
Gara menghindar sejak Reya menanyakan pertanyaan malam itu. Setiap berpapasan cowok itu selalu langsung pergi. Kadang kala dia juga pulang terlambat dari jadwal yang seharusnya.
Bukannya membuat Reya berhenti curiga, dengan sifat Gara yang seperti sekarang jelas membuat Reya lebih yakin bahwa memang ada sesuatu yang sedang disembunyikan.
"Gara kemana?" tanya Reya kala pagi Minggu dan cowok itu belum berada di ruang makan.
"Pergi sama Jessi, katanya kelas mereka lagi adain pertemuan kecil-kecilan. Sebab sejak PKL pada sibuk dan gak sempat kumpul."
Reya melirik jam dinding yang baru menunjukkan pukul delapan pagi, masih terlalu awal untuk berkumpul bersama teman-teman kecuali Gara memang menghindar dari dirinya.
"Kamu ada rencana mau kemana hari ini?"
"Belum tau, kenapa emangnya?" Reya balik bertanya.
"Mama cuma tanya aja, Minggu kayak gini harus kamu habiskan dengan bersantai dan jalan-jalan. Hari biasa kamu juga udah sibuk kerja, jadi Minggu waktunya untuk rileks."
"Hmm, nanti Reya coba ajak Renata keluar. Mana tau dia juga bosan di rumah."
"Nah bagus, Mama gak pengen kamu stres karena kebanyakan lihat berkas di kantor."
Reya kemudian mulai makan, karena sejak tadi malam dirinya sudah lapar namun terlalu malas makan lagi.
"Mama sama Papa ada rencana kemana emang?"
"Gak ada sih, mau santai di rumah aja. Udah tua juga mau kemana lagi. Palingan beresin taman belakang."
"Oke, apa Reya gak boleh ikut sama kalian?"
"Gak boleh, untuk hari ini Mama cuma mau berduaan sama Papa."
Reya memutar bola matanya malas. "Ya udah deh, Reya bakalan pergi sama Renata aja. Kalau di rumah takutnya bakalan jadi obat nyamuk, lihat dua orang pacaran halal."
Mama dan Papa hanya tertawa menanggapi ucapan Reya.
"Jangan ngambek gitu, Mama kasih banyak uang jajan buat kamu hari ini. Tapi jangan bilang-bilang sama Gara, takutnya dia malah ngambek."
Senyuman Reya langsung melebar ketika mendengarkan itu. Siapa juga yang tidak suka dengan uang coba.
Reya masuk ke dalam kamar setelah sarapan bersama kedua orang tuanya sembari berbincang-bincang santai.
__ADS_1
Reya merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Mencari kontak Renata dan mulai menelepon.
"Re, lo ada kemana hari ini?"
"Di rumah aja gue, kenapa?"
"Keluar yuk nanti siang, gue bosan di rumah sendirian."
"Boleh, jemput aja gue ke rumah."
"Emang lo gak jalan sama Davin, udah beberapa hari gak cerita soal perkembangan hubungan lo sama dia."
"Gak ada yang berkembang, merosot iya kali. Dia ternyata emang pemain seperti yang lo bilang, pokoknya gue bakalan cerita setelah kita ketemu. Soalnya ceritanya panjang dan lebih baik di omongin secara langsung."
"Oke deh, nanti siang gue jemput lo."
Setelah itu Reya mematikan sambungan telepon, mengambil laptop dan mulai menonton drama korea yang sudah lama dia tinggalkan sebab terlalu sibuk bekerja.
****
"Gue udah coba nembak Davin."
"Kapan? Kok lo gak cerita sama gue."
"Tiga hari yang lalu, terus gue ditolak. Katanya dia emang paling malas berada di dalam sebuah hubungan. Kalau cuma mau sekedar dekat sama dia boleh aja. Istilahnya hubungan tanpa status."
"Tapi lo gak terima apa yang dia bilang 'kan?"
"Gak lah, baik gue jomblo daripada hubungan tanpa status. Gue makin baper sementara dia ke semua cewek begitu. Gue emang gampang jatuh cinta tapi gue gak sebodoh itu kali, Nay. Gue tau apa yang terbaik buat diri gue sendiri. Jadi lo gak usah khawatir akan itu."
"Bagus deh, gue senang dengarnya karena lo bisa berpikir logis."
