
"Baru pulang?" tanya Reya kepada Gara yang baru saja masuk ke dalam rumah.
"Iya, sekalian jalan-jalan sama Jessi tadi. Makan malam bareng di luar."
Diam-diam Reya mengulum senyum, Gara seakan sengaja ingin memancing dirinya.
"Kalau baru-baru jadian emang bawaannya pengen ketemu terus. Kayak gue pas awal pacaran sama Steven. Tapi lama-lama bosan juga, ketemu seminggu sekali aja udah lebih dari cukup."
"Hmm, gak tau deh. Kayaknya gue gak akan bosan ketemu cewek gue, soalnya dia cantik banget."
Reya manggut-manggut dan meletakkan majalah yang sedari tadi dia baca.
"Oke gue pegang kata-kata lo malam ini dan kita coba lihat beberapa bulan ke depan. Apa lo masih berpegang pada kalimat yang ucapkan hari ini, atau malah oleng."
"Gue yakin jawaban gue akan tetap sama. Gue baru pertama kali pacaran dan gue mau dia yang satu-satunya jadi pacar gue."
"Sekarang umur lo baru 20 tahun, Gar. Artinya perjalanan hidup lo masih sangat panjang. Usia ideal cowok menikah adalah 25 tahun. Jadi, ya lo pacaran sama Jessi sekitar lima tahun lagi. Lima tahun bukan waktu yang sebentar, lo bakalan ketemu sama banyak orang nantinya. Apa iya perasaan lo gak akan berubah?”
"Iya namanya kalau jodoh, mau gue nikah di umur 30 tahun juga bakalan sama dia."
Reya harus mengacungkan jempol untuk kalimat yang baru saja Gara katakan.
"Oh iya gue mau cerita sama lo, sibuk gak? Atau lo mau istirahat karena capek?"
"Enggak capek kok, gue baru selesai ketemu sama pacar ya kali capek."
"Bagus deh kalau gitu, jadi lo bisa dengerin cerita gue."
"Mau cerita soal apa emang?" tanya Gara yang sudah menyandarkan tubuhnya di sofa.
"Ah, tapi mending lo kasih tau sama pacar lo dulu deh. Kalau udah sampe rumah, gue takutnya dia khawatir lo kenapa-kenapa."
Gara sedikit berdecak, kemudian mengetikkan sesuatu di ponselnya dan meletakkan kembali.
"Udah gue kasih tau dan gue udah aktifkan mode jangan ganggu supaya lo leluasa bercerita. Ya udah sekarang langsung to the point aja, jangan buang-buang waktu gue."
__ADS_1
"Hmm, gue semakin lama dekat sama Kak Arkan. Kenapa rasanya nyaman ya, dia di kantor sama di kehidupan luar kantor benar-benar beda. Gue terpesona sama karisma dia sebagai pimpinan bidang, profesional dan pintar banget. Dia udah banyak kasih sesuatu yang memuaskan ke perusahaan. Makanya gue gak heran kalau dia bisa mendapatkan posisi itu dengan mudah."
"CLBK kali lo sama dia, karena keseringan bareng makanya jadi suka lagi."
"Gue rasa juga gitu, makanya gue cerita sama lo. Mana tau lo bisa kasih gue pencerahan. Kira-kira gue harus apa sekarang?"
Gara sama sekali tidak terlihat terusik dengan pertanyaan yang Reya ajukan. Cowok itu malah berpikir untuk mendapatkan jawaban yang pas.
"Coba pastiin dulu apa yang lo rasakan beneran karena cinta atau sekadar kagum aja. Mana tau cuma karena keseringan ketemu aja makanya lo merasa nyaman. Kalau gak ketemu rasa lo bakalan pudar lagi."
"Tapi kenapa gue yakin banget udah suka sama dia ya."
"Sesuka apa emang?"
"Gue selalu semangat ke kantor karena ada dia. Bahkan rasanya gue pengen lembur supaya lebih lama sama dia. Kalau udah gitu suka gak sih?"
"Alay," ucap Gara. "Cara lo suka sama seseorang selalu berlebihan dan itu enggak baik. Bisa disakiti kapan aja karena cuma perasaan lo yang menggebu-gebu di sini."
"Emang lo gak merasakan itu sama Jessi?"
"Gak ah, Kak Arkan gak mungkin sejahat itu. Masak dia mau nolak gue untuk kedua kalinya."
