
Reya benar-benar bingung dengan semua yang terjadi sekarang. Berarti sudah terbukti seratus persen bahwa Arkan yang merencanakan ini semua.
Keluarganya bukan tidak tau, tapi dia yang melarang dengan alasan sudah ada Reya yang merawat. Padahal Reya tidak pernah mengatakan hal seperti itu.
"Jadi mau ketemu sama Kak Arkan sekarang?" Di perjalanan pulang mereka Gara bertanya.
"Jadi, gue harus menyelesaikan ini semua sebelum nama gue terdengar lebih jelek lagi di keluarga dia. Bisa-bisanya dia penuh drama kayak gini cuma buat cari perhatian gue."
"Namanya juga udah cinta makanya sampe sebegitunya. Apalagi dia dulu tau lo suka banget sama dia. Dulu lo ngejar-ngejar dia, sampai akhirnya dia ngejar lo balik dan malah lo tolak. Padahal dia udah berharap banyak sama lo dan yakin kalau perasaannya gak akan mendapatkan penolakan."
"Ya namanya juga hidup udah berputar. Dia pikir gue gak sakit hati apa pas dia tolak dulu. Dia balik pas perasaan gue udah gak ada sama sekali buat dia lagi. Dengan dia yang kayak gini bikin gue makin jijik dan gak mau dekat-dekat lagi."
Gara paham apa yang sedang Reya rasakan. Karena walaupun sudah tau hal ini sejak awal kejadian. Gara masih tidak habis pikir kenapa seseorang seperti Arkan sampai punya rencana tidak berguna seperti ini.
Mungkin karena Arkan kebanyakan nonton film dan baca novel, makanya sampai terbawa ke kehidupan nyata.
"Lo mau ngomong gimana sama Arkan, jangan sampe langsung emosi."
"Emosi lah, gue harus meluapkan semua rasa gak nyaman yang gue rasakan sekarang."
Reya langsung keluar dari mobil saat mereka sudah sampai di parkiran. Gara mengejar langkah kaki gadis itu, karena Gara paham kalau Reya memang agak sedikit gila dan perlu diawasi.
"Reya, Kakak pikir kamu gak bakalan datang malam ini. Ternyata kamu datang juga, Kakak senang banget."
Senyuman Arkan yang biasanya terlihat manis di depan Reya, sekarang malah tampak memuakkan dan penuh kepalsuan.
"Maksud Kakak apa merencanakan ini semua."
__ADS_1
"Merencanakan apa?"
Reya terkekeh karena Arkan masih bertahan akting pura-pura bodoh di hadapannya.
"Semua yang terjadi di sini adalah bagian dari skenario yang udah Kakak atur. Kamu pikir aku enggak tau semuanya sekarang?"
"Reya, Kakak benar-benar gak paham apa yang sebenarnya kamu maksud di sini. Skenario apa yang Kakak susun?"
"Kak, gue udah tau semuanya lho. Soal lo yang katanya ditusuk sama seseorang yang lagi melakukan aksi begal, padahal lo sendiri yang sewa preman. Terus lo juga melarang semua keluarga untuk datang dan bilang udah cukup ada gue di sini. Bahkan lo bilang sama sepupu lo, kalau gue yang melarang mereka semua untuk datang dan lo seakan menjadi seseorang yang begitu patuh mendengarkan omongan gue. Kenapa sekarang lo jadi penuh drama kayak gini?"
"Jadi kamu udah tau semuanya, siapa yang kasih tau sama kamu. Gara apa Gabriel?"
"Bukan urusan lo siapa yang kasih tau sama gue. Tapi semua yang ada lo lakuin sekarang sama sekali gak masuk akal dan cuma buang-buang waktu. Lo rela mendapatkan rasa sakit dan lembur kerja cuma buat dapat perhatian dari gue. Apa yang lo lakukan sama sekali gak bermanfaat selain buang-buang waktu."
