My Lovely Brother

My Lovely Brother
52. Si Profesional


__ADS_3

Akibat ketahuan oleh Arkan kemarin, Reya menjadi lebih hati-hati bahkan tidak menyentuh ponselnya sama sekali saat bekerja seperti sekarang.


Reya terus fokus menatap ke arah layar komputer. Sangat takut bila Arkan akan membahas semua hal yang terjadi. Reya harus mendapatkan posisi aman untuk tiga bulan ke depan.


Reya sampai mengabaikan telepon dari Renata, karena dia takut jika berakhir dengan bergosip.


"Reya, Pak Arkan ajak kita untuk makan siang bareng."


Reya menoleh ke arah Joa yang baru saja masuk ke dalam ruangan setelah bertemu Arkan.


"Kebetulan aku bawa bekal, Mbak. Kalian aja yang makan bareng di sana. Aku makan di sini aja sambil lanjutin desain.”


"Lho, mana bisa gitu. Makan siang ini dikhususkan untuk menyambut kedatangan kamu. Masak kamu yang enggak datang ke sana. Kamu sama aja dengan gak menghargai niat baik Pak Arkan. Kalaupun kamu bawa bekal, bawa aja ke sana dan makan di tempat yang sama."


Reya berpikir beberapa kali, jika dia menolak tawaran Arkan kali ini pasti keadaan akan menjadi semakin rumit. Arkan punya dua alasan untuk menyerang Reya. Semua itu jelas mengarah ke pembahasan Reya yang tidak sopan. Selain membicarakan pimpinannya di lingkungan kantor, Reya juga menolak sambutan yang dilakukan oleh Arkan.


"Sepuluh menit lagi ya, Mbak. Aku harus membereskan ini semua terlebih dulu."


"Ya udah, Mbak tunggu kamu di HRD aja."


Joa meninggalkan Reya di dalam ruangan. Reya segera menyelesaikan pekerjaan, lalu mengambil kota bekal yang sengaja dia bawa demi menghindari Arkan. Kemudian keluar dari ruangan kerja.


Arkan juga sudah ada di sana, Reya menjadi berdebar dan menundukkan kepalanya.


"Karena semuanya udah datang, kita langsung ke tempat makan. Biar punya banyak waktu untuk makan siang dan berbincang.”


Ada sekitar tujuh orang di bawah pimpinan Arkan, termasuk Reya. Mereka semua berjalan menyebrang jalan untuk sampai ke restoran yang memang berada sangat dekat dengan kantor.


Reya ingin menghindari agar tidak berhadapan dengan Arkan ketika makan seperti sekarang. Namun hanya kursi tersebut yang disisakan untuk dirinya. Mau tidak mau Reya duduk dengan rasa tak nyaman.


Arkan santai saja, terlihat profesional. Terlihat sama sekali tidak terusik dengan kehadiran Reya.


"Pesan aja apa yang kalian mau, saya akan traktir kalian. Semua ini saya lakukan untuk menyambut partner kerja baru kalian. Sebagai anak magang, Reya jelas perlu rasa nyaman di lingkungan kantor supaya dia bisa secepatnya beradaptasi. Benar begitu 'kan, Reya?" tanya Arkan dan Reya menganggukkan kepalanya walau agak ragu.

__ADS_1


"Saya enggak mau kalau ada yang membicarakan Reya di belakang. Kalau merasa gak nyaman sama seseorang, langsung saja berterus terang di depannya. Karena membicarakan di belakang orang tersebut juga tidak menghasilkan perubahan. Jadi lebih baik dikasih tau secara langsung, supaya dia bisa introspeksi diri dan memperbaiki kesalahannya."


Reya susah payah meneguk ludahnya, Arkan sedang menyindir dirinya dengan bahasa halus sekarang.


"Reya, kamu juga harus pesan makanan. Gak mungkin perayaan ini dilakukan untuk kamu, tapi malah kamu yang enggak pesan."


"Saya pesan minum aja, Pak. Kebetulan saya udah bawa bekal dari rumah."


"Pesan aja satu jenis makanan, pasti bakalan sanggup kamu makan. Bekal kamu juga gak begitu banyak. Kalau kamu gak pesan makanan saya merasa kurang nyaman."


Akhirnya Reya menurut saja, memesan satu makanan olahan ayam supaya Arkan berhenti mengganggu dirinya.


"Kalian berdua berasal dari kampus yang sama. Apa sebelumnya udah saling mengenal?" tanya Joa. Padahal Reya baru saja menghela nafas lega. Namun ada saja hal lainnya yang membuat dia kembali merasa tidak tenang.


