My Lovely Brother

My Lovely Brother
46. Hanya Akting?


__ADS_3

Reya bangun di pagi hari dan menemukan keberadaan dirinya tertidur di sofa, Reya duduk dan mencerna semua yang terjadi.


Ternyata kejadian yang menimpa Arkan bukan sebatas mimpi saja melainkan sebuah fakta yang harus Reya terima. Sekarang masih menunjukkan jam enam pagi ketika alarm HP Reya berbunyi.


Reya mendekat ke arah Arkan, cowok itu masih tertidur dengan lelap.


"Reya," panggil Arkan saat Reya hendak keluar dari ruangan. Karena tidak mungkin dia membangunkan cowok itu yang sedang beristirahat.


"Iya, Kakak perlu sesuatu?"


"Enggak, kamu mau pulang ya?" tanya Arkan dengan suara pelan.


"Iya, Kak. Kebetulan hari ini aku ada jadwal jam delapan pagi. Makanya aku harus pulang ke rumah buat siap-siap. Aku bakalan bilang sama suster untuk sering cek keadaan Kakak di sini. Nanti pulang kuliah siangnya aku bakalan ke sini lagi."


Arkan tersenyum tipis, wajahnya masih terlihat pucat dan lemas.


"Makasih banyak karena kamu udah mau temani Kakak di sini. Kamu yang fokus kuliahnya, kalau kamu sibuk gak usah datang ke sini aja nanti. Kakak gak mau merepotkan kamu."


Reya menggeleng, sama sekali tidak keberatan dengan untuk menjaga Arkan. "Aku cuma ada keperluan sama dosen yang kebetulan ngajar di jam delapan, gak lama juga. Palingan bahas soal magang, karena beliau yang jadi dosen pengawas aku. Gak sibuk sebenarnya, karena minggu depan aku baru mulai magang. Jadi Kak Arkan jangan merasa gak enak gitu."


"Kamu boleh datang ke sini kalau emang gak sibuk dan gak merepotkan. Tapi kalau ada urusan lain, prioritaskan hal lain dulu."


"Iya aman, aku tau apa yang harus dilakukan kok. Oh iya, Kak. Sepupu kamu yang cewek itu tau kalau kamu ada di rumah sakit sekarang?" tanya Reya karena tiba-tiba mengingat hal itu.


"Dia enggak tau, Re. Karena kalau dia tau pasti bakalan ngadu sama orang tua Kakak. Jadi kalau kamu gak sengaja ketemu sama dia, jangan dikasih tau ya. Walaupun Kakak gak yakin kalau kalian bakalan ketemu. Kakak bakalan kasih tau sendiri kalau mama sama papa udah pulang ke sini lagi."


Reya menganggukkan kepalanya paham, dia juga tidak mungkin melawan apa yang Arkan perintahkan. Cowok ini pasti tau apa yang sebenarnya terbaik untuk dirinya.


"Ya udah aku pulang sekarang, Kak. Jangan malas makan dan minum obat supaya luka kamu cepat kering."


"Iya, hati-hati pulangnya."

__ADS_1


Reya keluar dari ruangan, agak kaget kala menemukan keberadaan Gara yang sudah berdiri di sini.


"Sejak kapan lo datang?"


"Baru aja, gue cuma mau memastikan kalau lo udah bangun dan gak akan telat ke kampus."


"Lo datang sendirian, Gabriel mana?" tanya Reya sembari celingak-celinguk ke belakang mencari keberadaan cowok satunya.


"Dia masih di rumah ketiduran, gue ke sini cuma mau jemput lo. Makanya gak langsung bangunin dia."


"Sorry kalau gue buat lo repot, ayo pulang sekarang. Gue traktir bubur buat sarapan."


Gara dan Reya melangkah bersama ke arah parkiran.


"Re, lo sebenarnya merasa ada yang aneh gak sama Kak Arkan? Tepatnya sama kejadian tadi malam sampe dia dapat luka tusuk."


"Enggak, emang aneh gimana? Jaman sekarang kan emang banyak begal dan gak tentu posisinya ada dimana. Mungkin Kak Arkan lagi kena sial aja makanya ketemu sama mereka."


"Perasaan lo aja kali, Kak Arkan beneran luka. Dia bukan pura-pura sakit atau akting aja."


Gara mengalah dan tidak lagi membahas, sebab dia sendiri hanya bingung mengapa semuanya terjadi sangat tiba-tiba seakan sudah direncanakan.


