
Setelah seharian beraktivitas di luar rumah, akhirnya Reya pulang pada pukul sepuluh malam dan tidak menemukan keberadaan mobil Gara di garasi.
Cowok itu belum pulang ke rumah juga?
Masa bodoh dengan hal itu dan Reya beranggapan bahwa lebih baik dirinya tidak langsung bertemu dengan Gara. Gara pasti sedang mengambil kesempatan untuk keluyuran sepuasnya karena kedua orang tua mereka akan pulang terlambat.
Reya masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhnya, lelah juga seharian kesana-kemari tanpa tujuan hanya demi menghindari Gara.
Reya memejamkan matanya dan tertidur sebab merasa sangat lelah. Entah berapa lama dia tertidur hingga terbangun karena suara ponselnya.
"Halo, kenapa lo telepon gue?" tanya Reya setelah melihat siapa yang menelepon. Dia masih memejamkan mata dan menempelkan ponsel tersebut ke telinganya.
"Maaf, Kak. Ini gue Gabriel temannya Gara, Kakak bisa jemput Gara gak? Dia lagi mabuk dan gak mau pulang ke rumah."
Reya melihat jam dinding yang ternyata sudah menunjukkan pukul satu malam.
"Kalian aja yang bawa pulang, gue males banget keluar jam segini. Gak ada juga yang suruh dia mabok segala."
"Dia gak mau pulang masalahnya, Kak. Daritadi sebut nama lo terus, makanya kita telepon karena cuma ini salah satunya cara dia mau pulang.”
Reya berdecak kesal, siapa juga yang bersemangat keluar rumah di jam segini. Apalagi untuk dirinya yang sudah lelah beraktivitas di luar.
"Ya udah bilang sama dia gak usah pulang kalau emang gak mau. Gue gak punya waktu buat ke sana, males ketahuan sama mama nanti.”
"Kak, masak lo tega sama adik lo sendiri."
Reya terdiam dan memejamkan matanya, dia sama sekali tidak merasa mengantuk lagi setelah tertidur tiga jam. Gara jelas bukan adik kandungnya, jadi wajar saja kalau Reya tega melakukan itu.
"Ya udah kirim alamatnya dimana, gue bakalan ke sana."
Reya mematikan sambungan telepon dan bangun dari posisi tidurnya. Melangkah ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Mengambil jaket dan keluar dari kamar.
Dia berjanji akan memarahi cowok itu sepanjang jalan nantinya.
****
Reya sampai ke tempat yang sangat jarang dia kunjungi, mungkin selama hidup baru sekali Reya datang kemari. Bukan untuk mabuk-mabukan, hanya karena temannya pernah merayakan ulang tahun di sini.
Reya tidak suka ke sini karena dia tipe orang yang minum alkohol sedikit saja langsung kesusahan bangun keesokan harinya.
__ADS_1
Meskipun Reya tipe yang suka keramaian, tapi suasana di klub sama sekali tidak cocok dengan dirinya. Reya merasa pusing dengan suara musik yang terlalu keras juga lampu yang seakan merusak matanya.
Reya mencari keberadaan posisi teman Gara. Sampai dia melihat salah satu cowok melambaikan tangan dan satunya lagi sedang menelungkupkan wajahnya di meja bar.
"Gimana ceritanya dia bisa mabuk kayak gini?"
"Gue juga gak tau dia ada masalah apa dan tiba-tiba ajak ke sini."
Reya menarik badan Gara. "Pulang, kalau lo gak ada bakat buat mabuk gak usah coba-coba. Merepotkan gue aja harus jemput lo jam segini."
Gara menatap Reya dengan tatapan mata sayu. "Re, kenapa lo ada di sini?"
"Gue datang buat jemput cowok keras kepala yang gak mau pulang sebelum gue datang."
Gara tersenyum tipis dan tiba-tiba memeluk pinggang Reya. "Jangan menghindar dari gue."
"Hmm, bantuin gue bawa dia ke mobil. Gue gak sanggup kalau harus urusin orang yang badannya segede ini."
Walaupun teman-teman Gara terlihat bingung karena ucapan cowok itu. Mereka tetap membantu membawa Gara ke mobil.
"Lo juga pada pulang, besok masih hari kuliah. Jangan kebiasaan mabuk gak jelas kayak gini, gue aduin juga sama orang tua lo pada."
Cowok bermata sipit bernama Gabriel itu tersenyum saja. "Hati-hati pulangnya, Kak. Kita-kita gak ada yang mabuk kok, cuma ke sini buat temenin Gara doang."
Setelah berpamitan dengan teman-teman Gara, Reya melanjutkan perjalanan untuk pulang ke rumah. Sekarang sudah jam dua pagi, artinya waktu dia dan Gara tertidur tidak lama lagi. Semoga saja saat Reya sampai rumah mama dan papa masih belum pulang.