"Hmm, setelah itu gue menjauh dari dia. Gak pernah makan bareng lagi walaupun dia kadang-kadang suka gabung pas gue makan sama yang lain. Kayaknya perlahan-lahan gue bakalan ilfil."
Reya tertawa, Renata memang sangat mudah suka dan tertarik dengan seseorang. Tapi gadis ini juga seseorang yang sangat mudah melupakan sesuatu yang terasa tidak menarik.
"Rey, itu Steven bukan?"
Saat Reya menoleh matanya bertatapan dengan sang mantan. Tidak ada yang melambaikan tangan kepada Steven, tapi dia malah mendekat dan langsung bergabung bersama Renata dan Reya.
__ADS_1
"Sebulan magang gue gak pernah ketemu sama kalian berdua. Ternyata selalu bareng ya, apa kabar?" tanya Steven basa-basi dengan gaya sok asiknya.
"Baik seperti yang lo lihat, tumben sendirian ke cafe begini. Tunangan lo mana, kok gak diajak?" tanya Renata.
Setelah itu Steven menundukkan kepalanya seakan merasa tidak nyaman dengan pertanyaan yang baru saja Renata ajukan.
"Kenapa lo, malah lemas kayak orang sakit."
Reya hanya diam menunggu mantannya berbicara, sebab dia terlalu malas bersikap sok akrab kepada Steven.
"Jesika hamil, Re."
"Tanggung jawab lah kalau hamil." Renata berkata santai.
"Masalahnya gue gak pernah berhubungan kayak gitu sama dia. Selain sebatas ciuman doang dan sekarang dia hamil. Gue berani sumpah kalau itu bukan anak gue. Tapi keluarganya minta supaya gue bertanggung jawab dan segera menikah dengan Jesika."
"Lah, kok bisa begitu kejadiannya. Emang Jesika dekat sama siapa selama ini? Ada gak cowok yang lo curiga?"
"Enggak ada, dia gak pernah dekat sama siapapun. Tapi beberapa kali Jesika emang minta berhubungan kayak gitu sama gue. Katanya gak apa-apa sebab udah tunangan, tapi gue gak mau. Takutnya kebobolan dan harus berakhir dengan cepat nikah. Setelah mendapatkan penolakan gue, dia jadi lebih sering minum alkohol dan ke klub sendiri. Mungkin karena itu juga dia hamil, berhubungan dengan seseorang saat mabuk. Parahnya dia bilang sama keluarganya kalau itu anak gue."
"Gini, Steven. Bilang aja sama keluarganya kalau itu emang bukan anak lo. Jangan mau menikah sama dia sebelum tes DNA." Reya akhir ikut berbicara. Walaupun Steven berengsek, tapi cowok ini sangat jarang berbohong sampai terlihat frustrasi seperti sekarang.
"Udah gue coba tapi mereka tetap maksa. Mereka bakalan malu kalau kandungan Jesika semakin terlihat. Gue sampe dipukul karena menolak ini semua."
"Gila sih, dari awal Jesika itu emang kurang waras. Coba deh lo ke klub yang sering di datangi sama Jesika. Mana tau ada orang yang lihat dia sering sama siapa di sana. Atau Jesika terekam sama CCTV yang ada."
"Udah gue coba tapi mereka gak kasih akses, karena itu semua bersifat pribadi. Emang tempat berbuat hal gak baik, kecuali ada kecelakaan atau pembunuhan di sana baru diizinkan."
"Terus Jesika gimana sekarang?"
"Dia dikurung di rumah dan gak dikasih izin kemana-mana. Jesika juga harus ngulang magang tahun depan."
"Emang udah berapa usia kandungannya?"
"Mau satu bulan dan selama itu gue jarang banget ketemu sama dia karena sibuk magang dan urusan lainnya. Gue merasa dijebak sama keluarganya juga. Mereka kayaknya tau itu bukan anak gue. Tapi tetap maksa supaya mereka gak merasa malu."
"Kapan lo sama Jesika diminta buat nikah?" Reya ingin tau, karena dirinya merasa mau membantu Steven yang sedang terjebak seperti sekarang.
"Setelah magang gue selesai, Reya. Makanya gue bingung banget harus gimana sekarang. Gue kehilangan arah dan gak tau harus minta tolong sama siapa demi menyelesaikan masalah ini.”
__ADS_1