
"Ayo makan dulu." Aku melihatnya tak berkedip. Dengan bodoh jantungku berdebar-debar kecil. Kupikir aku tak akan secepat ini benar-benar menyukainya. Tapi perasaan ini membuatku merasa tak berdaya.
"Apa? Ada yang salah?" Aku keterlaluan menatapnya.
"Tidak." Aku mengalihkan pandangan.
Ini hanya perasaanku, apa dia merasa begitu juga. Aku merasa seperti gadis bodoh, bagaimana kalau dia menganggapku sama saja seperti sebelumnya. Dia hanya menemaniku nonton seperti katanya.
"Suka dengan kuenya Alma." Lebih suka padamu. Aku ingin menjawab begitu. Tapi aku mungkin tahu bagaimana dia menanggapinya. Dia akan melihatku dan tersenyum kecil, lalu melupakan dia pernah mendengar aku mengatakannya.
Dad! Kenapa pengacaramu ini sulit sekali.
"Suka, tentu saja buatan Alma terbaik."
Seseorang yang tak pernah mengatakan sesuatu dengan kata-kata, tapi membiarkan kau berada di sampingnya dan kapanpun kau meminta bantuan dia bersedia, memastikan kau baik-baik saja. Itu lebih berarti dari kata-kata sanjungan yang belum tentu bermaksud baik.
"Kau merayakan Halloween."
__ADS_1
"Tidak, ada beberapa undangan tapi aku malas ke pesta seperti itu sekarang. Lebih baik istirahat di rumah, pekerjaanku padat, lebih baik membereskan nanti aku jadi punya waktu ke DC untuk Thanksgivings dan Natal lebih lama."
"Ahh iya sudah hampir Thanksgivings dan Natal."
"Kenapa aku merindukan salju sekarang." Dad mengatakan untuk membawanya saat Thanksgivings. Apa itu bisa terjadi? Kami hanya punya waktu dua bulan. "Kau kembali ke rumah orang tuamu?"
"Iya, aku ke Duluth."
"Ahh kota di samping danau. Kurasa di utara sana Oktober sudah ada salju."
"Kau benar, biasanya pertengahan Oktober salju sudah turun. Di sana salju bertahan lebih dari enam bulan sepanjang tahun. Itu kota yang dingin."
"Proyek hotelmu berjalan dengan baik."
"Baik, selain seorang direktur tampannya mencoba mengajakku makan malam."
"Ohh, benarkah?" Tanggapan yang datar.
Apa dia akan cemburu? Atau menunjukkan ketertarikan? Kurasa tidak. Dia hanya akan menunjukkan sedikit ketertarikan dengan cerita ini, seperti "Ohh benarkah." dan berakhir dengan "Kau harus mencobanya." Seakan dia tidak perduli, itu akan mengecewakan.
__ADS_1
"Apa dia tampan dan kaya seperti biasa." Ternyata ada pertanyaan lanjutan. Tapi tanpa nada kecemburuan apapun.
"Tampan, sekelas Alton Mason." Aku berhenti cerita sampai di sini saja, ketidak perduliannya membuatku sakit hati.
"Lalu?" Dia bertanya lagi, kali ini menatap ekspresiku dengan lekat.
"Lalu apa?" Apa yang dia inginkan? Dia ingin aku mendeskripsikan setampan apa pria itu.
"Bukankah itu bagus. Siapa dia?" Aku diam, dia membuatku sakit hati. Dia menerima ajakan nonton dan makan malam tapi masih menjerumuskanku ke orang lain.
Aku menghela napas, dia membuat hariku buruk, kenapa dia melakukan itu? Atau itu untuk membuatku mengatakan aku tak perduli dengan pria itu? Ahhh ... jadi itu. Kalau begitu aku harus menunjukkan sikap yang tepat.
"Perlukah kau bertanya?"
"Aku tak boleh tahu, baiklah." Dia malah tersenyum sendiri. Dia membuatku terpancing untuk marah.
"Sudah kubilang aku sudah cukup dengan model-model tampan dan kaya seperti mereka. Apa kau tidak mengerti!" Peluapan emosiku membuat dia diam. "Dan jangan menguliahiku dengan kata, 'kau tidak bisa menyamakan semua orang', bisa kita sudahi pembicaraan ini!"
"Baik-baik. Kita tak akan membahasnya." Aku mengatupkan bibirku, dia juga diam dengan kediamanku.
__ADS_1