"Re," panggil Gara tiba-tiba.
"Udah gak usah ngomong dulu, lebih baik lo tiduran aja. Gue gak suka ngomong sama orang yang lagi mabuk."
"Gue gak suka kalau lo menghindar, gue suka sama lo Reya."
Reya harus menghentikan mobilnya ketika Gara memeluk dirinya dan menyandarkan kepalanya di bahu Reya.
"Gue suka aroma parfum yang lo pakai, bikin gue tenang banget. Apa lo gak bisa suka sama gue? Harus gimana lagi cara yang gue lakuin supaya lo bisa balas perasaan gue?"
Reya menghela nafas, apa jangan-jangan alasan Gara mabuk karena dirinya? Tapi mengapa menjadi berlebihan begini, bukankah Gara juga main-main bersama dirinya.
"Lo sekarang udah putus sama Steven, apa bakalan balik sama Kak Arkan? Secara lo punya kesempatan sekarang buat bisa bareng dia lagi."
__ADS_1
Reya mendorong tubuh Gara agar menjauh dari dirinya, namun nyatanya sama sekali tidak berhasil.
"Gar, sana duduk yang bagus. Gue gak bisa nyetir kalau lo kayak gini dan kita gak bisa pulang."
"Gak apa-apa kalau gak bisa pulang ke rumah, gue senang asal bisa sama lo. Apa kita berdua kabur aja dari rumah, supaya gak ada yang bisa menentang hubungan kita lagi?" Gara terus meracau tanpa henti. Reya menjadi bingung sendiri, perlahan-lahan dia kembali menyetir dan berharap kalau Gara tidak kembali berulah.
"Kalau seandainya gue gak jadi adik tiri, apa ada kemungkinan lo bakalan suka sama gue?"
"Enggak, karena gue gak akan pernah kenal sama lo."
Gara terkekeh karena perkataan Reya. "Gue jelas bakalan ngejar lo sampe dapat. Kalau udah gini kita harus apa Reya? Mama sama Papa gak bakalan setuju kalau gue suka sama lo. Tapi gue gak mau berhenti suka sama lo sampe kapanpun.”
"Nah, itu lo tau. Jadi jangan suka sama gue, karena masih banyak perempuan yang ada di luar sana."
Mereka sampai ke rumah juga akhirnya, walaupun Reya membawa mobil dengan kecepatan siput. Selain mengutamakan keselamatan, dia juga kesusahan karena Gara terus memeluk pinggangnya di sepanjang jalan.
Untung saja hanya memeluk tanpa melakukan hal aneh lainnya. Niat awal Reya yang ingin memarahi Gara sepertinya harus ditunda, lagian percuma juga memarahi orang yang sedang tidak sadar seperti ini.
"Lo bisa jalan enggak, gue gak sanggup kalau harus bawa lo ke lantai dua."
Gara menganggukkan kepala, kemudian Reya mengalungkan tangan cowok itu di lehernya. Lalu memeluk pinggang Gara dan berjalan bersama.
Sejujurnya memang agak susah saat menaiki tangga, untungnya Reya berhasil sampai ke lantai dua. Dia membuka pintu kamar Gara, membaringkan cowok itu ke kasurnya.
"Gara, lo apa-apaan kayak gini." Reya berteriak kesal karena Gara menarik tubuhnya.
Alhasil Reya jatuh di atas tubuh Gara, cowok itu memeluk pinggangnya sangat erat sehingga tubuh keduanya menjadi menempel.
"Gar, lepasin gue atau gue bunuh lo malam ini."
Gara sama sekali tidak takut, cowok itu malah semakin mempererat pelukannya. "Sebentar aja Reya, kita seharian gak ketemu dan gue kangen banget sama lo."
"Gar, gue gak nyaman sama posisi kayak gini."
Gara tersenyum tipis. "Lo bohong, jelas banget lo nyaman sampe detak jantung lo bisa gue dengar dengan jelas. Lo juga suka sama gue Reya, makanya gue bakalan tunggu sampe lo ngaku. Atau bisa jadi nanti lo yang bakalan ngejar-ngejar gue."
"Di mimpi lo." Reya sama sekali tidak bisa bergerak. Iseng-iseng dia mencoba menempelkan telinganya di dada Gara dan bisa mendengarkan detak jantung cowok itu.
Ternyata bukan hanya dirinya yang berdebar, namun Gara juga merasakan apa yang Reya rasakan.
__ADS_1
Suara pintu yang terbuka secara tiba-tiba dari luar, membuat Reya menoleh dan membulatkan matanya kaget karena menemukan dua orang sedang melihat dirinya bersama Gara dalam posisi lumayan intim.
"Reya, kamu sedang apa?"