
Sejujurnya Reya masih merasa asing kala menemukan keberadaan Gara dan papanya di ruang makan. Tapi dia bisa apa, perlahan tapi pasti Reya akan selalu dipaksa untuk berusaha terbiasa.
Terbiasa dengan keadaan bahwa papanya memang tidak akan kembali dan bisa makan bersama mamanya di sini. Terbiasa kalau posisi papanya memang sudah tergantikan.
Dia duduk di kursi sebelah Gara, cowok itu sedang makan dengan lahap. Reya tersenyum jahil karena teringat sesuatu dan menatap mamanya.
"Ma, kayaknya mulai besok aku harus berangkat sendiri. Soalnya Gara udah punya pacar, aku gak mau jadi pengganggu di antara mereka."
Gara langsung tersedak dan terbatuk, dia buru-buru meneguk segelas minuman. "Jangan percaya, Ma. Gara cuma anterin teman pulang sekali dan itu bareng sama Reya. Dia sengaja menggunakan alasan itu supaya bisa bebas dan melakukan apapun yang dia suka."
"Gara gak pernah pacaran, Re. Jadi Papa gak percaya kalau kamu mengatakan itu."
Reya membulatkan matanya dan langsung melirik Gara, mana mungkin cowok genit dan terlihat ramah kepada semua perempuan ini tidak pernah pacaran? Reya jelas tidak percaya akan itu.
"Gak mungkin, Pa. Dia pasti pernah pacaran tapi gak menunjukkan di depan Papa aja."
Gara geleng-geleng kepala karena Reya sangat susah untuk percaya apa yang baru saja gadis itu dengarkan.
"Iya Reya, Gara memang agak bandel. Tapi cuma sebatas nongkrong lupa waktu sama teman-teman cowoknya, gak pernah main-main sama perempuan kok."
"Atau jangan-jangan Gara gak normal, makanya gak pernah pacaran?"
"Reya, jangan asal ngomong gitu. Emang ada yang salah kalau Gara gak pernah pacaran?"
Ya sebenarnya tidak ada yang salah, cuma rasanya tidak mungkin jika di jaman sekarang masih ada orang yang tidak pernah pacaran seperti Gara.
"Udah, jangan mencari alasan lagi supaya lo bisa pergi ke kampus sendirian. Pulang dan pergi sama gue itu udah paling benar kok."
Reya menghela nafas pasrah, lagi-lagi usahanya gagal. Apalagi yang harus dia lakukan untuk mendapatkan kembali kebebasannya.
"Steven udah lama gak datang ke sini, biasanya walaupun Mama gak suka sama dia. Steven selalu datang buat pergi ke kampus atau pulang bareng kamu. Kalian juga sering jalan-jalan di hari Minggu ataupun malamnya. Sekarang kenapa enggak?"
Reya meneguk ludahnya susah payah, kenapa juga mamanya harus sadar akan permasalahan antara dirinya dan Steven. Buru-buru Reya memutar ide sebelum mamanya semakin curiga.
"Kita lagi banyak tugas aja kok, Ma. Bulan depan juga udah ujian. Jadi ya memanfaatkan waktu untuk belajar dan nyicil tugas yang banyak banget."
"Beneran cuma karena itu, bukan karena kalian lagi berantem?"
Reya langsung menggeleng. "Enggak berantem."
”Reya emang lagi banyak tugas kok, Ma. Jurusan dia susah banget, untung Gara gak masuk jurusan itu.” Gara ikut membela Reya agar gadis itu tidak panik.
Lalu keadaan menjadi hening dan semua fokus ke makanan masing-masing. Karena mamanya yang mendadak membahas Steven, Reya langsung menjadi tidak berselera makan dan mendadak kenyang.
"Makan dikit walaupun gak selera, perut lo bisa sakit kalau dibiasakan buat gak makan." Gara meletakkan beberapa lauk dan ayam di piring Reya.
Kemudian dia mendekatkan dirinya untuk berbicara dengan nada pelan dan hanya bisa didengarkan oleh Reya. "Kalau cinta bikin lo sakit dan gak semangat buat melakukan apapun. Ya udah lepasin, jangan bikin diri sendiri tersiksa. Lo gak bisa jahat sama orang, tapi lo malah jahat sama diri sendiri."
****
Akhirnya Reya memutuskan untuk berbicara dengan Steven, setelah hampir seminggu menenangkan diri dan berpikir tentang hubungan mereka.