"Re, seharusnya kamu sadar kalau Kakak emang sesayang itu sama kamu dan rela melakukan apa aja untuk kamu, karena Kakak tulus jatuh cinta sama kamu tanpa berniat untuk main-main."
"Kenapa?" tanya Arkan dengan suara lemah.
"Apanya yang kenapa?"
"Kenapa perasaan kamu untuk Kakak langsung berubah seratus persen? Padahal Kakak tau pas kamu pacaran sama Steven, kamu masih suka cari tau tentang Kakak. Tapi sekarang kenapa semuanya jadi beda banget. Apa karena kedatangan Gara ke kehidupan kamu, sampai akhirnya kamu jatuh cinta sama dia? Apa yang kamu rasakan sekarang adalah sebuah kesalahan Reya. Gak seharusnya kamu jatuh cinta sama Gara walaupun dia cuma adik tiri kamu."
Reya mengepalkan tangannya, bagaimana Arkan bisa tau dan menebak semuanya dengan benar? Padahal selama ini Reya selalu menutupi apa yang dia rasakan.
Nafas Reya naik turun saat sedang mengendalikan emosinya.
"Gak ada sangkut pautnya sama Gara. Sama siapapun gue jatuh cinta sekarang itu hak gue dan gak seharusnya lo ikut campur. Gue rasa udah cukup pembahasan kali ini. Lo udah cukup dewasa dan paham sama semua hal yang gue bilang barusan. Gue gak mau ketemu sama lo lagi."
__ADS_1
Reya keluar dari kamar, ternyata sedari tadi Gara sudah menunggu di depan ruangan.
"Apa yang baru aja lo dengerin gak usah dipercaya. Kak Arkan lagi ngaco banget makanya ngomong kayak gitu."
Gara tidak berkata apa-apa, dia meraih tangan Reya dan memasukkan jari-jarinya untuk menggenggam gadis tersebut.
"Kalau lagi emosi tangannya jangan dikepal karena gak akan bikin lo rileks. Sekarang tenangkan diri lo dan jangan tersulut emosi. Lo udah meluapkan emosi di dalam sana dan seharusnya sekarang udah lega."
Reya terdiam karena Gara sama sekali tidak menyebalkan. Melainkan menjadi sosok yang sangat lembut kepada dirinya.
"Gue mau pulang sekarang, gue capek banget rasanya."
Keduanya melangkah meninggalkan area rawat inap Arkan dan menuju ke parkiran.
"Gar, gue mau tidur sebentar. Kalau udah sampe rumah bangunin gue ya."
"Iya, tidur aja. Gue bakalan stel musik yang enak di dengar."
Reya memiringkan kepalanya ke arah jendela dan memejamkan matanya. Suara musik yang sangat romantis tersebut perlahan mengantarkan Reya ke alam mimpinya.
Gara melirik Reya yang sudah terlelap dan menghela nafas. Dia lega karena Reya akhirnya bisa mengeluarkan rasa tidak nyaman dalam dirinya dan melampiaskan semuanya kepada Arkan. Sebab cowok itu memang pantas mendapatkan itu semua karena ulah dirinya sendiri.
Gara merapikan rambut Reya yang menutupi wajahnya, saat mereka sedang berada di lampu merah. Menatap wajah cantik itu yang sedang terlelap.
"Re, gue akhirnya semakin percaya diri setelah mendengarkan apa yang Kak Arkan bilang tadi. Gue gak salah berpikir kalau lo emang udah suka sama gue. Karena hal itu bukan cuma gue yang bisa lihat sekarang, tapi juga Kak Arkan. Gue cuma harus nunggu sampe lo gak gengsi lagi. Tapi setelah lo mengungkapkan semuanya sama gue, gimana cara kita kasih tau sama Mama dan Papa tentang perasaan yang gak seharusnya ini?"
Iya, harus bagaimana?
__ADS_1
Reya menanyakan itu semua pada diri sendiri, karena dia mendengar semua apa yang Gara katakan barusan.