tapi untuk sekarang kue dan makanan dari Alma sudah cukup menghiburku. Dan bunganya cantik.
Aku tidak membalas apapun hari ini. Dia harus bertahan dengan ketidakpedulianku, seperti aku bertahan dengan penolakannya. Jika dia cukup mencintaiku maka dia tak akan pergi hanya dengan begini, tapi jika dia tidak bertahan ya aku akan sedih beberapa saat, tapi sudahlah ada yang lain di depan sana.
__ADS_1
Jadi aku tak membalasnya.
Untuk beberapa hari berikutnya dia mengirimkan sesuatu saat makan siang ke kantor. Entah makanan atau minuman yang kusuka, atau Alma di suruh membuatkan sesuatu untukku.
Alma dengan manis memberitahu dengan pesan bahwa Tuannya sedang berusaha mendapatkan maafku. Setelah dia melakukakannya selama seminggu penuh aku mengirimkan pesan singkat,
📱: Terima kasih untuk kirimannya, teman.
Kita akan mulai dari titik teman lagi Xavier, tapi kali ini terbalik, berjuanglah untukku. Tak akan mudah, tapi jika kau berusaha, kau mencintaiku, kau pasti akan mendapatkanku.
📱: Al, mau makan siang atau makan malam. Boleh kita bicara, kujemput di kantor oke? Mungkin aku membuatmu malu jika ada keributan lagi. Karyawanmu masih mengenalku karena dipukul William.
Dia tetap memanggilku Al, sebagaimana dia sering memanggilku.
📱: Tidak bisa. Aku ada pesta di Marriot.
__ADS_1
📱: Oh Marriott, maksudmu pesta kemenangan NY. Kalau begitu kita bertemu di sana.
Rupanya dia punya undangannya juga. Jadi hari ini nampaknya aku akan melihatnya. Baiklah, anggap saja hadiah karena dia sudah mengirimkan banyak hal beberapa hari ini.
Aku bersiap sekarang. Aku perlu berdandan sedikit. Bagaimana dengan sebuah baju merah berpunggung terbuka, aku ingat nampaknya dia suka baju merah. Lagipula ini pesta kemenangan partai di NY, jelas boleh menggunakan warna merah.
Apa sekarang dia cemburu jika ada seseorang yang mendekatiku. Apa dia punya rasa cemburu, baiklah anggap saja si bangsat David itu adalah temannya, dia tahu apa tujuannya dia tidak cemburu tapi bagaimana jika orang lain.
Aku penasaran ingin mengetes hal seperti itu. Apa benar dia punya rasa cemburu. Aku masih tidak kekurangan pengagum sekarang. Bagaimana jika di sana kita mengetesnya sedikit. Sebagai hukuman dia tidak memperhatikanku, atau dia tahu aku akan sengaja mengetesnya.
Dipikir-pikir lagi aku tak perduli dia tahu aku akan mengetesnya. Aku hanya akan mengetesnya saja. Jika dia berlagak tak perduli aku akan tambah memanasinya, dan jika dia benar-benar tak perduli status kita selanjutnya hanya akan jadi teman abadi.
Sederhana, aku hanya akan membuatnya melihat aku akrab dengan pria lain. Jika dia tidak cemburu ya sudah kenapa aku mengharapkannya.
__ADS_1