Maka di sini mereka berada, di sebuah cafe yang jauh dari kampus. Karena kalau memilih tempat di sana, jelas keduanya tidak bisa berbicara dengan serius sebab terlalu berisik.
"Aku udah memikirkan semuanya, Steven. Dari awal kamu menerima perjodohan sama Jesika, sebenarnya udah aneh banget. Karena kamu punya pacar dan yang menjadi calon kamu adalah sahabat dekat aku." Tapi kamu menerima itu semua tanpa ada diskusi dulu sama aku.”
Steven langsung memotong ucapan Reya. "Kita udah pernah bahas ini sebelumnya dan aku pikir kamu udah ngerti. Aku gak punya pilihan, kamu tau sendiri kalau aku gak pernah biaa menolak keputusan Mama."
"Kalau gitu selamanya hidup kamu akan diatur oleh Mama kamu dan gak pernah punya kesempatan untuk memilih apapun yang kamu mau. Sekarang kamu udah dewasa dan bukan anak kecil lagi, Steven. Aku tau kalau kamu langsung menolak emang gak sopan. Karena mama kamu juga gak mengenal aku, tapi gak ada salahnya kamu mencoba menjelaskan. Tapi kamu gak melakukan itu beranggapan kalau aku sepele."
"Aku gak pernah mikir gitu, Re. Kamu pacar aku dan aku sayang sama kamu. Mana pernah aku menyepelekan kamu, aku selalu di sini sama kamu walaupun harus menerima perjodohan sama Jesika. Tapi aku gak pernah jatuh cinta sama dia."
Steven terdiam beberapa saat, memberanikan diri menatap Reya. "Soal aku yang ciuman sama Jesika, itu cuma sebatas khilaf. Kamu tau sendiri kalau manusia suka gitu, gak ada yang spesial di antara kita berdua.”
__ADS_1
Bolehkah Reya menertawai Steven sekarang? Dia sebenarnya muak dengan sifat Steven yang tidak pernah mau disalahkan dan seakan menjadi orang yang paling mencintai Reya di dunia ini.
"Keputusan aku untuk sementara kita break aja, Steven. Aku bingung dengan tujuan dari hubungan ini. Aneh banget saat melihat pacar aku yang sibuk antar-jemput perempuan lain, padahal dia punya pacar. Aku sebagai pacar kamu aja mandiri dan bisa kemana-mana sendiri. Tapi kenapa dia manja banget sama kamu?"
Steven meraih tangan Reya dan menggenggamnya. "Jangan langsung ambil keputusan karena aku gak mau break sama kamu. Jangan gini, Re. Aku harus apa supaya kamu gak minta break dari hubungan ini?"
“Gak tau, Steven. Aku gak tau apa mau aku selain menjauh dari kamu beberapa saat. Break bukan berarti kita akan putus, tapi aku mau tau apa yang aku rasakan saat kita berjauhan. Itu juga yang harus kamu pahami nantinya. Jadi, ayo break."
Steven tidak menyerah dan dia masih tidak setuju dengan keinginan Reya menjauh dari dirinya. "Apa kamu udah punya yang baru makanya bisa dengan mudah minta break sama aku? Padahal dulu kamu cinta banget dan gak bisa jauh dari aku walaupun sehari. Tapi sekarang kamu banyak berubah dan terlihat asing di mata aku."
Nah, Steven kembali berakting seolah memang dia yang paling tersakiti di sini sementara Reya tidak.
"Semua orang bakalan berubah karena gak mendapatkan apa yang dia mau. Selama ini aku terlalu berlebih-lebihan sementara kamu biasa aja. Karena kamu juga aku belajar, kalau aku gak boleh terlalu berlebihan jatuh cinta sama kamu."
"Jadi kamu beneran mau break? Gak bakalan menyesal udah mengambil keputusan ini? Aku sama sekali gak setuju sebenarnya, tapi aku juga gak bisa memaksa kamu."
Steven bisa, jelas dia bisa menahan Reya kalau dia mau. Tapi sayangnya Steven memang tidak pernah mau berjuang untuk mengejar Reya.
Sejak awal hubungan ini ada, memang hanya Reya yang terlalu mempertahankan ini semua. Sementara Steven seenaknya, karena dia tau Reya tidak akan pernah pergi.
