My Lovely Brother

My Lovely Brother
67. Menyelesaikan


__ADS_3

"Kenapa, disuruh pulang sama Gara sekarang juga?" tanya Steven yang sudah pasti mendengarkan percakapan antara Reya dan Gara barusan.


Reya menyimpan ponselnya. "Iya gitu deh, dia terlalu khawatir gue bakalan ketemu sama mantan pacar dia di sini dan gue bakalan kenapa-napa. Padahal gue bukan anak kecil, masih bisa bela diri kok."


"Hmm, mulai besok gue gak usah ajak lo lagi buat selidiki ini. Makasih banyak udah bantu sejauh ini, gue bisa sendiri."


Reya agak tidak suka mendengarkan ucapan Steven. "Kayak sama siapa aja lo ngomong gitu, kalau gue bilang mau bantu pasti bakalan gue bantu. Gak usah segan cuma karena dengerin percakapan gue sama Gara barusan."


Mereka berdiam diri di mobil cukup lama, sehingga waktu yang ditentukan sepertinya sudah tiba.


"Ya udah, ayo turun. Lo harus balik lebih cepat malam ini."


Keduanya masuk ke dalam, Renata tidak bisa membantu karena gadis itu sedang ada acara keluarga. Steven meraih tangan Reya dan menggenggamnya. Gadis itu menatap tangannya yang digenggam sekilas, tidak merasa berdebar sama sekali. Steven melakukan itu untuk melindungi dirinya dan tidak lebih.


Mereka berdua masuk ke dalam klub ketika jam menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Steven langsung menghampiri bartender yang memang sudah menghubungi dirinya tadi.


"Lo yakin dia bakalan datang malam ini 'kan?"


"Dari yang gue dengar gitu, ada temannya yang ulang tahun malam ini dan pastinya dia bakalan datang."


Steven dan Reya duduk agak ke pojokan.


"Lo mau minum?"


"Alkohol gitu? Gue gak pernah konsumsi alkohol kalau lo lupa."


"Sama sekali enggak lupa, gue juga gak minta supaya lo minum alkohol. Di sini ada aneka minuman mocktail kok, Rey. Mau yang mana?"


"Terserah lo aja, yang segar minumannya kalau bisa."


Steven menganggukkan kepalanya dan memberikan pesanan.


"Kenapa lo gak mau coba pas Jesika ajakin berhubungan? Padahal semua cowok pasti menunggu momen itu, apalagi lo lumayan berengsek."


Steven terkekeh karena ucapan Reya yang terlalu frontal. "Ngapain buru-buru kalau ujungnya dia juga bakalan jadi milik gue. Sekalipun berengsek, gue masih bisa nahan diri kok."


"Hmm, bagus deh kalau gitu. Berarti lo masih bisa menghargai perempuan."


"Iya, makanya gue kaget saat tau dia hamil. Mama sama Papa kecewa sama gue, udah dijelasin mereka juga susah percaya dan gak mau mengerti."


"Sabar ya, pasti berat buat lo. Sebentar lagi semuanya bakalan terbongkar. Bangkai sebaik apapun disembunyikan pasti bakalan tercium juga. Jadi lo gak usah khawatir, kebenaran akan selalu menang."

__ADS_1


"Gue juga mengharapkan hal itu."


Beberapa menit kemudian, seseorang yang mereka tunggu datang. Steven memperhatikan cowok yang terlihat asing di matanya. Sebab teman-temannya yang lain sudah dia hafal dan hanya cowok itu yang merupakan wajah baru di antara kelompok itu.


"Gue rasa itu orangnya, Re."


Reya melihat penampilan cowok itu dan menilainya, dia juga tidak pernah melihat cowok ini sebelumnya.


"Anak kampus kita kayaknya ya?" tanya Steven tiba-tiba.


"Gak tau, gue sama sekali gak kenal satupun dari mereka. Emang lo pernah lihat mereka di kampus?"


"Kayak pernah lihat tapi gue lupa dimana."


"Mau samperin sekarang?" tanya Reya kala sadar sekarang sudah pukul sebelas malam dan dia tidak punya banyak waktu untuk berlama-lama di sini.


"Boleh deh."


