My Lovely Brother

My Lovely Brother
45. Begal?


__ADS_3

Arkan yang berlumuran darah, langsung dibawa ke rumah sakit untuk ditangani oleh dokter. Sementara Reya, Gara, dan juga Gabriel yang berada di ruang tunggu masih bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi kepada Arkan?


Kenapa cowok itu tiba-tiba datang dengan kondisi yang bisa dibilang sangat mengerikan.


"Gab, setau lo dia punya musuh enggak?"


Gabriel menggeleng lemah karena walaupun dia membenci Arkan, melihat sepupunya dalam kondisi sekarang dirinya juga merasa sangat panik.


"Arkan gak pernah punya musuh, jadi gak mungkin kalau ada orang yang sengaja mencelakakan dia. Lo tau sendiri kalau sifat Arkan baik banget dan disenangi sama semua orang. Mungkin gue doang yang gak suka sama dia, tapi gue jelas ada di rumah kalian sejak tadi dan gak mungkin juga melakukan sesuatu yang gila kayak gitu."


Gara merangkul bahu Gabriel, memberikan beberapa tepukan supaya sahabatnya terlihat lebih tenang.


"Sebentar lagi kita tanya sama dia, kalau terus menebak kayak gini kita gak bakalan menemukan jawaban. Mungkin aja ada kecelakaan atau orang jahat yang sengaja mencelakakan Arkan."


Reya menghela nafas berat, tubuhnya terasa sangat lemas setelah melihat kondisi Arkan tadi.


"Apa kejadiannya dekat sama rumah kita, makanya dia langsung datang bukan malah ke arah rumah sakit?”


"Bisa jadi, Re."


Pintu ruangan dimana Arkan berada terbuka, dokter berumur sekitar 40 tahunan keluar dari sana.


"Siapa wali Arkan di sini?"


Gabriel langsung bangun dari posisi duduknya. "Saya sepupunya, Arkan. Apa yang terjadi kepada sepupu saya, Dok?"


"Arkan mengalami luka tusuk yang lumayan dalam. Dia ditusuk oleh sesuatu yang bukan pisau, bisa jadi itu sebuah samurai tapi saya belum bisa memastikan dengan jelas. Arkan masih pingsan karena obat bius, beberapa menit lagi dia pasti akan sadar. Tapi saya harap kalian jangan langsung banyak bertanya, karena dia pasti membutuhkan waktu untuk mengingat semua kejadian."


"Berarti Arkan bakalan segera siuman?" tanya Gabriel.


"Benar, masih untung hanya satu tusukan saja makanya Arkan bisa diselamatkan dengan mudah. Untuk kamu walinya Arkan, bisa langsung ke bagian administrasi untuk mengurus pembayaran."


Semua menghela nafas lega dan Gabriel langsung mengikuti langkah sang dokter ke arah administrasi.


"Lo tunggu di sini sebentar, muka lo kelihatan pucat banget. Gue mau beliin minum dulu, jangan kemana-mana."

__ADS_1


Reya menganggukkan kepalanya lemah dan kembali duduk di kursi. Dia merasa sangat bersalah juga tidak tega dengan keadaan Arkan yang seperti ini.


Apa Arkan terluka karena ingin bertemu dengan dirinya? Jika memang karena alasan tersebut, Reya jelas tidak akan bisa memaafkannya dirinya sendiri.


Reya mengintip melalui pintu kaca dan menemukan Arkan yang bergerak. Dia langsung masuk ke dalam dengan langkah pelan.


"Kak Arkan, kamu udah sadar?" tanya Reya dengan sangat hati-hati.


"Reya, Kakak gak salah lihat kalau kamu ada di sini?" tanya Arkan dengan senyuman yang terukir di wajahnya.


Reya mendekati sosok pucat tersebut dengan memegang tangannya. "Iya ini beneran aku, sekarang aku ada di sini buat kamu. Kak Arkan jangan takut lagi karena kamu gak sendirian."


"Kakak kira udah meninggal sekarang, karena lampu di sini terang banget dan ruangannya juga warna putih. Kakak senang kalau ternyata masih hidup dan bisa lihat kamu di sini."