"Yakin, aku udah mengorbankan banyak waktu untuk memikirkan ini semua dan aku sangat yakin dengan keputusan aku. Kita bakalan break untuk sementara waktu, mungkin sampai kita berdua sadar hal apa yang harus dilakukan selanjutnya."
Steven menganggukkan kepalanya. "Ya udah, cukup sampe di sini pembicaraan kita hari ini. Semoga saat kita berjauhan kamu bisa hidup dengan bahagia. Jangan malas makan, karena penyakit kamu bakalan kambuh nantinya. Aku pamit duluan ya."
Steven melangkah pergi dengan gampang. Lihat saja memang Steven tidak pernah berusaha.
Reya menarik nafas dalam-dalam untuk menghilangkan rasa sesak di dalam dadanya. Dia lega bisa mengatakan itu semua, tapi sakit juga ketika mengingat kalau mulai besok dia tidak boleh lagi menghubungi Steven kapanpun yang Reya inginkan.
****
Saat keluar dari cafe hujan turun begitu deras. Reya senang karena hujan datang di saat yang tepat, sekalipun dirinya ingin menangis sekarang tidak akan terlihat oleh siapapun.
Gara sudah pulang dari tadi, sebab Reya yang meminta dan berkata bahwa dia akan bertemu dan membicarakan soal hubungan dengan Steven.
Jadi tanpa berlama-lama, Reya menerobos hujan dan membiarkan tubuhnya basah. Rasa sesak yang semula dia tahan berakhir dengan air mata yang terjatuh membasahi pipinya.
Namun baru beberapa saat melangkah dan tubuhnya belum terlalu basah. Reya merasa hujan tidak lagi mengenai tubuhnya karena ada seseorang yang memayungi dirinya.
Dia pikir itu Gara, tapi Reya salah dan matanya membulat sempurna.
"Kak Arkan, kenapa Kakak di sini?"
"Kamu yang ngapain hujan-hujanan kayak gini, nanti bisa sakit."
Reya terpaku, Arkan Mahameru adalah ketua BEM yang pernah dia sukai. Cowok ini selalu mempesona dengan karakter dan suaranya yang terdengar lembut. Karena itu juga alasan pertama Reya jatuh cinta kepada seniornya.
"Habis berantem sama pacar, makanya gak mikir dua kali mau terobos hujan kayak gini?"
Reya langsung menggeleng. "Udah lama gak mandi hujan aja, makanya kangen."
Arkan terkekeh dan tersenyum, Reya mengakui bahwa cowok ini sangat manis tapi dia sama sekali tidak merasa berdebar seperti dulu. Artinya Reya memang tidak memiliki perasaan apa-apa lagi.
Karena seluruh hatinya sudah diberikan cuma-cuma kepada Steven, walaupun cowok itu sama sekali gak menghargai keberadaan dirinya.
"Kakak bukan anak kecil yang bakalan langsung percaya dengan alasan kamu barusan."
"Beneran, Kak. Aku sama sekali gak bohong dan gak berantem sama pacar aku. Kakak kenapa ada di sini?"
"Kakak kerja di dekat sini."
Karena sejak menerima penolakan, Reya langsung menjauh dari Arkan dan baru sekarang mereka bisa berbicara dalam jarak sedekat ini.
Arkan dua tahun lebih tua dari dirinya, jelas cowok itu sudah lulus dan memiliki pekerjaan sekarang.
__ADS_1
"Kakak mau anterin aku sampe mana emang? Kakak datang ke sini pasti ada tujuan."
"Jangan bohong lagi, Re. Kakak ada di cafe itu saat kamu sama Steven lagi berdebat. Kakak habis makan dari sana dan mau pulang, lalu Kakak melihat kamu yang sedang berjalan sendirian di bawah hujan."
Reya menunduk, merasa malu karena ketahuan berbohong kepada Arkan.
"Jangan nunduk gitu, Kakak bakalan anterin kamu pulang."
Reya buru-buru menggeleng untuk menolak. "Aku udah basah kuyup gini, gak enak kalau harus naik ke mobil Kakak. Nanti mobilnya jadi basah gara-gara aku."
"Basah doang gak apa-apa kok, Re. Daripada tinggalin kamu dan berakhir demam. Kakak malah merasa semakin bersalah sama diri sendiri.”