Baru juga hendak bangun, mereka berdua menghentikan pergerakannya karena kedatangan seseorang yang dikenali.


"Gar, tumben banget lo di sini."


"Bram ulang tahun, ucapin selamat ulang tahun dulu dong buat senior lo."


Reya dan Steven saling menatap, ternyata benar cowok itu berasal dari kampus yang sama dengan mereka dan merupakan senior di jurusannya Gara.


Gara terlihat akrab, sampai melakukan tos dan berjabat tangan.


"Lo sendiri lagi cari siapa kemari? Apa cari mainan karena capek PKL?"


"Enggak lah, Bang. Gue lagi cari Kakak gue, lo lihat cewek ini gak?" Gara menunjukkan foto Reya di HP-nya.


"Kakak lo cantik ternyata, tapi gue gak lihat dia ada di sini. Kapan-kapan boleh kali Gar kenalin sama gue."


"Gue gak mau kenalan sama cowok berengsek kayak lo." Reya keluar dari persembunyiannya bersama dengan Steven.


"Ternyata benar lo ada di sini," ucap Gara sama sekali tidak kaget dengan kehadiran Reya.


"Maksud lo apa ngatain gue berengsek?" tanya Dean tidak terima.


Reya sama sekali tidak takut dan malah berdiri dengan bertolak pinggang di depan Dean. "Lo berhubungan sama Jesika sampe dia hamil. Gue harap lo mengakui perbuatan lo dan tanggung jawab sekarang. Jangan udah berani berbuat tapi gak berani bertanggung jawab."

__ADS_1


"Maksud lo apa sih? Gue sama sekali gak ngerti sama omongan lo sekarang?"


"Gak usah pura-pura bodoh deh, gue udah tau semuanya."


"Oke, gue emang berhubungan sama Jesika. Tapi bukan gue doang yang pernah melakukan itu, dia cewek murahan yang bisa tidur sama siapa aja. Kalau gak percaya tanya aja sama teman-teman gue."


Bugh.


Tanpa aba-aba Steven langsung menerjang karena tidak bisa menahan emosinya lagi.


"Jangan asal ngomong soal Jesika, gue udah cari tau dan selama ini cuma lo yang berhubungan sama dia. Gue tunangan Jesika dan gue mau lo tanggung jawab atas perbuatan lo. Dia sekarang lagi hamil anak lo dan dikurung di rumah."


"Lo tunangan dia, kenapa harus gue yang nikahin dia coba?"


"Lo gila nanya kayak gitu? Itu anak lo jadi wajar kalau lo yang harus tanggung jawab, jangan bersikap kayak orang bodoh deh."


Steven benar-benar emosi, tangannya terkepal dan nafasnya naik turun akibat emosi.


"Gue gak peduli sama apapun yang terjadi sama Jesika. Kita cuma partner senang-senang doang, gue gak mau tanggung jawab."


Bugh.


"Lo gila ya, Gar?"


Gara ikut mengambil alih dan memberikan pukulan ke wajah senior yang selama ini dia hormati.


"Tanggung jawab jangan kayak banci jangan lari dari kesalahan yang udah lo perbuat."


"Berani ya lo sama gue."


Keadaan menjadi tidak kondusif ketika kedua belah pihak saling bertengkar hebat. Reya yang panik langsung berlari keluar dan memanggil satpam supaya perkelahian tersebut bisa dihentikan.


Gara, Steven, dan Dean dibawa ke kantor polisi sebab sudah melakukan keributan.


"Telepon aja mama sama papa, gue sama sekali gak takut kalau bakalan kena marah karena gue gak melakukan kesalahan Reya. Gue hanya sedang membela seseorang yang sudah seharusnya gue bela."


"Lo yakin gak apa-apa?" tanya Reya yang masih ketakutan.


"Aman, mama dan papa gak bakalan marah setelah tau alasannya. Lo jelas kenal mereka berdua dengan baik."


Akhirnya Reya menghubungi kedua orang tuanya, bagaimanapun Gara baru diperbolehkan pulang setelah kedua orang tuanya datang. Sementara Steven dan Dean sedang diwawancarai, karena mereka berdua lah yang memancing keributan pertama kali di klub.

__ADS_1


__ADS_2