"Iya satu kampus yang sama, cuma kita gak saling kenal. Kamu tau sendiri kalau lingkungan kampus sangat luas. Apalagi saya dan Reya tidak berasal dari fakultas yang sama. Lalu beda angkatan juga, jadi ini pertama kalinya saya bertemu dengan Reya."


"Hmm, benar juga ya. Mana tau kalian pernah ketemu karena satu organisasi atau apa gitu di kampus."


Reya diam saja, malas menanggapi apa yang Arkan katakan. Baguslah jika cowok ini berkata tidak mengenal dirinya.


"Reya, kamu memang pendiam seperti ini ya? Kebanyakan diam dan gak nimbrung sama pembicaraan. Apa kamu masih belum merasa nyaman dengan karyawan di sini?"


Reya menggeleng. "Semua karyawan baik dan saya nyaman, Pak. Cuma mungkin memang perlu sedikit waktu lagi supaya saya bisa leluasa berbicara."


"Kalau ada yang buat kamu gak nyaman langsung bilang aja sama saya. Supaya saya bisa kasih teguran ke karyawan tersebut. Bagaimanapun juga salah adalah pimpinan kamu dan saya orang pertama yang harus memastikan kamu aman."


"Sejauh ini semuanya masih aman kok, Pak."


Reya sama sekali tidak menatap ke arah Arkan. Dia masih agak takut dengan kejadian yang terjadi kemarin.


Setelah makanan diantarkan semuanya fokus kepada makanan masing-masing, begitu juga Reya. Dia sangat kelaparan, karena tadi pagi terbangun agak telat juga tidak sempat sarapan.


"Pelan-pelan Reya, gak akan ada yang mau ambil makanan itu kok."

__ADS_1


Reya menatap Arkan yang sedang tersenyum, kemudian melirik Joa yang menyenggol lengannya dengan senyuman penuh arti.


"Saya agak lapar aja, Pak. Maaf kalau cara makan saya membuat Bapak kurang nyaman."


"Bukan begitu, lebih baik makan pelan-pelan aja daripada kamu kenapa-napa. Kita masih punya banyak waktu istirahat. Jadinya kamu santai aja."


Reya tidak melihat lagi ke wajah karyawan yang lain, sebab mereka pasti akan tersenyum jahil kepada dirinya.


Hingga makanan Reya habis dan mereka semua akan kembali ke kantor.


"Makasih banyak untuk traktiran penyambutan kedatangan saya."


"Sama-sama, Reya. Kamu semangat magangnya supaya dapat nilai yang memuaskan."


Reya dan lainnya pamit ke kantor terlebih dulu sementara Arkan akan membayar tagihan makanan mereka semua.


"Aku gak nyangka kalau Arkan bakalan care banget sama kamu. Padahal sama anak magang sebelumnya dia agak cuek dan gak mengadakan makan-makan segala. Mbak curiga kalau dia suka sama kamu."


"Pak Arkan begitu karena kemungkinan aku berasal dari kampus yang sama kayak dia. Jadi istilahnya dia sedang memperlakukan adik satu almamaternya dengan baik."


"Masak sih, Mbak gak melihat itu. Dia kelihatan tulus sama kamu. Suka senyum juga pas lihat kamu, cuma kamunya aja terlalu cuek dan gak lihat dia."


"Entahlah Mbak, ini baru hari kedua aku di sini. Sama sekali gak memikirkan itu dan gak mungkin juga Pak Arkan bisa naksir orang secepat itu."


"Gak ada yang enggak mungkin di dunia ini Reya. Wajar aja kalau Pak Arkan suka sama kamu. Cantik iya, wangi iya, pintar juga iya. Tapi saran Mbak kalau akhirnya Pak Arkan mengejar kamu secara terang-terangan, jangan langsung diterima. Karena kalau kamu pacaran sama Pak Arkan selama magang, karyawan di sini bakalan membicarakan kamu. Jadi tunggu aja sampai magangnya selesai."


"Mbak, gak akan ada apa-apa antara aku sama Pak Arkan sampai magang ini selesai. Aku juga paling anti sama kisah percintaan di kantor."


Joa tersenyum usil dan menunjuk-nunjuk ke wajah Reya. "Jangan sampe kamu jilat ludah sendiri, bahaya lho."


Tidak akan. Seandainya Joa tau bahwa bos yang sedang dibanggakan adalah seseorang yang penuh drama dan sudah ditolak oleh Reya.


Akan bagaimana coba ekspresi Joa.

__ADS_1


__ADS_2