Arkan meraih tangan Reya dan menggenggamnya. Tangan Arka terasa sangat hangat untuk Reya yang kedinginan. Mereka berdua berjalan menuju parkiran dan Reya masuk ke dalam mobil Arkan.
Cowok itu memberikan sebuah jaket tebal kepada Reya. "Dipake supaya tubuh kamu gak terlalu kedinginan."
Reya menurut dan menerimanya, lalu tanpa aba-aba Arkan mengeringkan rambut Reya dengan handuk kecil yang ada di mobil. Detik itu juga Reya sadar kalau jantungnya masih bisa berdegup kencang ketika berada dalam jarak sedekat ini sama Arkan.
"Lain kali jangan gini lagi, kamu udah sakit karena permasalahan sama pacar kamu. Jangan biarin semakin sakit ya."
Reya mengigit bibir bawahnya, dia berdoa semoga saja Arkan tidak mendengarkan suara debaran jantungnya yang terasa menggila.
Arkan menghidupkan mesin mobilnya setelah selesai mengeringkan rambut Reya. Selama di perjalanan mereka berdua hanya diam. Reya melihat ke arah luar jendela mobil sebab tidak berani untuk menatap Arkan.
Lalu dia menoleh ketika semua lagu yang sangat familiar terdengar.
"Lagu favorit kamu 'kan? Dulu kamu pernah kasih saran sama Kakak supaya dengerin lagu ini. Setelah didengar ternyata emang nyaman banget. Kamu punya selera musik yang bagus, Re. Setiap dengar lagu ini Kakak selalu ingat sama kamu."
Apa maksud Arkan? Sangat sengaja membuat Reya kembali menaruh perasaan kepada cowok itu.
"Aku sering dengerin lagu ini pas mau tidur aja, ternyata didengerin saat perjalanan pulang dengan kondisi hujan seperti ini juga gak buruk."
"Hmm, lain kali bagi aja playlist lagu kamu sama Kakak. Kita udah lama banget gak ketemu, Kakak juga gak menyangka bakalan melihat kamu. Kakak pikir tadi salah lihat, ternyata emang kamu. Reya tumbuh semakin cantik, walaupun dari dulu emang cantik."
Kalau cantik, kenapa dulu Arkan menolak dirinya? Ingin sekali Reya menanyakan itu tapi dia tidak punya keberanian. Lagian semuanya juga sudah berlalu dan mereka sudah melangkah semakin jauh ke depan.
"Rumah kamu masih di daerah itu 'kan?"
Reya menganggukkan kepalanya, Arkan pernah mengantarkan Reya pulang beberapa kali dulu. Karena usaha Reya untuk modus kepada cowok ini.
"Makasih banyak untuk tumpangannya, Kak. Jaket ini bakalan aku bawa dan aku cuci dulu, nanti aku balikin lagi sama Kakak.” Kata Reya saat mereka berdua sudah sampai di depan rumahnya.
Arkan mengulurkan ponselnya ke arah Reya. "Bagi nomor kamu."
Untuk apa?
Arkan kembali berbicara seakan bisa mendengarkan isi pikiran Reya. "Kalau kita gak saling tukeran kontak, gimana caranya kamu hubungi Kakak untuk mengembalikan jaket ini."
Ah, untuk itu. Hampir saja Reya merasa terlalu percaya diri. Lagian dulu Arkan tidak menyukai dirinya, mana mungkin sekarang tiba-tiba menyukai Reya.
"Udah, Kak." Reya mengembalikan ponsel itu kepada pemiliknya.
"Ya udah Kakak pulang dulu, kalau kamu merasa gak enakan langsung minum obat aja. Oh iya, kamu juga langsung mandi sama keramas biar gak demam."
"Iya, Kak. Kamu hati-hati di jalan."
Saat Reya sampai ke rumah hujan memang sudah berhenti dan hanya tersisa rintik-rintik saja. Dia melambaikan tangannya kala mobil Arkan melaju.
Reya merasa de javu dengan semua hal yang dirasakan kembali hari ini. Reya masuk ke dalam dan menemukan Gara yang berdiri di depan Jendela.
"Lo pulang sama siapa?"
Ternyata benar bahwa Gara melihat semuanya.
__ADS_1
"Kak Arkan, ketua BEM yang pernah nolak gue." Hanya itu yang Reya katakan, kemudian dia langsung menaiki tangga dan meninggalkan Gara yang masih terdiam.
Sial, kenapa mereka berdua harus bertemu lagi?