Karena merasa kepalanya juga agak pusing, Reya menarik kursi dan duduk di sana. Dia melihat bagian perut Arkan yang sudah diperban.


"Jangan dilihatin gitu, kayak Kakak sakit parah aja. Udah gak sakit kok, Re. Walaupun rasanya tadi sakit dan perih banget."


"Kak, kenapa ini semua bisa terjadi? Siapa yang melakukan ini sama kamu?"


Reya merasa ngeri mendengarkan cerita Arkan, tapi dia juga merasa sedikit ada yang aneh di sini.


"Emang begalnya daerah mana, Kak? Setau aku kalau di daerah rumah aku gak pernah ada begal karena pengawasan di sana ketat banget. Lagian di jam tadi juga jalanan sekitar situ belum sepi."


"Emang Kakak bilang kalau kejadiannya di dekat rumah kamu?" tanya Arkan.


"Enggak sih, Kak. Cuma kenapa kamu datang ke rumah aku? Makanya aku mikir kejadiannya di dekat sana. Kalau enggak kenapa gak ke rumah sakit langsung?"


"Enggak tau kenapa, Re. Kakak hanya kepikiran nama kamu, lokasinya juga lebih dekat ke rumah kamu dibandingkan ke rumah sakit. Makanya Kakak langsung datang ke sana, karena Kakak takut sendirian dan butuh bantuan."


Reya mulai paham dan percaya dengan semua hal yang Arkan katakan.


Gara kembali dengan membawakan air mineral juga beberapa jenis roti.


"Makan yang manis-manis dulu supaya wajah lo gak pucat banget gitu."

__ADS_1


Reya menerima walaupun sebenarnya sama sekali tidak selera. Jika dia menolak pasti Gara akan mengomel dan marah-marah kepada dirinya.


"Minta HP lo, supaya gue bisa hubungi orang tua lo biar mereka datang ke sini."


"Jangan, kedua orang tua gue lagi di luar kota. Mereka bakalan panik kalau tau anaknya ada di sini dengan kondisi gak bagus. Nanti aja gue telepon sendiri kalau mereka udah pulang."


"Oh, ya udah deh. Tapi yang urus semua berkas lo selama di rumah sakit, udah diurus sama Gabriel."


"Gabriel?" tanya Arkan dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Iya Gabriel sepupu lo, kebetulan tadi dia ada di rumah gue pas kejadian. Sekarang dia ada di kantin rumah sakit karena gak mau ketemu sama lo."


"Oh, bilang terima kasih sama Gabriel. Nanti gue bakalan ganti semua uang yang dia pake untuk bayar gue di rumah sakit."


"Hmm, itu urusan lo berdua kalau soal uang." Gabriel melirik Reya yang sedang makan roti dengan perlahan.


"Gue sama Gabriel mau pulang ke rumah, karena ada laporan praktikum yang harus kita kerjain. Lo juga harus pulang ke rumah sekarang."


Reya menggeleng dan menghentikan makannya. "Gue di sini aja jagain Kak Arkan, kasian dia gak ada yang jagain. Mama sama papanya juga gak ada di sini, kalau Kak Arkan butuh apa-apa gue bisa bantu."


"Gak ada cerita nginap Reya, lo lupa kalau Mama sama Papa mengawasi kita?"


"Tapi mereka udah telepon tadi, jadinya gak akan nelpon lagi. Gue bakalan aman di sini."


"Kalau Mama akhirnya telepon lagi dan lo gak ada di rumah gimana?" tanya Gara masih belum mau kalah untuk membujuk Reya pulang.


"Gue bakalan kasih tau sama Mama kalau gue ada di sini buat temani Kak Arkan. Mama gak akan marah kalau tau alasannya, jadi lo gak usah khawatir."


"Ya udah terserah lo, gue mau pulang sekarang karena ada tugas penting yang harus gue kerjain."


"Hati-hati di jalan Gara, sekarang rawan begal. Gue gak mau lo kenapa-kenapa."


Gara tidak merespon lagi dan langsung keluar dari ruangan. Doa menutup pintu dengan cara yang agak kasar.


Karena Gara kesal, pada kenyataan yang menyatakan kalau dirinya akan selalu kalah dibandingkan Arkan.

__ADS_1


__ADS_2