Namun Arkan jelas bukan tipe cowok yang penuh drama seperti itu. Reya juga takkan percaya dengan apa yang Gara katakan. Jadi Gara memutuskan untuk tidak membahas lagi.


"Gar, muka lo kelihatan pucat banget dan kantung mata lo juga parah. Lo semalam gak tidur apa gimana?" tanya Reya ketika memperhatikan Gara yang sedang mengemudi.


"Gue tidur tapi telat, terus harus bangun cepat buat jemput lo di rumah sakit. Mungkin karena itu juga kantung mata gue tebal."


"Mata kuliah hari ini pagi, gue harap lo gak apa-apa selama masuk ke ruang praktikum."


Gara terkekeh. "Gue gak lemah kali, Re. Jangan panik kayak gitu, semuanya bakalan aman."

__ADS_1


"Gue gak panik, gue cuma agak khawatir. Karena bahaya kalau terjadi sesuatu sama lo selama praktikum nanti."


Gara diam-diam tersenyum dan merasa senang karena Reya perhatian kepada dirinya.


"Berhenti di sana aja, Gar. Kita makan bubur di sana, rasanya enak."


Gara menuruti apa yang Reya bilang dan berhenti di tempat yang gadis itu mau. Reya memesan dua porsi dan Gara menunggu, sesekali cowok itu menguap dengan mata yang berair karena masih sangat mengantuk.


"Kalau gue balik ke rumah sakit buat anterin bubur ini ke Kak Arkan, gue pasti bakalan telat sampai kampus. Lo juga pasti gak mau putar balik ke sana lagi."


Nafsu makan Gara langsung hilang kala Reya membahas cowok lain.


"Re, di rumah sakit udah disediakan makanan yang cocok sama dia. Jadi jangan terlalu khawatir, dia pasti bakalan makan dengan baik di sana."


"Luka ditusuk pasti sakit banget, gue sebenarnya gak tega harus tinggalin dia sendirian. Tapi mau gimana lagi gue masih ada urusan yang harus diselesaikan."


"Re, sebenarnya lo suka sama dia apa enggak sih? Daritadi lo kelihatan peduli banget seakan lo pacarnya Kak Arkan." Gara meluapkan emosinya. Dia kesal karena Reya seakan tidak menghargai keberadaannya di sini dan malah asik membahas cowok lain.


"Gar, emang syarat peduli sama seseorang harus suka dulu sama dia? Gue peduli dan khawatir karena Kak Arkan sendirian. Gak ada satupun keluarga yang menemani dia. Wajar kalau gue takut terjadi apa-apa sama dia atau kondisinya makin parah."


Gara meletakkan sendok, tidak selera untuk mencoba bubur yang kata Reya enak.


"Salah dia sendiri yang gak mau hubungi. Menurut lo apa yang dia lakukan masuk akal? Semua orang yang lagi berada di rumah sakit bakalan telepon keluarganya, apalagi seseorang yang berasal dari keluarga cemara kayak dia. Tapi anehnya dia sama sekali gak melakukan itu dan cukup dengan lo yang ada di sana. Itu semua kerasa aneh banget buat gue, Re. Dia sengaja melakukan itu supaya cuma lo ada di sana. Istilah kasarnya dia lagi modus, sayangnya lo terlalu gak peka sama semua itu."


"Gar, orang tua dia lagi ada di luar kota. Mungkin dia gak mau ganggu mereka, wajar kalau Kak Arkan gak mau kedua orang tuanya khawatir dan gak fokus kerja."


"Re, lo kadang emang terlalu baik sama orang lain dan selalu jahat sama gue. Emang lo sendiri udah memastikan kalau keluarga dia di luar kota?"


"Lo sendiri juga udah memastikan belum? Malah marah-marah gak jelas sama gue."


"Gue marah karena gue tau apa yang lo enggak tau. Keluarga dia ada di sini, Gabriel yang kasih tau sama gue. Dia bohong sama lo, dia sengaja sewa preman buat lukai diri sendiri supaya lo kasih simpati. Seseorang yang terlalu sempurna di mata lo itu sebenarnya gak sebaik yang lo kira, Re." Gara menumpahkan seluruh emosi yang sudah dia tahan sejak tadi malam.

__ADS_1


Reya terdiam, jadi Arkan berbohong kepada dirinya? Untuk apa harus dengan cara seperti ini?


__ADS_2