My Lovely Brother

My Lovely Brother
39. Siapa yang jatuh?


__ADS_3

"Reya, pulang sekarang."


Reya yang sedang berada di coffee shop bersama dengan Renata langsung menghela nafas kala Gara datang dan berdiri di sampingnya duduk.


"Gar, gue bawa mobil hari ini kalau lo enggak tau. Jadi gak usah tungguin gue dan lo bisa langsung pulang sekarang."


"Mama sama Papa minta supaya kita langsung pulang kalau kuliah udah selesai. Bibi gak sempat kasih tau karena lo buru-buru tadi pagi. Gue cuma menyampaikan amanah, kalau lo gak mau pulang dan berakhir dengan buat mama marah gue gak tanggung jawab ya."


"Lo lagi bohong apa enggak? Soalnya lo suka bohong makanya gue jadi susah percaya sama lo."


"Ngapain juga gue bohong, gak ada keuntungan apa-apa yang gue dapat dari itu. Jangan banyak omong lagi, lo pulang sekarang. Gue bakalan mantau mobil lo dari belakang."


Reya meneguk sekali lagi kopinya. "Pasti lo yang kasih tau sama Gara kalau kita ada di sini 'kan?" Reya menaruh curiga kepada Renata. Siapa lagi yang akan memberitahukan cowok ini jika bukan dirinya.


"Hehe, maaf ya. Soalnya gue pikir emang ada sesuatu yang penting. Gak salah juga gue kasih tau, karena emang Gara cari lo ada tujuan."


"Makasih banyak Renata, ini orang emang sengaja matiin HP-nya biar gak gue telepon. Lain kali gue bakalan tanya keberadaan Reya sama lo lagi."


Renata tersenyum malu-malu dan merasa agak salah tingkah saat ditatap oleh Gara.


"Sama-sama, hati-hati lo berdua."


Reya dan Gara keluar dari coffee shop bersama-sama.


"Lo duluan aja, gue gak bakalan kabur kok."


Gara melirik ke arah keberadaan mobil Reya. "Sini kunci mobil lo."


"Buat apaan?"


"Lo gak akan bisa keluarin dari parkiran, posisinya susah dan bisa aja bikin mobil orang lagi lecet."


"Gue bukan anak SMA yang baru bisa bawa mobil. Gue bisa tanganin masalah ini sendiri."


"Keras kepala banget sih dikasih tau, sini gue bantu karena lo gak akan bisa."


"Gue bisa, makanya lihat dulu jangan langsung remehkan gue gitu aja."


Gara memijat kepalanya, kapan Reya bisa menjadi sedikit lebih patuh dibandingkan sekarang.


"Re, gue udah kasih tau lo baik-baik dan mau nolongin tapi lo malah gini. Lo mau kalau uang bulanan bakalan dipotong sama mama buat ganti rugi semua ini? Atau parahnya lagi Mama gak akan pernah kasih lo izin buat bawa mobil ke kampus."


Belum juga perdebatan itu selesai, seseorang yang sangat dikenali oleh keduanya datang.

__ADS_1


"Ada apa ini, daritadi Kakak lihat dari sana kalian berdebat."


Reya melirik gadis yang berada di sebelah Arkan. Gadis yang sama dengan terakhir kali dia bertemu cowok itu.


"Nih kuncinya, awas aja kalau lo juga gagal keluarin mobil gue."


Gara menerima kunci tersebut, Reya menunggu di luar dan berusaha menghindari interaksi dengan Arkan. Kenapa juga dia tidak ikut masuk ke mobil bersama Gara, malah memilih tinggal dalam suasana canggung seperti sekarang.


"Kakak kok ada di sini?" tanya Reya akhirnya basa-basi sebab Arkan tidak kunjung pergi.


"Habis jemput dia, kenalin namanya Tiana sepupunya Kakak."


Wow, jadi selama ini Reya salah menebak dan berpikiran kalau gadis itu adalah seseorang yang menyukai Arkan. Tapi ternyata tebakannya salah. Reya menatap gadis itu dengan tersenyum, namun malah tatapan sinis yang dia dapatkan.


Kenapa dengan gadis itu? Terlihat tidak suka kepada dirinya.


"Oh, aku kira kamu gak punya sepupu cewek."


"Dia masih mahasiswa baru di kampus kalian, jadi wajar kalau kamu enggak tau."