Gara terkekeh. "Kenapa gak yakin gitu? Gak ada yang tau tentang perasaan seseorang kecuali durinya sendiri, Re. Makanya gue peringatkan lo supaya gak berlebihan. Cowok bisa sakiti lo kapan aja. Lihat kayak Steven, awalnya gimana dia sama lo? Seakan kalian bakalan hidup dan menua bersama 'kan? Tapi ujungnya apa, dia malah tinggalin dan pergi gitu aja. Apa semuanya terasa adil bagi lo?"
Reya sama sekali tidak merasa sakit hati dengan apa yang Gara katakan. Lagian ini hanya bagian dari drama yang sudah diatur bersama dengan Arkan. Jadi mana mungkin dia mencoba membawa perasaan.
"Gitu ya, kalau Gabriel gimana sih sebenernya. Apa dia suka juga sama gue?"
"Kalau suka emangnya lo mau ngapain? Lo kesepian sampe mau pacarin adik tingkat segala?"
"Gak ada salahnya, cuma beda setahun doang. Jadi gimana, Gabriel suka tanyain gue sama lo gak akhir-akhir ini?”
Jika sedari tadi Gara tidak menunjukkan perubahan ekspresi. Sekarang raut wajahnya terlihat memerah. Reya juga melihat Gara yang mengepalkan tangannya.
"Gak pernah nanyain lagi, dia gak serius kayaknya. Lagian gue gak pernah setuju kalau lo sama dia."
__ADS_1
"Kenapa gak setuju, harusnya lo setuju dong karena udah kenal sama dia duluan. Lo udah tau dia gimana dan kita bisa double date nanti."
"Karena gue udah tau dia gimana makanya gue gak setuju sama ide itu. Kalau lo sama dia nantinya malah putus setelah beberapa saat bareng, pasti bakalan berimbas ke persahabatan gue sama dia."
"Alah, kayak anak kecil masalah gitu doang sampe berantem. Ya lo tau sendiri kalau Gabriel sama Kak Arkan saudaraan. Kalau gue gagal lagi sama Kak Arkan masih bisa sama dia. Pasti sifat mereka gak berbeda jauh."
"Gue gak suka teman gue dijadiin sebagai opsi kedua. Gabriel kalau tau ini juga bakalan marah. Lagian lo harus tau kalau Gabriel sukanya sama Jessi, sejak jadi mahasiswa."
Giliran Gara yang berusaha memanasi suasana.
"Ya gak apa-apa, lagian Jessi sekarang udah jadi pacar lo. Makanya gue mau pacarin dia supaya Gabriel move on dan ya semua permasalahan selesai. Lo gak usah khawatir sebegitunya."
Gara berdecak kesal, sedari tadi dia selalu merasa kalah berdebat dengan Reya. Sepertinya gadis ini memang sudah mengatur perdebatan antara mereka berdua.
"Sebenarnya mau lo apa sih? Dari yang awalnya minta saran soal Arkan. Berlanjut ke hubungan gue dan Jessi, terus akhirnya malah bahas Gabriel. Lo lagi capek kerja makanya jadi gak jelas gini?"
Reya meletakkan tangannya di dagu dan berusaha terlihat berpikir serius.
"Mau gue apa ya, lo mau tau apa mau gue?" tanya Reya dan Gara menganggukkan kepalanya.
"Mau gue adalah buat lo kesal malam ini. Eh, tepatnya gue mau tau apa yang sebenarnya yang lo rasakan sama Jessi. Ternyata lo gak seserius dan sesayang itu, buktinya lo masih kesal pas gue bahas Gabriel."
Gara tersenyum miring dan menatap Reya. "Gak usah kepedean, gue gak suka sama lo lagi." Gara mendorong jidat Reya.
"Oh iya, masak sih? Sebenarnya apa yang udah terjadi dan lo sembunyikan dari gue?" tanya Reya berusaha mendekat.
"Gak ada yang gue sembunyiin, aneh-aneh aja lo." Gara berusaha mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Reya tidak menyerah. "Tolong jujur sama gue." Reya memegang kedua sisi wajah Gara, mengunci tatapan mereka berdua.
"Lo ketahuan suka sama gue 'kan? Mama sama Papa tau soal ini, makanya lo menjauh."
Mata Gara sedikit melebar mendengarnya.
"Gue gak salah tebak 'kan?"
__ADS_1