Reya manggut-manggut saja. "Kalian datang ke sini pasti mau santai-santai, jadi silahkan menikmati waktu luang."


"Kamu gak mau ikut gabung, gak ada salahnya kita ngobrol sebagai teman 'kan?"


Reya langsung menuju ke mobilnya karena Gara sudah berhasil mengeluarkan dari parkiran. Kemudian langsung melajukan mobil sembari bertanya-tanya.


Apa Tiana menyukai Arkan?


Gerak-gerik gadis itu terlihat mencurigakan di mata Reya.


****


Sampai jam delapan malam mama dan papa tidak kunjung sampai ke rumah. Itu juga yang membuat Gara dan Reya bingung, jadi untuk apa mereka berdua diminta supaya cepat pulang?


Reya merasa bosan, apalagi acara televisi sama sekali tidak ada yang menarik di matanya.


"Lo bohong lagi, padahal mama sama papa gak bilang gitu."


"Gue juga dapat amanah dari Bibi, Re. Kalau lo gak percaya tanya aja sama dia besok." Gara kesal karena sedari tadi Reya asik menuduh dirinya.


Bibi yang bekerja juga sudah pulang karena jadwal beliau kerja memang hanya sampai sore hari. Jadi Gara memang harus menunggu sampai keesokan hari atau sampai orang tuanya pulang, untuk membuktikan dia tidak berbohong.


"Tau gini gue masih keluyuran sama Renata di luar. Daripada pulang ke rumah dan gak tau mau ngapain, gue bosan banget tau."

__ADS_1


Gara teringat pembicaraan dirinya bersama dengan kedua temannya di kampus tadi. Dia melirik ke arah Reya yang badmood.


"Kriteria cowok yang lo suka gimana?"


Reya mengerutkan dahinya sebagai respon. "Tiba-tiba banget mau tau?"


"Habisnya gue bingung, modelan Kak Arkan aja lo tolak sekarang. Padahal dia sangat berwibawa, sopan, mapan, ganteng lagi. Jadi gue penasaran sama kriteria cowok yang lo suka."


"Kepo banget sih lo jadi orang."


"Tinggal jawab aja kali, lagian pertanyaan gue sama sekali gak susah." Gara mendekati Reya dan duduk di sebelahnya.


"Gue suka sama cowok yang apa ada adanya, jadi diri sendiri dan gak berlebihan."


Gara menyisir rambut ke belakang dengan gaya keren kala mendengarkan itu semua.


"Kayak gue dong, selalu apa adanya dan gak banyak tingkah."


Reya mendorong jidat Gara agar menjauh dari dirinya. "Lo itu tipe kesukaan Renata sama Jessi. Bukan bagian dari kriteria cowok yang gue suka. Jadi jangan kepedean, lo cuma adik gue."


"Hmm, adik ya. Coba kita main tatapan selama setengah jam, siapa yang alihkan pandangan duluan kalah."


"Gak guna banget ajakan lo," tolak Reya. "Kayak bocah SD tau." Ledek Reya.


"Lo takut, bilang aja gak bisa natap mata gue."


"Bukan enggak bisa, tapi gue gak mau melakukan sesuatu yang gue anggap gak penting."


"Yakin? Bilang aja lo takut semakin naksir sama gue. Eh, maksudnya takut kalau selama ini lo ketahuan punya rasa sama gue."


"Gue gak tau jalan pikiran lo sebenarnya gimana sampe bisa sangat percaya diri. Kayaknya juga ada yang salah dari bagian otak lo. Oke kalau itu mau lo, gue bakalan buktiin kalau gue gak pernah punya rasa apa-apa. Setelah ini gue rasa lo harus berhenti karena udah tau jawabannya."


Gara dan Reya duduk berhadapan dan saling menatap satu sama lain. Reya menyalami dalam mata segelap malam tersebut, dia baru tau kalau mata Gara ternyata sangat indah jika dipandang lama dan dalam jarak sedekat ini.


"Re, gue tau ganteng tapi jangan terpesona gitu dong. Bisa jauhan dikit enggak muka lo dari gue?"


Tapi ucapan Gara sepertinya sama sekali tidak didengarkan oleh Reya. Gadis itu seakan terhipnotis dan semakin menyelam lebih jauh. Jarak wajah mereka berdua semakin dekat dan bisa merasakan hembusan nafas satu sama lain menerpa bagian wajah.


"Re."


"Hmm."


Cup.

__ADS_1


__ADS_2